PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA
Pendekatan Bahasan Seni Rupa
Batasan
pengertian bidang budaya yang menjadi bagian kajian antropologi, ternyata,
adalah bidang-bidang kesenian. Di dalamnya dicatat dan dibahas masalah-masalah
yang terkait dengan benda-benda tinggalan masa lalu ataupun benda-benda masa
kini apa adanya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut lahir sebutan pendekatan
entografi tetapi dengan penekanan pada perubahan pendekatan yang sekaligus
sebagai revisi terhadap pola pendekatan antropolog yang hanya “sekadar” mencatat
sesuatu itu sebagaimana apa adanya. Kini, pendekatan etnografi baru telah melibatkan
tinjauan yang lebih mendalam dan melebar dengan memasukkan unsur kajian yang
sosiologis maupun psiklogis. Sebuah benda, dalam pendekatan etnografi tidak
steril dari pengaruh latar pembuat maupun kondisi lingkungannya. Oleh karena
itu, bahasan kesenirupaan bisa melibatkan sisi sosiologis masyarakat
pendukungnya, juga melibatkan masalah kejiwaan pelakunya dan zamannya.
Pendekatan
Antropologi tentang Seni Rupa
Dalam
Bab 1, sekilas telah dikemukakan beberapa buku yang membahas seni rupa dengan
cara-bahas yang agak berbeda dengan bahasan buku kebanyakan. Yang dimaksud
carabahas berbeda di sini adalah cara-bahas yang melepaskan pola pikir
major-minor dalam penglompokan karya maupun pelaku seni rupa. Cara-bahas ini
menempatkan semua karya manusia ke dalam satu padanan sebutan: arts, seni, seni
rupa. Para penulis Barat yang membahas seni rupa dengan “pandangan lain” ini
menampilkan karya para pedesa dan para pekota. Seni primitif yang oleh para
penganut paham pengelompokan seni utama-remeh dianggap bukat Arts, di dalam
buku-buku seni rupa dengan pandangan lain ini dibahas dengan kesungguhan
bahasan “seni utama”.
Pandangan
para antropolog tentang keberadaan seni rupa, tampaknya, harus menjadi bahan
kajian bagi para pemerhati seni rupa. Para antropolog tidak pernah memilah
bahasan seni rupa berdasarkan kelompok utama-remeh atau murni-terap. Karena
kegiatan seni adalah bagian dari kegiatan manusia, “seni tidak bisa dipisahkan
dari kehidupan” (Herkovits, 1955: 234). Bahasan para antropolog tentang arts,
seni, seni rupa ini, terutama memperhatikan bentuk, tenkik pembuatan, motif
hias, dan gaya (Koentjaraningrat, 1990: 380). Bentuk dan jenis karya seni rupa
yang disebut oleh para antropolog atau pun penyusun buku yang lebih condong
menggunakan cara pendekatan antropologis dalam bahasan isi bukunya, bisa
diperiksa dalam buku-buku seperti berikut ini.
Setiap
negara memiliki akuan tentang seni (rupa) utama --meminjam istilah paham
pengelompokan seni rupa Barat. Hal itu sangat erat terkait dengan latar
belakang sistem nilai dan kaidah budaya yang berlaku pada suatu negara. Dengan
melihat, meneliti, memilah, mempertimbangkan, serta menilainya secara bijak dan
lebih awas, kita bisa menentukan sikap penilaian terhadap hasil karya seni rupa
Indonesia.
Bangsa
Indonesia memang masih harus belajar banyak dalam bersikap adil, awas, bijak,
dan demokratis dalam menanggapi hasil olah pikir, rasa, dan kesadaran
lingkungan masyarakat Indonesia sendiri. Nilai budaya yang mengeristal di dalam
sila-sila Pancasila, khusus dalam sikap berkesenian, tampaknya masih belum
menjadi sikap hidup yang nyata. Pemisahan antar pekota-pedesa, terpelajar-tak
terpelajar, seniman-perajin, profesional-amatir, ahli-tukang, dan sejumlah
istilah lainnya, yang tujuannya membedabedakan penghargaan terhadap pekarya
seni rupa, tidak menampakkan sila Persatuan Indonesia. Padahal yang membangun
negara Indonesia bukan hanya para pekota, kaum terpelajar, seniman, golongan
profesional, atau para ahli semata. Kaum pinggiran, para pelaku “seni remeh”,
wong cilik, tidak kalah penting peranannya dalam menegakkan tiang ekonomi
negara!
Tidak
disadari bahwa nama besar Indonesia, lebih khusus nama Bali yang kadang seolah
“terpisah dari Indonesia di mata masyarakat mancanegara, adalah karena hasil
karya para pedusun, pedesa, yang karyanyanya tidak pernah dikenal nama
pembuatnya. Begitu banyak cinderamata yang dihadiahkan kepada para tamu negara,
berasal dari hasil karya para pedesa, para perajin! Tidakkah disadari bahwa
betapa jumlah masukan untuk devisa negara yang disumbangkan dari hasil
penjualan neka benda “seni remeh”? Tidakkah disadari, penghuni terbanyak negara
Indonesia ini adalah para para pedusun dengan segala hasil kerja dan karyanya
yang tidak pernah bisa terhitung jumlah dan mutunya?
Perlu
dibuktikan, seperti apa perhatian Pemerintah Indonesia terhadap benda-benda
hasil masyarakat kita? Ketika karya batik, reog (sejenis Reog Ponorogo), lagu
Rasa Sayange, Tari Pendet, yang diakui oleh negara tetangga, Malaysia, secara
suka cita, tidak ada upaya besar yang dilakukan Pemerintah untuk sekadar
menanggapi keresahan masyarakat seni Indonesia tersebut. Jika ditelusuri lebih
jauh lagi, Pemerintah masih belum menempatkan pendidikan seni sebagai bagian
penting dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Padahal kegiatan seni adalah
kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan menjadi andalan ekspor negara
ketika migas tidak lagi menjanjikan masukan devisa negara.
Berikut
adalah tulisan yang terkait dengan sikap orang tua dalam merespons keberadaan
perangkat kerja rumah tangga yang baru, yang semuanya berbau teknologi masa
kini. Dalam hal pembicaraan tentang teknologi, seolah-olah teknologi itu
hanyalah milik mahluk masa kini, masa modern semata. Padahal pada kondisi nyata
di lapangan, setiap generasi manusia di manapun telah diberi kemampuan oleh
Allah untuk bisa mengatasi kebutuhan dan kesulitannya berkaitan dengan
lingkungannya. Semua perangkat hidup yang dibangun, digubah, didesain oleh
manusia pada setiap zaman, adalah bentuk teknologi. Kini, ketika teknologi
elektronika menjadi raja pada zaman modern, posisinya sama seperti
temuan-temuan para leluhur manusia ketika berusaha “memperpanjang tangan
mereka” (van Peursen) dalam mengatasi persoalan-persoalan kehidupan mereka.
Tulisan berikut adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang sejalan dengan
kondisi masanya. Tulisan yang pernah dimuat di dalam harian Bali Post ini
mempertanyakan bagaimana keluarga dalam menyikapi perkembangan teknologi masa
kini.
BAGAIMANA KELUARGA MENYIASATI
TEKNOLOGI?
Oleh
Jajang Suryana
(Dimuat
dalam Bali Post, 31 Desember 2000)
Perkembangan
perangkat teknologi kita rasakan sangat pesat. Tahun 70-an, televisi masih
dirasakan sebagai “kotak ajaib” yang hanya dimiliki orang-orang kaya tertentu
saja. Atau, lebih ke belakang lagi, radio pun bisa dirasakan sebagai “benda
aneh” yang bisa omong.
Kini,
radio dan teve hanyalah benda amat biasa. Anak kecil pun bisa “menguasai” benda
tersebut. Bahkan, ketika muncul komputer dan handphone, itu pun kini telah
menjadi benda lumrah. Begitu banyak anak yang telah berkenalan, malah sangat
akrab, dengan dunia penikmatan hasil teknologi elektronik tersebut. Menikmati
radio di satu sisi hanya memberi kepuasan audio saja. Pendengaran adalah
perangkat utama yang digunakan oleh seseorang ketika menikmati acara radio.
Interaksi pendengar, selain dilakukan lewat surat, kini, bisa dilakukan lewat
pesawat telefon. Seorang penyiar yang disukai pendengar acara radio bisa
“didekati” lewat sambungan telefon tersebut. Radio, dalam keterbatasan dan
kelebihannya, hingga kini, masih banyak peminatnya, termasuk kelompok anakanak.
Lebih
lengkap dibanding radio, teve bersifat audio-visual. Penikmat acara teve bisa
lebih lengkap merasakan kehadiran penyiar, penyanyi, pelawak, atau pun bintang
film dan sinetron. Dalam proses interaksi antara penikmat dengan penyaji acara,
seperti pada acara radio, bisa dilakukan lewat surat dan telefon. Namun
penikmat acara bisa lebih lengkap menyaksikan penyaji acara secara visual.
Lewat media massa jenis ini, banyak anak yang kemudian tergila-gila dengan
bintang idola mereka. Salah satu jenis acara yang menjadi sumber peniruan bagi
anak-anak adalah film kartun.
LEMBAGA PENDIDIKAN
Banyak
ahli pendidikan yang kemudian percaya bahwa media teve bisa menjadi lembaga
pendidikan. Sejalan dengan peran televisi sebagai media hiburan, maka materi
tayangan pendidikan yang dikemas dalam acara teve juga harus bersifat
menghibur. Seperti disebutkan oleh Eduard Depari, “jika unsur kemasan
diabaikan, tidak mustahil tayangan tersebut akan kehilangan daya tariknya”.
Sama
dengan ibu-ibu, anak-anak memiliki tayangan kesukaan yang khusus. Film kartun,
aneka cerita, keluaran Jepang dan Amerika yang banyak ditayangkan di TVRI atau
teve swasta, beberapa di antaranya kemudian menjadi cerita tungguan anak-anak.
Semua tayang-an, bisa dipastikan, ada nilai baik dan buruknya.
Sisi
positif menonton teve diungkapkan oleh seorang ibu. “Pengaruh baik yang kami
perhatikan pada putra kami adalah selalu ingin menjaga atau melindungi seperti
halnya pada perilaku tokoh jagoan idolanya”. Hal yang menarik adalah yang
dialami oleh seorang ibu lain dengan anaknya yang masih usia pra-TK. “Pada
waktu itu”, tulisnya, “anak kami masih di Play Group. Tentunya belum dapat
membaca. Padahal, pada waktu itu, film-film kartun dialognya berbahasa darimana
film itu diproduksi. Terjemahannya tertulis dalam bahasa Indonesia di bagian
bawah layar. Kami secara bergiliran membacakan terjemahan tersebut. Tetapi
suatu waktu, kami sibuk. Tidak ada satu pun di antara kami yang sempat
membacakan terjemahan film yang ditonton anak kami.
Dunia
maya, dunia yang dibangun dalam format digital, pada dasarnya sejalan dengan
pola imajinasi. Keinginan, hayalan, harapan, yang bentuknya cenderung mustahal
sekalipun, bisa dikemas dalam bentuk nyata imajinasi, gambar digital. Salah
satu bentuk gambar digital adalah mainan, game. Aneka mainan digital adalah
pengembangan imaji yang telah diolah untuk kepentingan aneka tujuan. Tujuan
baik, tentu saja, menjadi tujuan yang umum. Banyak software komputer misalnya,
yang ditujukan untuk memudahkan proses pembelajaran. Pembelajaran dirancang
menjadi interaktif lengkap dengan gerak (animasi), suara, dan bahkan komunikasi
aktif antara mesin (komputer) dengan pengguna program. Tetapi, banyak juga
software program komputer yang disisipi aneka tujuan buruk. Lebih khusus yang
disebar lewat jalur website internet yang dikemas dalam bentuk program freeware
dan shareware.
Perkembangan
teknologi dampak awalnya bertalian dengan kemaslahatan umat. Tetapi kemudian,
kemajuan teknologi telah turut memajukan dan menganekargamkan jenis kejahatan.
Tujuan buruk pun telah dikemas sedemikian rupa hingga tampilannya tetap
terselubung dalam bungkus mainan. Kekerasan yang menjadi pola film animasi
keluaran beberapa perusahaan software dan komik Jepang, misalnya, yang
mengandalkan penyelesaian cerita dengan pembunuhan, sangat “disukai” oleh
anak-anak kita.
Dunia
robot seperti pada cerita Pokemon dan Digimon, dalam batas-batas tertentu
banyak memberi sumbangan imajinasi teknologis yang lumayan kepada anak-anak.
Entah bagaimana kreatifnya para pedagang mainan anak-anak dalam memanfaatkan
tokoh yang sedang digandrungi oleh anak-anak. Dunia Mickey Mouse, Donald Duck,
Power Ranger, Ninja Hatori, dan Doraemon yang juga pernah diolah para pedagang,
sedikit demi sedikit digeser oleh ketenaran para robot Pokemon. Buku tulis,
buku bacaan, kartu mainan, permen, kancing tempel, tas sekolah, kaos anak-anak,
alat-alat makan, bahkan pelapis tempat tidur dan bantal, semua dihiasi gambar
tokoh-tokoh Pokemon. Orang tua tak bisa menahan hasrat anak-anak untuk secara
te-rus-menerus melengkapi “koleksi” bendabenda kesukaan yang kemudian akan
menjadi benda kebanggaan anak di antara lingkungan temannya. Lingkungan teman
sebaya telah lebih kuat memberi pengaruh kepada mereka. Apa yang bisa
dimanfaatkan dari fenomena dunia hayal tersebut?
PERLU BIMBINGAN
Membiarkan
anak mengeksplorasi dunianya adalah tindakan bijaksana. Tetapi, bimbingan,
arahan, dan penyaluran merupakan kunci pengaman yang bisa dibentuk oleh orang
tua. Orang tua adalah pengawas, pemilah, dan sekaligus fasilitator bagi
kebutuhan eksplorasi anak. Biarkanlah anak mengurusi dunianya. Orang tua tidak
bijaksana bila turut campur menentukan isi dunia anak. Jadilah wasit yang
bertanggung jawab, yang bisa memfasilitasi lalu lintas imajinasi anak. Bukankah
ketika kita, para orang tua, masih dalam usia anak-anak, kita selalu diberi
kebebasan bermain, dan lahan bermain kita tidak pernah dijajah orang tua kita.
Pendekatan Sosiologi tentang Seni
Rupa
P.J.
Bouman (1954), dalam bukunya Sosiologi Pengertian dan Masalah, pada salah satu
bagian bukunya menulis tentang sosiologi seni, di samping tentang sosiologi
agama, sosiologi kebudayaan, dan sebagainya. Bouman menunjuk bahwa perhatian
para sosiologist dalam membahas seni adalah mengenai: 1) sampai seberapa jauh
ciptaan seniman menunjukkan pengaruh sosial, 2) gema sosial ciptaan seni, 3)
kedudukan seniman dalam masyarakat, dan 4) bagaimana masyarakat menghargai, menyebarkan,
atau menghimpun hasil-hasil seni.
Tampaknya,
apa yang dikemukakan oleh Bouman tahun 50-an dengan apa yang dipaparkan oleh
Jaques Lennhardt tahun 70-an, tidak terlalu jauh bergeser. Penelitian para
sosiologist tentang seni, Lennhardt menyebutnya arus utama (main trends)
penelitian sosiologi seni, berkisar tentang hasil karya seni yang diperlakukan
sebagai jejak sosial yang akan membimbing para sosiolog dalam meneliti komponen
lingkungan sosial para pekerja seni, dan kondisi sosial penciptaan seni (Lennhardt,
1978: 585 - 596).
Pada
sejumlah seni pertunjukan tradisional, kita bisa menyaksikan keterlibatan
penonton (msyarakat) di dalam adegan-adegan yang dipertunjukkan oleh pemain.
Bahkan, penonton bisa secara bebas berdialog dengan pemain, memberi masukan
kepada pemain, memeinta bentuk pertunjukan tertentu, atau sekadar menanggapi
apa yang dilakukan oleh pemain. Sebagai contoh bisa diperhatikan pertunjukan
drama tradisional seperti Bondres (Bali) ataupun pertunjukan wayang kulit,
wayang golek, maupun Lenong. Seorang nayaga bisa saja meluluskan permintaan
penonton, atau seorang dalang bisa memainkan tokoh wayang (bukan wayang pokok)
dilengkapi dengan dialog langsung dengan penikmat pertunjukan. Begitupun yang
terjadi dalam lingkungan kegiatan seni rupa tradisional.
Yang
menarik dari pernyataan Bouman adalah tentang gambaran kesenian Asia, terutama
berkaitan dengan gaya seni: “Kalau dirumuskan setjara negatif, dapatlah
dikatakan, bahwa stabilitet kesenian Asia berhubungan dengan ketenangan
struktur2 agraris dalam daerah2 kebudayaan tempat kesenian itu berkembang. juga
kesenian Tiongkok, Djepang dan India Depan mengenal masa gaja, tetapi djarang
ahli sedjarah kesenian memperhatikan latar belakang sosial dari penentuan masa
gaja ini”.
Secara
sosiologis, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, suka menghargai
se-sama, mementingkan kebersamaan, erat ikatan batinnya dengan tradisi, dan
sejumlah ciri sosiologis lainnya. Masyarakat Indonesia, pun sebagian telah
menjadi masyarakat kota besar yang mulai memiliki ciri-ciri sosiologis
masyarakat kota besar, bahkan untuk lingkungan tertentu telah menampakkan ciri
masyarakat metropolis kotakota besar dunia. Radio, televisi, dan kini, nternet
dan telefon seluler, telah mengubah sedikit demi sedikit pola kehidupan
masyarakat tatap-muka menjadi msyarakat seluler, serba saluran elektronis.
Masyarakat
yang kini disebut sebagai masyarakat tradisi, pada zamannya adalah kelompok
masyarakat pekota. Tetapi karena perubahan zaman, terjadi pergeseran dalam
penyebutan posisi mereka. Sebagaimana ketika masyarakat masa kini sadar bahwa
teknologi adalah milik mereka, hasil capaian mereka dalam mengolah alam
lingkungannya, hal itu menjadi hal yang sama pada kelompok masyarakat lainnya
dalam kurun waktu yang berbeda. Tradisi tidaklah mengacu waktu melainkan
menyangkut kondisi. Sebagaimana sebutan primitif yang selalu dihindari
teoretisi seni Eropa untuk menyebut kondisi masyarakat mereka, kondisi itu bisa
kita temukan pada masyarakat masa kini yang telah dianggap postmodern.
SADAR DUNIA ANAK-ANAK
Oleh
Jajang Suryana
(Dimuat
dalam Sinar Harapan, 12 Maret 2002)
Anak-anak
masa kini, tetap bagian dari alam, merespon alam, dan bermain dengan alam.
Tetapi, banyak orang tua yang boleh jadi merasa, alam yang diakrabi oleh anak-anak
masa kini adalah alam yang sempit cakupannya. Bahkan, banyak perangkat alam
yang justru dianggap tidak alamiah. Artinya, perangkat yang disukai sebagai
alat bermain oleh anakanak masa kini adalah perangkat alam milik lingkungan
orang lain, milik bangsa lain, milik budaya bangsa lain.
Ada
yang berkilah, lingkungan tidak lagi memberi keamanan kepada anak-anak dalam
meng-akrabinya. Memang, dulu, selokan di pinggir rumah masih berair jernih dan
dipenuhi ikan-ikan kecil yang lucu-lucu. Kini, jenis ikan kecil tersebut, boleh
jadi, telah men-jadi hewan langka. Kini, sungai di pinggiran desa tidak bisa
dipakai mandi atau bermain air berlama-lama. Semua orang takut terkena gatal
sisa buangan sampah rumah tangga, apalagi buangan bekal pabrik. Begitu pun, ketika
musim mewuluku tanah sawah tiba, anak-anak tidak bisa secara bebas ikut serta
bermain lumpur di sawah. Bermain lumpur pada masa kini dianggap sangat tidak
sehat. Keceriaan anak-anak telah berganti rupa karena lingkungan alam telah
habis dijadikan lingkungan baru yang tidak ramah kepada anak-anak. Saat bulan
purnama tidak pernah memberi pengaruh apa pun kepada anak-anak masa kini. Masa
panen (tanaman maupun ikan) telah jauh dari lingkungan anak-anak modern.
DUNIA ROBOT
Anak
masa kini telah belajar dari lingkungan yang sebetulnya milik masyarakat lain.
Dunia robot, dunia masyarakat industri dan teknologi tinggi, telah “akrab”
menjadi teman bermain anak-anak Indonesia masa kini. Dari mulai anak-anak kota
besar yang telah lebih dahulu kenal dengan pesawat teve berantena parabola dan
aneka komik ekspor, yang kini berlanjut kenal dengan mesin komputer serta
program internet, hingga anak-anak kampung di sisi gunung yang secara nasib
ketiban pulung keluarganya menjadi OKB karena pengaruh situasi reformasi, telah
begitu dekat juga dengan robot. Ya, meskipun hanya kenal robot maya, robot
animasi, robot gambar, mereka begitu nikmat “memilikinya”.
KARTUN
Kartun,
film maupun komik, bisa dipastikan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Bukti tersebut telah dimanfaatkan oleh para penggubah kartun dan produser film
kartun. Mereka memproduksi film-film kartun yang ditujukan kepada penikmat
dewasa. Tetapi, kita, msayarakat Indonesia, sudah percaya bahwa film kartun
adalah untuk konsumsi anak-anak. Kondisi pandangan ini kemudian melahirkan
sikap-sikap orang tua yang kurang hati-hati dalam menyaring film kartun yang
cocok ditonton oleh anak-anaknya.
Pendekatan Psikologi tentang Seni
Rupa
Pendekatan
psikologi terhadap seni lebih cenderung berupa kajian estetis yang dikaitkan
dengan perilaku dan pengalaman manusia dalam pengolahan, penikmatan, ataupun
pe- ngaruh seni. Para ahli psikologi mengenal dua bentuk pendekatan psikologis:
Pendekatan Gestaltism (The Psychology of Vision, Psikologi Cerapan) dan
pendekatan Psikologi Analitik. Dalam buku ini lebih khusus akan dibahas dibahas
pendekatan yang kedua, pendekatan psikologi analitik dari Carl Gustav Jung.
Realisme, Naturalisme, dan
Impressionisme
Kelompok seniman yang menganut tiga aliran seni ini mengutamakan unsur pikir dalam kegiat-annya. Tampilan kelompok ini menunjukkan sikap peniruan terhadap dunia-luar alam. Tampil-an utama karya yang dilatari ketiga aliran ini adalah sesuatu yang nyata. Kenyataan inilah yang menuntut unsur pikir karena peniruan bentuk real, natural, maupun impression adalah peniruan terhadap bentuk-bentuk yang ada di alam. Walaupun kemudian ada penambahan tertentu, ikatan bentuk-bentuk yang nyata sebagai unsur utama dalam model atau objek benda yang ditiru tetap ketat. Sesuatu yang nyata tampak jelas dalam bentuk-luar objek.
Superrealisme dan Futurisme
Peranan
sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Mereka menunjukkan
perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam memanggapi dunia-luar alam.
Dunia-luar, bagi ke-lompok ini, masih menjadi perhatian yang utama. Mereka
menggunakan sensasi bentuk nyata dengan menambahkan unsur-unsur tampilan yang
luar biasa, berlebihan, bahkan menampakkan kondisi yang ada di luar dunia
nyata. Fauvisme dan Expressionisme Peranan sesnsasi sangat kuat dalam konsep
kegiatan kelompok ini. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa
perseorangan senimannya. Senimanseniman ini mengutamakan subjektivitas dirinya
dalam mengolah karya.
Cubisme, Constructivisme, dan
Functionalisme
Bagi
kelompok ini, intuisi menjadi titik pusat konsep berpikir mereka. Mereka
menunjukkan keasyikan dengan bentuk-bentuk mujarad (abstrak) Kelompok pertama
memiliki latar sikap objektif senimannya. Bentuk-bentuk alam menjadi dasar tiruan:
fotografis maupun impressionistis. Keberadaan objek mengontrol kegiatan
jasmani. Seluruh perhatian seniman ditujukan hanya untuk meneliti kepastian
objek. Faktor bawah sadar dan kejiwaan seniman mungkin bisa tersalurkan melalui
pengaturan komposisi dan warna.
Kelompok
kedua mengagungkan imajinasi. Imajinasi yang menguasai perasaan seniman
ke-lompok ini bisa imajinasi figuratif maupun nonfiguaratif. Seniman kelaompok
ini, yang memiliki sifat ekstrovet, harus bersetuju dengan kenyataan dalam
memanipulasi materi untuk memenuhi tuntutan imajinasinya. Mereka menyalurkan
ciri pribadinya ke dalam objek, sehingga objek yang ditampilkan bisa mewakili
dirinya. Tetapi yang memiliki sifat introvet, mereka le-bih mementingkan
otomatisasi perasaan yang dikuasai alam bawah sadarnya.
Kelompok
ketiga dilatari sikap objektif dan subjektif. Sensasi yang memotori sikap
mereka, pada kelompok yang ekstravet, sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi,
seperti ditemukan oleh Jung, reaksi terhadap objekbukan pada kenyataannya, bukan
pula pada tampilan dangkal, melainkan pada nilai sensasinya. Kualitas rasional
dan spiritual di kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan,
ditampilkan dengan titik berat pada derajat sensasi. Kelomok yang bersikap
introvet lelbih dikenal dengan sebutan tipe haptic. Tipe ini, tentu saja, lebih
banyak merupakan sifat bawaan.
Kelompok
keempat menempatkan intuisi sebaai penggerak utama sikap berpikir mereka.
Ke-lompok ini bisa dikatakan cenderung menampilkan sikap introver, intuisi
seniman tidak langsung berhubugnan dengan bentuk eksternal, di luar ekspresi.
Ada kelompok yang bisa disebut sebagai kelompok dengan sikap ekstravet. Hal
tersebut tampak pada jenis tampilan karya arsitektur fungsional dan dalam
sejumlah seni industri.
DESAIN SESUDAH MODERNISME
Oleh
Meiyani Hertanto, S.Sn.
(Bagian
kecil dari laporan skripsi Desain Sesudah Modernisme di FSRD ITB)
Di
dalam konteks perubahan ini pula pengertian “desain” dalam artian modern, yaitu
kegiatan desain yang terpisah dari kegiatan produksinya dan desain sebagai
bagian dari nilai komersial suatu produk, mulai terbentuk. Perkembangan awalnya
sangat diwarnai oleh gejolak perdebatan antara mempertahankan konsep
tradisional seni kriya (craft) dengan kemodernan sisitem kerja mesin dalam
proses produksi massal. Jika dalam sejarah kesenirupaan, munculnya aliran
Impressionisme pada sekitar tahun 1870 sering dianggap sebagai aliran peralihan
ke arah munculnya seni rupa ‘modern’, maka dalan desain dikenal aliran Art
Nouveau sebagai aliran peralihan ini --atau dalam istilah Penny Sparke disebut
“proto-modernism” -- yaitu pada sekitar tahun 1900.
Art
Nouveau segera berkembang pesat di seluruh Eropa dan pengaruhnya juga ke
Amerika Serikat. Beberapa tokohnya misalnya adalah Hector Guimard di Perancis,
Victor Horta dan Henry van de Velde di Belgia, kelompok Vienna Secession di
Austria, dan dalam bentuk radikal oleh arsitek ‘eksentrik’ Antonio Gaudi di
Spanyol. Di Amerika Serikat pengaruh Art Nouveau terutama tampak pada kerajinan
gelas dan metal dari Studio Tiffany.
Di
Jerman aliran ini dinamakan Jugendstil, sedang di Scotlandia dengan garis-garis
yang lebih linier dikembangkan oleh kelompok The Glasgow Four dengan tokohnya
Charles Rennie Mackintosch. Karya-karya Mackintosch inilah, khususnya bangunan
The Glasgow School of Art, yang sering dikatakan merupakan cikal bakal
pendekatan desain Modernisme, karena sudah menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam
pengolahan bahan dan konsturksi, meskipun masih belum meninggalkan penggunaan
ornamen.
Memasuki
dekade awal abad 20, lengkung-lengkung Art Nouveau yang telah merambah ke
hampir segala jenis produkdesain dan arsitektur seakan-akan mengalami kejenuhan
dan me-munculkan semacam ‘reaksi balik’. Di kalangan arsitek dan pendesain
terdapat kesamaan kecenderungan untuk meninggalkan konsep lama’menempelkan’
seni pada permukaan benda-benda, karena hal itu dipandang tidak lagi sesuai
dengan tuntutan jaman. Era industri dan mekanisasi yang tak terbendung lagi
telah memaksa kaum perancang untuk mengubah cara pandangnya terhadap fenomena
mesin serta produkproduk yang dihasilkan, bukan dengan mengelabuinya dengan
ornamentasi, melainkan dengan menciptakan perpaduan yang rasional antara konsep
seni dan industri, antara aspek estetika dan teknik.
Dari
faktor-faktor di atas, dapat terlihat bahwa perkembangan moderninsme sangat
erat berkaitan dengan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern,
sehingga sebenarnya tidaklah mengherankan ketika sikap rasional-teknis yang
merupakan ciri khas ilmu pengetahuan dan teknologi, juga banyak diserap dan
kemudian tercerminkan dalam pendekatan dan hasil desain modernisme.
Pokok-pokok Gagasan dalam Modernisme
Pokok
gagasan Modernisme lazim disebut juga ‘rasionalisme’, dan dalam penerapannya
dapat dijabarkan lagi dalam beberapa ‘turunan’nya. Berikut ini, untuk lebih
memudahkan dalam memahami Modernisme, akan diuraikan beberapa pokok gagasan
yang dianut di dalamnya. Pokok-pokok gagasan ini sebenarnya tidaklah dapat
dipandang sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, namun merupakan
suatu kesatuan yang saling berkaitan dan saling pengaruh antara satu dengan
yang lainnya.
Fungsionalisme
Salah
satu aspek rasional desain adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya,
yaitu fungsional. Meskipun nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari
sejak awal, namun dalam pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang
diutamakan. Selain fungsi menjadi faktor determinan yang menentukan bentuk,
fungsi sebuah desain atau elemen desain juga secara jujur direfleksikan bahkan
diekspresikan oleh bentuk tanpa ditutup-tutupi atau dibuat-buat. Fungsionalisme
dengan demikian dinilai sebagai pemenuhan kualitas sebuah desain. Selebih dari
itu, akan dinilai sebagai ‘pemborosan’ pada hal-hal yang tidak fungsional.
Estetika Mesin
Estetika
mesin merupakan hasil penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu
kaidah-kaidah yang muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai
estetikanya mengacu baik pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional,
tanpa ornamen atau dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan
efisien; serta pada benda-benda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu
sederhan, presisi dan terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang
dihasilkan adalah bentuk yang sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas
(clear).
Kebenaran dan Kejujuran
Salah
satu konsekuensi cara berpikir rasional yang merupakan dasar pendekatan desain
Modernisma adalah kebenaran dan kejujuran. Maka kaum Modernis juga menganut
pandangan bahwa rancangan yang baik adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai
kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty) baik terhadap fungsi, material,
maupun struktur/konstruksi. Hal ini sejalan dengan metode kerja ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dan proses dinilai
melalui ‘keabsahan’ atau validitasnya yang mampu dibuktikan secara
nyata/empiris.
Gaya Universal
Pandangan
universalis ini tampaknya juga erat kaitannya dengan tumbuhnya semacam
keyakinan bahwa pola-pola pembangunan yang telah dilakukan di Barat dapat
(bahkan ‘harus) diterapkan di belahan dunia manapun yangingin mencapai kemajuan
atau kemodernan. Setidak-tidaknya, kemudian tersebuar luas semacam andangan
‘developmentalism’ di banyak negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia yang
memberi porsi besar dalam perhatian terhadap konsep ‘pembangunan’ serta
‘tinggal landas’). Dalam usaha penyebaran Modernisme sebagai suatu ‘totalitas’
gaya yang universal inilah, para pendukungnya mereas perlu untuk menggunakan
konsepsi-konsepsi moralistik seperti kebenaran dan kejujuran sebagai
justifikasi ideaologisnya.
Dinamika Perkembangan Modernisme
Memahami
Modernisme memang bukan merupakan hal yang mudah, terlebih jika berasumsi bahwa
Modernisme merupakan sebuah garya atau aliran yang tunggal, dan bisa dengan
sederhana dan tegas ditunjukkan definisi serta batasan-batasannya. Dalam
perkembangan sejarahnya ternyata Modernisme tidak selalu berjalan dalam garis
sejarah yang lurus atau dengan pemahaman yang selalu seragam. Sejarawan
arsitektur C. Norberg Shulz, dalam bukunya Meaning in Western Architecture,
bahkan tidak menggunakan istilah “modern” dalam pembabakannya, melainkan
menganggap bahwa paham yang dominan pada paruh pertama abad ini adalah
“Fungsionalisme”.
Gagasan
Modernisme yang secara nyata berusaha dikaitkan dengan wujud idealisme sosial,
yaitu penyediaan kebutuhan akan rumah tinggal dalam jumlah banyak dan cepat
namun dengan harga yang minimum, tampak dalam sejumlah karya dan ungkapan tokoh
arsitek yang tergabung dalam CIAM (Congres Internationaux d’Architectur
Moderne), dan terangkum dalam manifesto-manifesto kongresnya yang berlangsung
sepuluh kali dari tahun 1929 hingga 1956.Untuk itu mereka sangat mendukung
prinsip kejujuran bahan dan konstruksi, kesederhanaan dan standarisasi produksi
untuk efisiensi, di samping studi-studi ergonomi dan antropometri guna mengukur
standar ukuran serta kebutuhan manusia secara umum atau rata-rata. Dan karena
berusaha membangun bangunan-bangunan yang bersifat komunal ini, beberapa tokoh
arsitektur modern sering dituduh berpaham sosialis. Bangunan perumahan atau
apartemen berbiaya rendah menjadi sentral garapan para arsitel CIAM dalam
komitmennya menjawab tantangan sosial yaitu kebutuhan akan perumahan dengan
meledaknya jumlah kaum buruh industri maupun kebutuhan yang timbul akibat
perang. Akibatnya ciri-ciri fisik prinsip desain modern seper-ti bidang-bidang
polos (biasanya putih karena melambangkan kebersihan), atap datar dan jalur
jendela memanjang (ribbon windows), sering dianggap sebagai
simbol konvensional dari ‘arsitektur sosialis’.
Komentar
Posting Komentar