Fungsi Seni
1. Fungsi Seni Secara Budaya
Ø Posisi
Seni dalam Lingkup Budaya
Istilah
budaya telah umum diketahui secara keliru. Budaya, kebudayaan, seolah-olah
hanya terkait dengan kesenian, seperti seni rupa, tari, musik, sastra, dan
pertunjukan. Ditegaskan oleh para ahli antropologi, kekeliruan tersebut berkait
dengan cara mengartikan kebudayaan sebagai sesuatu yang sempit, hanya meliputi
“bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia” (Harsojo, 1984: 93;
Koentjaraningrat, 1990: 179-180), atau “the general body of the arts”
(Williams, 1961: 61).
Dalam
bahasan antropologi, istilah kebudayaan bermakna “keseluruhan sistem gagasan,
tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, op. cit.).
Definisi tersebut dirujuk Koentjaraningrat dari konsep yang dikemukakan oleh
Honigmann dalam The World of Man (1959). Menurut Honigmann, kebudayaan terdiri
atas tiga unsur: 1) himpunan ide dan sistem gagasan; 2) kompleks kegiatan; dan
3) benda hasil karya manusia.
Unsur
kebudayaan yang pertama berupa ide, gagasan, norma, peraturan, dan nilai.
Sifatnya abstrak, mujarad, karena berada dalam alam pikiran warga masyarakat.
Unsur kedua adalah serangkaian kegiatan manusia dalam persitindakannya
(interaksi) dengan manusia lain. Kompleks kegiatan ini berpola pada unsur pertama,
sistem gagasan. Dari unsur kedua ini terbentuklah sistem sosial (social
system). Bentuknya nyata, bisa dicerap, diamati, dan didokumentasi. Unsur
ketiga memiliki wujud yang lebih nyata, kasat mata, yaitu semua hasil kegiatan
manusia, berupa benda hasil karya manusia. Ini merupakan unsur kebudayaan yang
paling nyata, biasa disebut sebagai kebudayaan fisik.
Budaya
tradisi yang terkait dengan kondisi lingkungan suatu tempat, kini, cenderung
kurang mendapat perhatian. Sehingga, ketika seseorang mengolah budaya:
kesenian, teknologi, pembangunan, misalnya, kerap hasil olahannya tidak sejalan
dengan keberadaan masyarakat pendukungnya. Hasilnya bisa menggambarkan
kekurangcocokan, ketercerabutan, dengan nilai yang telah dimiliki oleh
masyarakat. Salah satu contoh yang dekat adalah lingkungan pasar, pasar
senggol, lahan kehidupan ekonomis masyarakat. Di pasar ini bisa terhimpun aneka
transaksi hasil olah budaya masyarakat yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup
sehari-hari: pemasaran hasil kesenian, hasil keterampilan rumahan, atau pun hal
lainnya yang erat terkait dengan kebutuhan wong cilik.
Banyak
perilaku baik milik masyarakat kita yang ditinggalkan karena mengejar perubahan
yang lebih mengutamakan pengakuan kemodernan, terutama mengikuti perilaku
budaya milik masyarakat atau bangsa lain. Kini, ketika paham reformasi bergulir
sebagai wacana berpolitik, bermasyarakat, bernegara, ternyata budaya instant
muncul pada para intelektual. Banyak inteletktual yang memiliki anggapan, untuk
menyelesaikan segala persoalan hanya “butuh waktu singkat”. Padahal, budaya
gotong-royong, perilaku musyawarah, telah lama menjadi bentuk kesadaran dan
kesabaran masyarakat kita. Semua itu seakan hilang diganti dengan budaya
terburu-buru, budaya instant comotan dari bangsa lain. Aceh bermasalah, Ambon
berdarah, Irian bergejolak, semua diminta selesai dalam waktu serba cepat.
Ketika permintaan ingin segera dipenuhi, yang menjadi tuntutan adalah: “pecat,
lengser, ganti, turunkan, selesaikan dalam 100 hari”, merupakan kata-kata baru
yang kerap menyertai tuntutan instant. Begitu pun dalam berkarya seni, konon
banyak seniman yang beralih menggarap jenis kesenian yang serba instant juga!
Banyak
masalah unik yang bertalian dengan perkembangan posisi masyarakat kita dalam
lingkungan budaya modern. Dulu, ketika jalan tol baru dibangun di ibu kota,
kita kerap mendapati berita tentang kecelakaan di jalan baru itu. Analisis
kondisi lingkungan, pada awal-awal bangsa kita baru mengakrabi jalan tol, tidak
sempat terpikirkan. Penghuni lahan sekitar jalan tol telah menyatu dengan
lingkungan sekitarnya. Pada pembangunan masa kini, jalan-jalan tol telah
dilengkapi dengan jalan alternatif berupa jembatan penyeberangan, atau “jalan
pintas” yang aman. Jalan tol bisa berfungsi sebagai jalan baru yang menguntungkan.
Ø Penjajahan
Gaya Baru
Masyarakat
Jepang, sekalipun mereka telah mampu mengembangkan diri dengan aneka temuan
teknologi tinggi, mereka tetap mengikatkan diri dengan aneka seni tradisi milik
mereka. Sehingga, mereka dikenal oleh dunia luar sebagai negara yang modern
sekaligus tetap memiliki nilai penghormatan terhadap milik dasar mereka. Budaya
membaca yang mereka kondisikan dalam kehidupan sehari-hari, telah memberi andil
besar dalam pengembangan jenis kesenian milik mereka. Kabuki, ikebana, dan
kimono adalah sedikit di antara nama-nama jenis kegiatan dan hasil seni yang
kemudian mempopulerkan nama Jepang. Dari budaya membaca, berkembanglah salah
satu jenis kegiatan seni rupa, komik, yang kerap dianggap enteng keberadaannya
oleh sementara masyarakat seni. Komik karya para seniman Jepang, ditunjang oleh
keberadaan teknologi cetak yang telah mereka kembangkan, merebak memasuki
hampir semua lapisan masyarakat baca dunia modern ini. Indonesia sebagai salah
satu kawasan yang “dijajah” oleh budaya komik Jepang. Anakanak Indonesia masa
kini lebih mengenal tokoh-tokoh cerita Jepang ketimbang tokohtokoh cerita milik
bangsa sendiri.
Dunia
animasi, dunia gambar bergerak, pun telah demikian maju. Menyikapi budaya
animasi yang selama ini dianggap sebagai produk jenis kartun untuk konsumsi
anak-anak semata, ternyata harus lebih hati-hati.
Ø Seni
dan Martabat Bangsa
Ada
kecemburuan yang sangat mendasar terhadap perilaku yang ditunjukkan oleh
masyarakat, bahkan oleh pemegang tampuk pimpinan negara. Prestasi bidang olah
raga kerap mendapat sambutan hangat dari banyak pihak. Berbagai hadiah dan
dukungan langsung kerap diterima oleh para pesohor olah raga. Tetapi, para
pencapai prestasi bidang seni, begitupun bidang sains dan sosial, prestasi
mereka tidak pernah mendapat dukungan yang wajar dari masyarakat dan
pemerintah. Martabat bangsa seolah-olah hanya bisa ditegakkan dengan prestasi
olah raga.
Wayang
kini telah diakui sebagai hasil budaya masyarakat dunia oleh UNESCO. Pengakuan
tersebut menunjukkan bahwa keberadaan wayang sebagai bagian dari kehidupan seni
masyarakat Indonesia, telah juga menjadi bagian tak terpisahakan dalam peta
kesenian dunia. Para seniman Barat sudah mulai banyak yang mempelajari secara
khusus kesenian wayang. Di antara para penyuka wayang itu, ada yang menjadi
dalang, pesinden, maupun pemain musik pengiring pertunjukan wayang. Selain
wayang kulit, ternyata masih banyak jenis dan bentuk wayang yang lain yang
menarik dengan berbagai catatan yang menyertainya. Salah satu tulisan tentang
wayang, khususnya wayang golek, sengaja melengkapi bahasan ini. Selain sebagai
bentuk pengayaan materi, juga menjadi informasi tambahan terkait dengan
tulisan-tulisan lainnya yang disebutkan dalam naskah ini. Tulisan ini disusun
oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn., dengan judul Wayang Golek Purwa, 2002, tidak
diterbitkan.
Ø WAYANG
GOLEK PURWA
Oleh
Drs. Jajang Suryana, M.Sn.
Wayang bisa berarti cerita. Wayang adalah pertunjukan. Wayang juga adalah peraga (tokoh) dalam cerita. Orang bisa berkata: “Saya suka membaca wayang (cerita); Saya senang mendengarkan wayang (cerita radio); Saya kerap menonton wayang (pertunjukan langsung maupun pada layar kaca); Saya terkesan dengan wayang Gatot Kaca (tokoh cerita). Wayang, seperti kata para ahli, adalah bayangan. Kalau istilah tersebut diartikan secara terbatas, sebagaimana wujud wayang kulit, pengertian tersebut menjadi tidak lengkap. Wayang bukan sekadar bayangan dalam kelir (layar). Wayang adalah bayangan tentang kehidupan manusia, gambaran kehidupan manusia.
Rahwana:
Wayang golek batik (golek hiasan) karya M. Duyeh (Ciguruwik, Cibiru, Kabupaten
Bandung). Wayang golek jenis ini adalah wayang golek untuk keperluan hiasan,
bukan untuk digunakan sebagai perangkat pertunjukan.
Masih
banyak bentuk dan jenis wayang lainnya, seperti Wayang Beber (berupa gambar
pada lembaran kulit maupun kertas gulung), Wayang Golek (boneka trimatra dari
bahan kayu bulat torak), Wayang Wong (diperankan oleh manusia penari), dan
Wayang Klithik (terbuat dari bahan kayu pipih yang dilengkapi bahan kulit tebal
sebagai bagian lengan), dan Wayang Topeng, yang dinikmati pada jenis-jenis
wayang tadi, bukan bayangannya.
“Pengertian
wayang secara luas bisa mengandung makna gambar (penikmatannya hanya mungkin
dari arah muka), boneka tiruan manusia yang terbuat dari kulit, kardus, seng,
mungkin kaca-serat (fibre-glass), atau bahan dwimatra lainnya, dan dari kayu
pipih atau pun bulat torak (bisa dinikmati dari beberapa arah), juga pemain
sandiwara, penari. Batasan tersebut mungkin masih akan terus berubah sejalan
dengan perkembangan kreativitas para juru wayang” (Jajang, 1995: 55-56).
Perubahan tersebut bisa kita temukan melalui media massa masa kini. Beberapa
contoh yang mengemuka dan kerap ditampilkan sebagai pengenalan luas bagi
masyarakat, munculnya pertunjukan Wayang Kampung Sebelah (cerita sindiran dan
dagelan masa kini), Wayang Onthel (menggunakan bahan-bahan onderdil speda
onthel, sepeda gayung), Wayang Ceng Blonk (cerita kritik dan dagelan
masayarakat Bali), adalah bentuk-bentuk perubahan yang menunjukkan bahwa wayang
masih mendapat dukungan masyarakat masa kini.
Sesuai
dengan munculnya jenis wayang baru, juga sejalan dengan kemajuan zaman,
perubahan cara mempertunjukkan wayang pun selalu berubah. Ketika wayang berupa
relief pada bangunan candi, cerita wayang disampaikan oleh “dalang”, dengan
cara menceritakan panel-demi-panel relief yang menjadi bagian bangunan. Kondisi
tersebut membatasi pencerita maupun pendengar cerita untuk selalu berada dan
berpindah-pindah di sekitar panel-panel relief. Penyesuaian dilakukan kemudian,
yaitu memindahkan gambar-gambar dalam panel ke dalam gambar dwimatra yang
memudahkan pencerita membawanya ke tempat-tempat jauh, yaitu tempat para
komunitas penyuka wayang. Muncullah sebutan wayang beber yang cara
mempertunjukkannya dengan jalan membeberkan gulungan gambar satu adegan demi
satu adegan.
WAYANG
GOLEK
Lahirnya
wayang golek adalah jawaban atas keinginan mempertunjukkan wayang pada siang
hari (Jajang, 1995: 62). Istilah wayang golek, pada awalnya muncul dari sebutan
terhadap boneka yang selalu dihadirkan pada setiap akhir pertunjukan wayang
kulit purwa. Boneka ini dimainkan sebagai penutup acara yang maksudnya untuk
mengajak penonton nggoleki, mencari makna isi pertunjukan yang telah
ditampilkan oleh dalang (Amir, 1991: 79; Wibisono, 1974: 82). Dari kata
nggoleki itulah muncul sebutan wayang golek. Wayang golek awal ini, sebetulnya
hanyalah sebuah boneka kayu yang sama sekali bukan tokoh cerita. Ia hanya
sebuah boneka berbentuk model wanita, tidak menunjuk kepada salah satu tokoh
dalam cerita Ramayana maupun Mahabharata (Yudoseputro, 1994).
WAYANG
GOLEK PURWA
Wayang
golek purwa adalah sebutan untuk wayang golek yang berlatar belakang cerita
Ramayana dan Mahabharata. Wayang golek inilah yang hingga kini masih bertahan
hidup serta tetap mendapat dukungan masyarakat pencintanya. Bahkan, karena
ketekunan dan kreativitas dalangnya, pertunjukan wayang ini bisa menjadi
kecintaan para peminatnya. Seperti wayang kulit purwa, wayang golek purwa
dipentaskan dengan cerita babon Ramayana dan Mahabharata. Cerita-cerita pakem
ditampilkan dengan menggunakan campuran bahasa Jawa dan Sunda. Bahasa Jawa
digunakan dalam menyampaikan bubuka, bagian pendahuluan, maupun pada pengantar
babak per babak. Selebihnya, para dalang menggunakan bahasa Sunda. Di samping
cerita pakem, para dalang mengarang cerita sendiri, yang disebut cerita
carangan. Cerita karangan dalang ini tidak lepas dari pokok cerita utama, yaitu
cerita Ramayana atau Mahabharata. Wayang golek purwa bisa dipertunjukkan pada
malam hari maupun pada siang hari. Menikmati pertunjukan jenis wayang ini bisa
lebih alami karena sifat bonekanya yang trimatra. Gerak tokoh wayang bisa
ternikmati secara utuh pada ruang panggung.
Seperti
telah disebutkan, wayang golek purwa adalah jenis wayang golek dengan latar
belakang cerita Ramayana dan Mahabharata. Latar belakang cerita, sudah pasti,
menjadi pengikat kesamaan tokoh-tokoh cerita wayang. Wayang kulit purwa,
misalnya, sama dengan wayang golek purwa. Yang membedakan keduanya adalah jenis
wayang yang digunakan untuk memperagakan lakon, juga cara menampilkannya.
Wayang golek purwa adalah wayang trimatra. Jenis wayang ini bisa disebut secara
tepat sebagai boneka untuk mempertunjukkan lakon. Karena bentuknya yang
trimatra, wayang ini bisa dinikmati dari beberapa arah. Cara mempertunjukkannya
tidak memerlukan kelir sebagaimana dalam pertunjukan wayang kulit. Oleh karena
itu, gerak tokoh lakon ketika boneka ini dipertunjukkan oleh dalang, terlihat
lebih nyata, karena boneka ini merupakan bentuk tiruan manusia (ikonografi).
Ade
berhasil mennghadirkan tokoh-tokoh golek tambahan yang “luar biasa”. Ada tokoh
yang diberi alat tambahan seperti gitar, sehingga digambarkan bisa bermain
musik modern. Ada tokoh yang bisa pecah kepalanya, memuntahkan mie goreng,
mengeluarkan darah, dan mengeluarkan aji-aji kanuragan. Di samping itu, Ade
bisa memainkan boneka golek secara lebih hidup. Keterampilan Ade dalam
menghidupkan boneka golek, seperti gerakan menari jaipongan (tarian khas Jawa
Barat); berkelahi gaya pesilat, pekungfu, dan pekarate; atau pun gerak lain
yang lucu ditingkah cara berucap yang mengundang tawa, merupakan kelebihannya
dalam mementaskan wayang golek.
Biasanya,
golek hiasan, sesuai dengan fungsinya, dibuat berbeda dengan golek untuk
pertunjukan. Perbedaan itu, terutama, tampak pada segi keterpakaian boneka
tersebut. Boneka golek pertunjukan untuk dimainkan, digerakkan, dihidupkan
sesuai dengan tuntutan cerita. Sedangkan boneka golek hiasan, segi
keterpakaiannya cenderung tidak diperhatikan oleh pembuatnya. Oleh karena itu,
mutu wayang golek pertunjukan lebih baik daripada golek hiasan. Misalnya, bisa
kita lihat golek-golek hiasan yang banyak dipasarkan di warung-warung seni
daerah Cipacing maupun Citatah, Kabupaten Bandung. Tanjung Sari, Sumedang,
merupakan salah satu pusat pembuatan golek hiasan ini. Tokoh golek yang paling
banyak digarap sebagai boneka golek hiasan antara lain tokoh Semar, Cepot,
Dawala, dan Gareng, serta tokoh-tokoh tambahan berupa buta. Tokoh lain yang
juga kerap menjadi pesanan sebagai golek hiasan adalah Rama dan Shinta, Arjuna
dan Srikandi, juga Gatot Kaca.
WANDA
Wanda
adalah istilah perwajahan atau raut khusus pada wayang. Tokoh-tokoh dalam
cerita wayang yang memiliki wanda adalah tokoh yang populer atau disukai
penonton, dan mempunyai banyak kisah sehingga sering ditampilkan. Sedangkan
tokoh yang jarang ditampilkan, sehingga kurang dikenal, tidak memiliki raut
khusus (Sagio dan Samsugi, 1991: 18; Widodo, 1990: 123).
Ada
tiga istilah raut yang memiliki pengertian berbeda: raut peranan, raut tampang,
dan raut wanda atau raut khusus (Jajang, 1995: 10-27). Kata raut digunakan
untuk menunjuk segi rupa golek. Sebuah boneka golek secara umum memiliki dua
sisi sebutan pada rautnya, yaitu raut peranan dan raut tampang. Raut peranan
menggambarkan peranan tokoh golek: peranan sebagai satria, ponggawa, buta, dan
panakawan. Misal, tokoh Arjuna peranannya sebagai satria; Gatot Kaca sebagai
ponggawa; Arimba sebagai buta; dan Cepot sebagai panakawan. Di samping itu,
raut peranan pun kadang-kadang menunjukkan peranan ganda, seperti tokoh
Yudhistira berperan sebagai satria-raja; Duryudana sebagai ponggawa-raja;
Arimbi sebagai buta-putri (raseksi); dan (dalam cerita carangan) Gareng sebagai
panakawan-raja. Masih banyak lagi contoh peranan ganda tersebut, di antaranya
satriadewa, satria-pandita, satria-ponggawa, ponggawa-dewa, ponggawa-pandita,
ponggawabuta, dan buta-panakwan.
Dalang
wayang golek cenderung memiliki kebebasan dalam memperlakukan boneka golek.
Misalnya dalam menampilkan tokoh-tokoh cerita. Boneka golek Gatot Kaca bisa
saja digunakan untuk menampilkan tokoh Bambang Kaca, anaknya; boneka golek
Arjuna bisa juga untuk menampilkan tokoh Rama Wijaya. Selama raut tampang tokoh
tersebut masih dalam satu kelompok (kelompok satria, ponggawa, dan buta,
misalnya), dan memiliki ciri tampang yang hampir sama, pertukaran tampang dalam
tampilan (pertunjukan) bisa dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa para dalang
wayang golek longgar dalam memegang pakem. Kelonggaran ikatan pakem tampak pula
pada sikap para juru golek. Mereka tidak memiliki kesepakatan dalam menentukan
pola hiasan golek, sehingga banyak boneka golek yang berraut tampang sama
tetapi berbeda hiasan --dalam wayang kulit hal ini tidak akan ditemukan.
NILAI
ESTETIS LIHATAN
Nilai
estetis wayang tidak bisa didekati hanya sekadar menggunakan patokan estetika
Barat. Estetika Barat cenderung hanya membicarakan masalah unsur karya seni
yang kasat mata. Unsur estetis seperti garis, bidang, warna, ruang, barik,
blabar, dan keseimbangan yang ada dalam boneka golek, misalnya, bisa dianalisis
berdasarkan konsep estetika Barat. Tetapi, pada kenyataannya, semua jenis
kesenian Timur, lebih khusus yang tradisional, erat juga kaitannya dengan
keindahan yang tidak kasat mata. Contohnya, nilai-nilai karya seni yang
bersifat perlambangan. Padahal, keindahan tak kasat mata ini sama sekali
diabaikan dalam seni rupa Barat. Secara fisik, raut wayang pada umumnya, “tidak
proporsional” bila ditinjau dari sisi teori seni rupa Barat. Perbandingan
keseimbangan bagian tubuh seperti ukuran besar kepala, panjang lengan, dan
tinggi serta besar tubuh, menunjukkan konsep proporsi yang lain.
Untuk
lebih jelas, berikut ini adalah deskripsi beberapa raut peranan dan raut
tampang tokoh wayang golek. Ciri-ciri yang ditunjukkan adalah ciri yang umum
yang bisa dilihat secara kasat mata. Ada juga ciri lain yang menyertai penanda
visual, yang menjadi gambaran pakem tokoh cerita yang ditampilkan dalam bentuk
boneka golek tersebut.
RAUT
PERANAN SATRIA
Raut
peranan satria terdiri atas satria, satria-dewa, satria-raja, satria-pandita,
dan satriaponggawa. Ada juga raut peranan seperti satria-dewa-ponggawa. Seperti
telah diuraikan pada bagan pakem raut golek, raut peranan tokoh golek satria
terdiri atas tiga kelompok: satria lungguh, satria ladak tumungkul, dan satria
ladak dangah. Ketiga kelompok raut peranan ini masing-masing memiliki ciri yang
hampir sama, ciri tokoh satria. Ciri tersebut adalah mata sipit, gabahan,
kedelen, atau biasa juga disebut mata jaitan; alis tulis, mecut, ngajeler paeh:
alis yang diterapkan juga pada raut peranan tokoh putri (kini menjadi trend
tiruan model alis para wanita Indonesia terkenal, seperti para artis).
RAUT
PERANAN PONGGAWA
Ponggawa
adalah angkatan bersenjata, penjaga keamanan. Raut peranan ponggawa, sejalan
dengan tugasnya sebagai “pengawas”, memiliki ciri khusus ponggawa. Pola mata,
alis, hidung, kumis, rerengon (garis dahi), dan hiasan kepala bagian depan,
merupakan penanda raut peranan tersebut yang paling tampak. Sikap kepala dan
warna wajah, seperti pada raut peranan satria, menunjukkan watak tokoh
ponggawa.
Pada
kelompok wayang golek yang berraut peranan ponggawa, seperti satria, terdiri
atas beberapa gabungan raut. Di antaranya, ponggawa, ponggawa-dewa,
ponggawa-raja, ponggawa-pandita, dan ponggawa-buta. Ada juga yang memiliki tiga
ciri gabungan, misalnya ponggawa-buta-raja, seperti tokoh Boma.
Pada
Cerita Ramayana, watak yang “transparan” itu tampak juga. Misalnya, ketika
Rahwana telah berhasil menculik Sinta, dia tidak serta-merta memaksa Sinta.
Sebagai penjahat elite, Rahwana masih memegang “etika”. Dengan berbagai akal
Rahwana berusaha membujuk Sinta: bukan dengan cara kekerasan, seperti watak
utamanya.
Begitu
pun Rama, ketika Sinta sudah dibebaskan dari cengkeraman Rahwana, dia tidak
percaya kepada kesuian istrinya. Padahal, diceritakan, dia adalah raja yang
sangat arif bijaksana dan selalu berprasangka baik terhadap yang lain.
Tokoh
Rahwana yang biasa juga dikenal dengan sebutan Dasamuka jarang ditampilkan
dalam bentuk yang menggambarkan namanya, sepuluh muka. Para juru golek mengaku
bahwa untuk menggambarkan tokoh yang berwajah sepuluh itu sangat sulit.
Pada
perkembangan masa kini, ketika pertunjukkan golek lebih banyak menampilkan
unsur lelucon, buta tidak lagi menyiratkan tokoh seram. Buta ciptaan baru,
kini, telah menjadi bahan mainan, olok-olok, bahkan menjadi bulan-bulanan
lawan. Biasanya tokoh-tokoh buta ciptaan baru itu dipertemukan dengan para
panakawan. Seloroh dan kritikan muncul dari dialog para buta dan panakawan ini.
Inilah bagian cerita yang menjadi daya tarik khusus pertunjukan wayang golek
masa kini.
RAUT
TAMPANG PANAKAWAN PANDAWA
Seperti
disebutkan di atas, sebuah pertunjukan wayang golek selalu dibumbui tampilan
para pelucu, yaitu panakawan. Melalui panakawan, dalang bisa mengolah cerita
yang lucu bahkan yang menyentil penonton. Panakawan Pandawa memiliki raut yang
khusus. Raut mereka --terdiri atas Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng-- tidak
bisa disatukelompokkan karena masing-masing tidak memiliki ciri raut kelompok
seperti satria, ponggawa, atau pun buta. ANTARA CIBIRU, CIBIRU LAMA, DAN CIBIRU
BARU Wayang golek yang digubah oleh Ki Darman masih sangat sederhana bentuk dan
hiasannya. Meskipun bukan golek gubahan awal, beberapa golek kuno masih bisa
diteliti untuk bahan perbandingan dengan golek yang digubah setelahnya. Ketika
tulisan ini disusun, M. Duyeh, seorang juru golek asli Cibiru, masih menyimpan
seperangkat golek yang diperkirakan telah berusia 150-an tahun. Golek-golek ini
merupakan milik dalang kondang dari Bogor, yang sering tampil di Istana Bogor
ketika masa pemerintahan Presiden Soekarno. Selanjutnya, oleh keuturunan dalang
tersebut dihibahkan kepada M. Duyeh.
RAUT PERANAN BUTA
Buta
atau raksasa, dalam cerita wayang, terdiri atas buta biasa dan buta garang.
Buta biasa adalah jenis buta yang ukuran tubuhnya hampir sama dengan tokoh
ponggawa badag, misalnya Bima dan Duryudana. Ciri keraksasaannya bisa dilihat
pada pola gigi yang menonjol, bertaring. Banyak tokoh ponggawa yang bisa
dikategorikan ke dalam kelompok ini. Tetapi, karena ciri keponggawaannya lebih
menonjol, tokoh seperti itu lebih tepat bila disebut ponggawa-buta. Dalam
artian, ciri buta tampak pada bagian giginya saja.
Secara
cermat bisa kita teliti pola warna hiasan bagian kepala boneka golek, yang
merupakan bagian raut golek yang terikat pakem. Golek gaya Cibiru Kuno,
warna-warna hiasan kepalanya cenderung kuning polos dan hitam. Warna putih dan
merah kadangkadang digunakan untuk memberi ketegasan bagian hiasan. Pola warna
turunan (gradasi) sudah tampak walaupun hanya terdiri atas tiga tingkatan
(misalnya: hitam, kelabu, putih). Pola sablonan belum digarap. Bagian rambut
digarap dalam pola global. Bahan cat masih menggunakan cat kayu yang cenderung
kusam.
Boneka golek gaya Cibiru Lama sudah mulai berubah warnanya. Warna kuning, di sini lebih mengutamakan warna “brom” (kuning emas), yang dominan pada golek Cibiru Kuno, masih dipertahankan. Warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan ungu mulai ditambahkan. Warna turunan telah menjadi empat tingkatan, ditambah goresan-goresan halus di atasnya. Hiasan jamang susun (bentuk segitiga pada dahi) mulai diisi warna selain warna brom. Pola ukel pada bagian rambut masih patuh mengikuti gaya kuno. Bahan cat sudah mulai berubah menggunakan cat duko.
Wayang golek tokoh Gatot Kaca (gaya Cibiru Baru) karya M. Duyeh, Cibiru, Kabupaten Bandung. Penanda utama karakter tokoh Gatot Kaca ada pada bagian mahkota, wajah (warna wajah, mata, alis, hidung, kumis, dan mulut), hiasan dada, badong, dan kelat bahu.
NILAI
ESTETIS NON-LIHATAN
Keindahan
raut yang tidak kasat mata (niskala, non-lihatan, non-visual) hanya bisa
dirasakan oleh penikmat yang memiliki latar pengetahuan dan akar budaya tentang
cerita wayang. Para penikmat yang lebih mengutamakan kenikmatan lihatan
(visual) hanya bisa menangkap unsur-unsur lihatan seperti garis, bidang, barik,
warna, isi, dan blabar. Keindahan yang niskala itu terutama bisa dirasakan,
misalnya, dalam kesesuaian watak dengan gambaran simbolis yang muncul pada
sikap kepala, warna wajah, tebal garis alis, bentuk hidung, tinggi tubuh,
bentuk mata, ukuran mulut, kumis, gigi, dan garis-garis penguat (seperti
rerengon). Tokoh yang pemberang, misalnya, digambarkan dengan mata melotot
(kedondong), rerengon turih, hidung besar, kumis besar, warna wajah yang merah
cabai, dan sikap kepala mendongak.
Ketekunan
para juru wayang dalam meramu lambang untuk menangkap watak tokoh sulit dicari
tandingannya. Mereka secara teliti memilah ciri raut tampang masing-masing tokoh
dalam aneka penanda yang berbeda-beda. Bahkan, untuk melengkapi tampilan watak
tokoh tertentu, terutama tokoh yang menjadi peran utama dalam sebuah cerita,
mereka menemukan pemecahan cara melalui penciptaan wanda. Apa yang tertulis,
tersebut, tercatat dalam cerita, tentang watak satu tokoh, ditafsirkan ke dalam
tampilan raut muka tokoh tersebut. Belum ada boneka yang memiliki gambaran
watak yang ditokohkannya selengkap yang ada pada raut wayang.


Komentar
Posting Komentar