IHWAL KARYA SENI RUPA ‘REMEH’

Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”

Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar belakang pemikiran akademisi. Karya-karya seni rupa jenis ini dianggap sebagai karya seni remeh (meminjam istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara teoretis oleh Prof. Sudjoko), yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa (ini juga istilah yang sama dari Prof. Sudjoko). Para pekota, “lawan” pedesa, telah membangun gap theory yang membentengi lingkaran teori seni rupa akdemis-otodidak. Tudingan para pekota selalu terarah kepada nihilnya nilai estetis karya para pedesa, dan dalam pandangan mereka, pekerjaan para pedesa tidak pernah terorganisir secara teoretis-akademis.

Ketika para pekota di Barat beranggapan bahwa seni utama adalah seni lukis, seni patung, dan seni bangun (ditambah seni gambar dan puisi), maka para pekota di hampir semua belahan dunia pun memegang prinsip tersebut. Di Indonesia yang mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga mengabaikan begitu banyak karya seni rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun simbolisnya sangat tinggi. Sehingga, ketika akan berbicara masalah estetika Indonesia, kesulitan yang dibangun dan dikedepankan adalah pertanyaan yang melemahkan semangat pencarian: “adakah teori estetika Nusantara yang bisa dijadikan landasan berpijak?”

Pada bagian tulisan ini dikutipkan secara utuh dua makalah yang ditulis Prof. Sudjoko dan Dr. Sanento Yuliman. Ini dimaksudkan untuk memperkaya bahan wacana yang agak berbeda landasan pikirnya dibanding teori umum yang telah dicomot tanpa saringan dari teori seni rupa Barat.

MENGULAS SENI NUSANTARA

 Oleh Sudjoko

 (Makalah dalam Dialog Kesenirupaan Indonesia: Eksistensi Seni Rupa dalam

 Perkembangan Ekonomi), di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 25 - 27 Februari 1992

Dampak Kata

Orang sekarang tidak tahu bahwa kata KRITIK itu disontek dari bahasa Barat (catatan kaki yang diubah: tanpa paham bahasa Barat, kita sekarang berhak menjadi sarjana, dan dosen. Dulu sih mustahil). Yang tahu pun mungkin tidak tahu dari kata apa: critic, critiek, kritisch, critique, critisize, critical, criticism .... yang maknanya seperti bunglon. Lalu apa itu ‘kritis’, ‘kritisi’ dsb. Saya sudah ketemu sarjana2 yang pusing karenanya. Jangan tanya lagi dosen muda, mahasiswa ingusan, dan pembaca koran. (Tentu saja yang dipersoalkan DIALOG ini bukan hanya tulisan, atetapi pembaca pers juga). Kita lebih suka percaya kepada takhyul “Ah masa nggak tahu? Semua orang kan sudah tahu”.

Karena segan menyelundupkan bunglon bule ke bahasa kita, saya memilih kata pribumi saja. Kita berhak mengasihani atau mencela warga yang meremehkan bahasa Indonesia. Tetapi bahasa asing tak masuk UUD 45 maupun GBHN,jadi kita boleh saja bego bahasa asing. Jelasnya, saya memilih kata ULAS. Artinya bahas, kupas, urai, syarah, yang pokoknya bukan kecam-an (atau belum tentu kecaman). Karenanya makalah saya untuk PWI Jakarta Raya juga berjudul ‘Ulas Seni’ (catatan kaki yang diubah: Di TIM Jkt, 30- 10-’87. Anda lebih suka ‘kupas seni’, ‘bahas seni’ dll? Terserah).

Kata ‘kritik’ memang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). Sialnya, keterangannya justru tidak cocok dengan maunya ‘kritik’ seni. (Tetapi yang tahu kan cuma segelintir ‘orang seni’, bukan?). Ketika menyusun KUBi, pak Poerwadarminta (dan kita) memang belum pernah mendengar sebutan ‘kritik seni’. Ini baru lho!

Sontek

Orang (berapa gelintir?) yang tahu kritik seni di Barat bisa berkata, “Maksud kritik seni itu sebenarnya begini”. Dan “begini” itu yan nebeng maksud Barat itu, lengkap dengan aneka istilahnya dan teorinya (asal tidak salah mengerti). Memakai tembung (catatan kaki yang diubah: tembung [Jw] bisa berarti sebuah kata, sekumpulan kata, bahkan juga bahasa) tebeng biasanya memang sekaligus menyedot isinya asal sono juga. Tentu, sepanjang yang dapat kita cerna (Maklum bahasa Barat ..). Itu tentang arti ‘kritik seni’.

Dan arti ‘disain’? Dalam suatu bincang disain di ITB yang diahdiri peminat dari berbagai kota, Solichin Gunawan, seorang ahli, menjawab kira2 begini: “Wah, susah dijawab. Tiap tahun artinya berubah. Maka itu kita harus terus mengikuti literatur Barat terbaru. Kalau tidak, kita akan ketinggalan terus”.

Dr. Sugito (dosen Fakultas Kedokteran UI) pernah bertanya kepada saya: “Indonesianya patient apa?”. Jawab saya, “Pelara saja, atau pesakit”. Langsung saja pak Gito menjawab, “Salah! Di Barat sekarang, orang sehat juga disebut patient!”. Tuh, gara2 menyembah istilah bule kita gampang sekali dibikin salah terus, dan linglung, dan ... bego.

Misalnya ULAS SENI. Ini mendorong kita mencipta maknanya sendiri, dan tidak menggiring naluri kita untuk bertanya kepada pakar manca (lalu manggut2 kebegoan). Hanya yang sudah terpaku pada tembung ‘kritik seni’ saja yang akan bertanya, “Apa itu ulas seni?”

Apa? Jawabanya kita susun sendiri saja menurut pengalaman dan tanggung jawab kita yang terbaik, dan menurut kenyataan dan keperluan rakyat kita sendiri. Tetapi ini minta kemauan untuk berpikir sendiri, melihat kenyataan dunia Nusantara sendiri, dan mempercayai bahasa kita sendiri. Jadi kalau nanti simanca datang bertanya tentang kritik seni kita, ya jawab saja “Saya tidak tahu maksud Anda. You mean ulas seni?” Dan kalau dia bertanya, “What ulas seni?”, ya kita ajarilah dia.

Seni Baru

Ada kata lama yang ketambahan makna baru: SENI. Maknanya yang lama tetap berlaku, misalnya ‘air seni’. Makna barunya muncul sekitar tahun 1950, yang kemudian menetaskan tetembung seperti seperti ‘seniman’, ‘kesenian’, ‘pendidikan seni’, ‘film seni’, ‘nyeni’, dan belakangan ini ‘kritik seni’.

Orang Belanda sendiri yang mengajar ‘seni rupa’ di sini resminya tidak pernah menggunakan istilah kunstcritiek (= kritik seni). Nama matakuliahnya saja Kunstbeschouswing (‘Tilik Seni’). Dengan sendirinya mahasiswa tidak diajari ‘ngritik’. Lalu dengan mudiknya guru2 Belanda (yang terakhir pergi tahun 1960) kita mulai banyak membeo sang adidaya. Jadi kita bilang ‘apresiasi seni’; tidak misalnya ‘tanggap seni’ atau ‘tilik seni’. Sementara itu sejak 1970an menggema tembung ‘kritik sastra’, ‘kritik seni’, dan ‘kritik film’. Semua ingin menyamai krotak-kritik di manca berikut nekateorinya sekalian. Otak kita ‘membayar hak cipta’ sono dengan menyedot aneka ‘kata orang’ sono, peristilahan, carapikir, carapilih, caranilai, perilaku di sono dll, tentu sejauh, sesempit, atau sebenar yang kita ketahui.

Kritik Seni Rupa

Dan kritik seni rupa? Wah, ini mah bukan kerjaan perupa. Nggak wajar dong kalau perupa menulis. Biar saja orang lain yang bertempur dengan mesin tik. Penghasilan mereka memang sangat kecil (dibanding dengan harga lukisanku), tapi dia toh dapat ‘nama’ dan ‘gengsi’, bukan? Dan kita toh perlu orang2 ‘idealis’ bukan, yang menulis “demi sejarah seni dan nama senirupa Indonesia di mata dunia” dan sebagainya. Pokoknya penulis itu tak usahlah ikut2 an mimpi “BuummM!”, sebab itu bukan nasibnya, bukan takdirnya, dan rezeki hanya bagiku.

Seni Rupa

Dalam ‘kritik seni’ kita, seni rupa itu sejenis lukisan berbingkai. Pokoknya yang seperti di sanalah Hanya terkadang dia itu patung, gerabah, dan gambar pena, itupun harus yang ‘murni’. Buatannya mesti bisa dicap dengan istilah membarat, misalnya ekspresionis, surealis, dan sebagainya.

Selain itu, Ditjen Kebudayaan tentu berpegang pada Pancasila dan UUD. Dan kita tahu, di situ ada keadilan bagi seluruh rakyat, ada persatuan Indonesia, ada kerakyatan, yang semua sejalan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak Soedjatmoko dulu mengamanatkan solidaritas sosial, maknanya di zaman gusur-menggusur kini makin terasa. GBHN juga menamakan tugas Pemerataan. Rasa cinta tanahair dan bangsa sendiri juga masih tetap rawan. Orang nusa Jawa, termasuk senimannya, tetap saja suka melupakan atau meremehkan luar-Jawa. Kita juga lebih sigap melayani wisman daripada wispri. Dan begitulah seterusnya. Belum lagi perkara ini mengendap, sudah ada pula comotan baru dari tuan Naisbitt: ‘globalisasi’ (catatan kaki yang diubah: Sehingga perlu ‘Seminar Nasional Pendidikan Seni dan Globalisasi Budaya’ di Yogya [Desember 1991]). Dia mengaitkannya cuma dengan ekonomi Amerika, eh, kita dengan segalagalanya di Indonesia.

Pokoknya, tiap pikiran untuk mengabaikan sebagian bangsa dan tanah air, meremehkan budaya maupun senirupa ‘beyond the Java Sea’ (meminjam ajaran KIAS) adalah benih ketimpangan, kegecotan, perasingan, kesombongan, kelaliman, dan perpecahan (gecot = tak benar; lalim = tak adil). Kepada perkara beyond tadi ingin saya tambahkan dua lagi: ‘beyond the big city’ dan ‘beyond modernism’, sebab kawasan ini juga sarat seni rupa. Yang tidak sependapat mungkin hanya penganut polapikir tertentu saja tentang SENI RUPA. Yang namanya ‘seni’ itu apa? ‘Seni rupa’ itu apa? Pemodern tentu senang pembongkaran dan pembaruan, termasuk bongkar-pasang-baru pola pikirnya sendiri.

Serba Rupa

Orang yang belajar seni rupa di lembaga tinggi kita dapat memilih bidang yang kebetulan disukai ‘kritik seni rupa’. Tetapi dia juga bisa memadaikan diri bidang tenun, batik, ukir, iklan, rekaruang, rekabenda, rekabuku, pariwara, dll. yang telah atau bakal ada. Saya sendiri mimpi jurusan rekaswatur atau computer design (catatan kaki yang diubah: Calon gurunya sudah saya siapkan: Rina Wayanti. Mulai tahun 1992 dia akan menekuni Computer Design dulu di Ohio State University). Singkat kata, dalam pendidikan kita, SENI RUPA itu sudah jauh lebih luas dari yang selama ini dimaksud oleh pameran/diskusi/sejarah/hadiah/kritik seni. Aneh tapi nyata.

Karena itu para mahasiswa mengikuti segala macam sayembara senirupa yang disiarkan koran (membuat pariwara, logo, piala dll). Banyak lulusan bekerja menangani senirupa di majalah, perusahaan iklan, pabrik tenun, pabrik mebel dll. Ada juga yang menjadi ahli rekataman. Taufan Sukarno (putra Bung Karno) lulus sebagai sarjana seni rupa ITB dengan rekamobil sebagai karyatama. Kawasan senirupa teramat luas, dan mahasiswa diberi kesempatan untuk menggarap apa saja di situ yang mereka minati. Matakuliah Seminar dan Skripsi khusus disediakan untuk itu. Misalnya, dengan bimbingan saya ada yang menulis skripsi tentang segala kemasan/wadah jajanan Jawa: kupat, klepon dll. Inilah senirupa yang tak ada duanya di dunia. Telah dua orang menulis tentang perhiasan Runi Palar (yang sering saya sebut sebagai seniwati Indonesia paling kenamaan di seluruh dunia). Ada skripsi yang mengupas seni pandai besi: golok, pisau, arit dll. Dan begitulah seterusnya.

Serbamoh

Cuma (kecuali Yusuf Affendy), mereka itu --dan hampir semua sarjana senirupa lain-- tidak doyan menulis makalah dan artikel, bahkan menulis diktat juga tidak. Di sinilah sumber lain dari ‘masalah kritik seni kita’. Tetapi beginilah bangsa kita dan seniman kita ini, termasuk yang tertinggi pendidikannya: moh-nulis, selalu berdalih “tidak bisa menulis” atau “bukan tugasku menulis”. Menurut Yus Badudu ada dalih lain: “Maklum, saya bukan sastrawan ...” Karena kuatnya adat mohtulis ini bangsa kita juga tidak pernah punya minat untuk menggalakkan rangsangan menulis. Kita baru pandai merangsang orang untuk menjadi penyanyi pop. (Sejuta rupiah satu lagu, 75 juta rupiah untuk mentas di malam ‘Old and New’).

Virus Lain Bernama Mohteori

Ini menulari sebagian ‘dosen praktek seni’ (guru melukis, mematung dll). Nalarnya begini: teori itu bukan kerjaan ‘guru praktek’, termasuk teori tentang bidang-praktek mereka sendiri. Jadi kalau dikirim ke luar negeri, mereka hanya mau ‘kerja praktek’ melulu. Kembalinya tentu saja tanpa ijazah tambahan.

Karena dirasakan perlunya teori dalam mengajarkan praktek mereka, di masa 80an diciptakan obatnya: teori itu kerjaan ‘dosen teori’. Jadi mesti ditunjuk dosen-teori buat mengajar teori lukisan, teori patung, teori tenun dst. Di Barat juga begitu, katanya. Tetapi, apanya yang “begitu”? Langkanya teoriwan senirupa? Langkanya kaum sukabaca? Di kita, sialnya, itu ‘dosen teori’ terlalu langka. Masalahnya jelas: membaca dan membaca buku2 berbahasa asing. Padahal kita ini bangsa mohbaca dan mohtahu bahasa asing. Belum lagi soal penghasilan menulis.

Televisi

Hampir tiap malam TVRI menayangkan seni rupa, sebagai warta pendek maupun tayangan panjang. Misalnya tentang tenun, batik, busana, anyaman, kerang, kulit, kue besar, perabot rumah, bunga kering, karangan bunga, giok Cina, lomba patung es, keris, topeng, wayang, lukisan bulu, lukisan paranormal, dan banyak lagi dari seluruh Nusantara. Pewarta TV, mungkin karena tidak pernah belajar teori seni memBarat, leluasa saja mengejar rerupa yang menarik dan elok. Dia mengajak kita nonton (pameran) seni yang tak digubris pekritik dan dicibir kaum mongkok. Paling tidak dia bicara, minta seniman dan penikmat nimbrung. Kritik seni? Bukan. Ini warta seni, bincang seni. Ini mestinya jatah pengamat seni berpengetahuan jembar. Tapi seniman mana yang mau jadi wartawan TV? Bagaimanapun juga, semua tadi nyata berselisih jalan dengan ‘kritik seni’. Surat kabar pun menampakkannya. Di situ ada dua jenis tulisan seni: yang satu ‘kritik seni’, yang lain seperti yang di TV.

Kaji Rupa

Mari kita tengok senirupa kajian tiga ahli, pilihan dari jutaan buku kajiseni. Tiap sebutan ‘kunst’ (= art) akan saya alih ‘seni’, dan ‘kunstenaar’ (= artist) ‘seniman’. William Willets. 1958. Chinese Art. Dua jilid, 802 halaman. Ini sejarah senirupa dari masa purba sampai dengan abad 20. Isinya 8 bab, a.l. Jade (giok) 53 hal., Bronze (gangsa) 48 hal., Lacquer and Silk (rengas dan sutera) 79 hal., dan Pottery (kundian) 100 hal. Jadi, 280 halaman untuk empat rerupa ini, atau hampir sepertiga buku. Bab 5, Painting and Calligraphy, makan 116 halaman, sebagian untuk lukisan, sebagian untuk suaksara. Dalam Jade dibahas antara lain badik, gelang, kancing, jimat dan bedor (mata tombak/panah); dalam Lacquer and Silk a.l. pinggan, bejana, jambang, cepu (tempat menaruh tembakau dsb, dari kayu atau logam), cermin, tenunan; dalam Bronze, aneka bejana/guci.

Prof. Dr. J.H. Kramers. 1953. Over de Kunst van de Islam.

Jenis - jenis  yang dibahas buku seni Islam ini a.l. kunsthandwerk (seni kria), metaalkunst (seni logam), zijdeweefkunst (seni tenun sutera), tapjtkunst (seni ambal), schrijfkunst (seni tulis), miniaturkunst (seni lukisil: lukisan mungil, dimuat dalam buku), weefkunst (seni tenun), portretkunst (seni wajah), boekkunst atau de kunst van het boek (seni buku), calligrafiekunst (seni suaksara: sebetulnya suaksara saja cukup), snijkunst (seni ukir), knipkunst (seni gunting), ceramische schilderkunst (senilukis kundian), decoreerkunst (seni hias), binnendecoratie (hias halaman), baksteendecoratie (hias bata), decoratie atau muurversiering (hias dinding), stucco-decoratie (hias turap), glazuurtegel-decoratie (hias ubin kilap), inlegwerk (sesemat), tuinaanleg (rekataman), marmermozaiek (dandi pualam), dan glasmakerij (pekacaan).

Prof. Dr. A.W. Nieuwenhuis. 1923. ‘Kunst en Kunstvaardigheid in Indie’ Mingguan Indie, bersambung 40 kali.

Diakui oleh pengarang bahwasanya senirupa Indonesia terlalu kaya sehingga dia memilih sebagian kecilnya saja dari beberapa daerah. Untuk ini dia menggunakan istilah2 berikut yang akan saya alih katawi: kunsthandwerk (seni kria), weefkunst (seni tenun), kunstvlechtwerk (seni anyam), kunt van het kopergieten (seni cor kuningan), snijkunst kunstsmeedwerk (seni tempa logam), versieringskunst (seni hias), kunstmederij (apar senibesi: apar berarti dapur pandai besi), zilversmeedkunst (seni perak). Pelakunya antara lain siekunsttenaar (seniman hias), snij-kunstenaar (seniman rujit/ukir/pahat), dan kunstsmid (seniman besi).

Gambar - gambar yang disertakan pengarang, masing2 sebesar satu halaman, melihatkan slandok (gesper) kuningan/emas, udutan, bun (tempat sirih) emas, pantik (besi pemercik api) berantai, gelang cor, selendang sutera bersulam emas-perak, sundusi, kampil (tas kecil), lampit rotan, wadah mesiu dari tanduk, aneka keris, bedor-pamor lembing), dokoh (hiasan berantai untuk leher), senjata2 kerajaan, sabuk-kia (kia = steek, jahitan) perak, wayang kulit, wayang kulit + gamelan lengkap, rumah adat berukir, kepala suku Toraja berpakaian upacara, wanita Aceh menenun, dan pembatik cap.

Kritik

Salah satu bidang masalah KRITIK SENIRUPA berpangkal pada tembung ‘kritik seni’ itu sendiri, sebab menyelundupkan muatan2 berikut dari sumber Baratnya: 1) hanya mengitari satu-dua jenis senirupa; 2) berpatokan ‘seni murni’; 3) hanya menggauli seni baru; 4) hanya menyoroti seni pribadian; 5) hanya menonjolkan seni kotabesar; 6) hanya melayani kaum tengahatas; 7) hanya menguntungkan senirupa kota besar Jawa; 8) hanya menggunakan peristilahan Barat.

Kritik senirupa hanya mengurusi sebagian kecil senirupa di Nusantara (biarpun yang paling besar mulut), alias tidak berwawasan Nusantara. (Jadi berwawasan apa?) Maka itu ada baiknya nama diganti dengan bahas seni, tilik seni atau ulas seni saja, lalu kita isi muatannya. Bertanya “what’s in name?” memang gampang. Tetapi menjawabnya? .... Bangsa kita punya jawab sendiri. Kita renungi saja selera bangsa kita sekarang: cara kita menamai segala sesuatu, dan mengubah nama-pribumi segala sesuatu, khususnya cara pekota.

TV dan Pers

Dengan demikian dewasa ini peranan pers dan TV menjadi paling menentukan (entah harus sampai kapan). Segala jenis uraian senirupa masih harus ditumpahkan di situ. Kalau di negara maju tidak begitu, ya itu karena negara itu sudah maju. Kita pahamilah ini. Janganlah kita suka mimpi mau seperti sana  padahal landasannya tidak ada. Yang perlu disajikan TV/pers ialah ilmu seni, tanggap seni, dan ulas seni, secara terpisah maupun tergabung.

 BATIK, SANG PENJELAJAH

 Pokok pikiran diajukan dalam Sarasehan Batik, pada 9 September 1990,

 di Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta, dalam rangka Dies

 Natalis Asrama Mahasiswa GKBI Yogyakarta.

 Oleh Saneno Yuliman

“Menjelajah”, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia 1976, berarti menjajah atau bepergian, menyelidiki, dsb, ke mana-mana. Diterapkan untuk batik, kata itu tentu saja digunakan dalam arti kias. Batik, sebagai cabang seni, dikatakan menjelajah, dalam arti merambah ke berbagai arah, mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya tidak dilakukan. Saya ingin menggarisbawahi kenyataan sejarah yang memperlihatkan betapa batik memiliki sifat penjelajah ini, dan ingin menggarisbawahi sifat ini sebagai unsur pokok yang di dalam pikiran kita selayaknya membentuk citra kita tentang batik. Tentu saja itu berarti, saya memegang citra dinamis tentang batik: saya memandang dinamika sebagai unsur hakiki di dalam batik. Pandangan begini membawa konsekwensi dalam praktek seperti akan saya bicarakan kemudian.

Perumitan dan Penghalusan

Proses pembuatan kain batik cukup rumit. Seluruhnya ada 5 macam proses pokok, dari penyiapan kain hingga nglorod (menghilangkan malam) dan proses akhir. Masing-masing proses itu berisi sejumlah proses. Penyiapan kain, misalnya, meliputi 4 tahap atau proses (mencuci, ngetel, nganji, ngemplong), sedang proses kerja dengan malam, berisi 6 proses (nglowongi, nembok, mbironi, nonyok, ngremuk, cocohan). Tentunya kita perlu mengingat pula peralatan dan perlengkapan yang digunakan.

Terdapat perkembangan yang jauh dalam teknik, dari batik sederhana dan kasar yang telah kita singgung di muka, ke batik Jawa yang kita sebut tradisional atau klasik. Bagaimana perkembangan begitu terjadi dalam masyarakat yang selama itu berpedoman pada tradisi? Tentu berjalan lambat dan lama, berabad-abad, sekalipun seandainya kita memperhitungkan kemungkinan pengaruh dari luar. Perkembangan itu meniscayakan penjelajahan.

Empat ribu orang wanita sedang membatik yang disaksikan Rijklof van Goens waktu Gubernur V.O.C. itu mengunjungi keraton Mataram pada 1606 menunjukkan, bahwa pada awal abad ke-17 batik telah menjadi seni, dan industri, yang penting dalam keraton Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing dengan tekstil halus, bergambar, dari India (malabar), yang masuk dalam jumlah besar ke Nusantara. Perkembangan canting dan proses batik niscaya sebagian dipacu oleh tantangan ini, untuk menghasilkan kain yang tangguh dalam persaingan.

Perluasan Konsumen dan Penekaragaman Kebutuhan

Tantangan tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18. Pemerintah kolonial Hindia Belanda ditegakkan di abad-19, memperkecil dan memperlemah kekuasaan keraton-keraton, termasuk genggaman mereka atas batik. Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan bermacam etnis – masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis adalah ciri penduduk kota pesisir – ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat komunikasi antar-etnis. Yang memerlukan batik, meluas: bukan hanya orang Jawa. Tambahkan ke dalamnya ikhwal pertambahan penduduk.

Kedua abad ke-19 menyaksikan terbukanya Indonesia bagi modal asing dan hasil industri Eropa, di antaranya tekstil. Batik ditantang bukan saja oleh kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi juga oleh persaingan. Kita tahu jelajah baru, bahkan perkembangannya kemudian, yang diberikan batik sebagai jawaban: mengembangkan canting cap, menyerap bahan warna sintetis, menyederhanakan cara produksi – berbagai upaya untuk meninggikan produktivitas dan mengendalikan biaya. Tentu penting untuk memperhatikan segi kumulatif: penjelajahan ini menambah pada apa yang sudah ada, dan bukan melupakan atau melenyapkan sama sekali.

Pemakaian busana tradisional menyusut, hingga di masa kita sekarang terbatas pada pesta dan upacara, khususnya bagi wanita. Tetapi batik memperluas jelajahannya di bidang guna. Di masa kita sekaramg kawasan batik mencakup banyak macam pakaian, berjenisjenis perlengkapan, dan berbagai barang untuk berbagai macam keperluan. Untuk penjelajahan semacam itu, pembatik trdisional tidak mencukupi. Kita menyaksikan tumbuhnya perancang dalam berbagai jenis dan tingkat, mulai dari penyungging dalam perusahaan kecil dan menengah, yang kerjanya menyadur ragam hias terlaris di pasar, atau menggambar pola kemeja lengkap dengan ragam hiasnya (siap potong dan jahit), sampai designer jenis Iwan Tirta.

Memudarnya masyarakat tradisional, ekonomi pasar, perluasan konsumen, tampaknya telah menambah dinamika batik, memperluas dan mempergencar penjelajahannya. Satu lagi: ketika adat memudar, ikatan etnis, kerabat, dan daerah melonggar, batik bertemu dengan kumpulan luas individu yang serbaragam. Dan batik, sebagai sandang, sebagai perlengkapan diri dan perlengkapan rumah, tak ayal memasuki wilayah pribadi – bertemu dengan citra diri dan cita rasa yang sangat anekaragam dan berubah-ubah dalam kumpulan individu yang sangat luas itu. Kenyataan ini memperkuat tuntutan terhadap batik akan penjelajahan yang sadar dan berencana di jaman sekarang.

Batik, San Penjelajah

Ini tidak bertujuan mencatat sejarah batik, apalagi terperinci dan lengkap dengan nama-nama pihak dan orang yang berjasa di dalamnya. Cukuplah bila dapat ditonjolkan ke permukaan salah satu ciri yang dimiliki batik: sifat penjelajah. Bukan penjelajah yang kian-kemari dengan tangan hampa. Sebab, kita dapat menyidik sifat selektif dan kumulatif penjelajahannya: ia tidak membuang segala apa yang telah diperolehnya dalam perjalanannya, tanpa timbang-timbang dan pilih-pilih.

Bagaimanapun, penjelajahan itu, di jaman sekarang, tidak dapat berlangsung secara meraba-raba: sekarang, penjelajahan itu perlu sadar, berencana, kritis. Itu berarti, penjelajahan perlu berlangsung dengan sikap dan laku menelaah, menilai, dan mencari tindak lanjut. Penjelajahan itu juga perlu ke berbagai arah: ke arah bahan dan teknik, ke arah rupa, dan ke arah guna. Ke arah bahan dan teknik, tentu saja berarti telaah perlu pula diarahkan kepada sistem yang di dalamnya bahan dan teknik itu digarap atau dilaksanakan: telaah ke arah sistem produksi. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana yang mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna tentulah menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku pemakai sehubungan dengan produk. Dan tak pula kurang terkait: saluran, yang mengantarkan produk kepada pemakai. Dengan kata lain, sistem distribusi. Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan pengembangan, yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya.

Hasil penelitian dan bahasan lain tentang karya seni rupa beyond the major art ditampilkan di sini. I Wayan Nuriarta dan I Nyoman Mahayasa, kedua-duanya lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS-UNDIKSHA, melakukan penelitian untuk menyelesaikan program S1 kependidikannya dengan topik bahasa tentang komik Naruto (Nuriarta) dan grafiti (Mahayasa). Sebagian laporannya menjadi bagian dalam tulisan ini, setelah disesuaikan dengan peruntukan.

Hasil Penelitian

Komik

(Bagian dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)

Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001) dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, gambar-gambar serta lambanglambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku komik (McCloud, 2001;9)

Pada dasarnya, komik merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk membedakan komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna. Comic-strips merupakan komik bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan comik-book atau buku komik adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu atau lebih judul dan tema cerita.

Manga

Secara umum manga diartikan sebagai komik made in Japan. Manga bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga sebagai bentuk kesenian visual dari Jepang tidak hanya memiliki kualitas gambar yang baik dan unik, namun juga sangat ditunjang dengan kekutan dan keragaman cerita yang menarik. Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika (1760-1849) dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Manga pertama kali muncul pada abad ke18 dengan buku komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka yang terkenal dan mendunia baik sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang.

Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata “manga” digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai. Sebelum orang mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah dikenal seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya cerita. Seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan cerita itupun belum berbentuk buku, tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut emakimono. Manga artinya kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu.

Manga mulai membanjiri pasar Jepang antara tahun 1940–1960-an, dengan ketebalan 64- 96-128 hingga 192 halaman. Walau dicetak pada kertas berkualitas rendah, produk ini disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias. Dan di antara komikus saat itu, Osamu Tezuka tampil ke depan melalui karya-karya fiksi ilmiahnya.

Jenis-jenis manga yaitu: Shoujo Manga, Shounen Manga, . Doujinshi Manga.

TEKS VISUAL KOMIK NARUTO

Pelukisan Adegan

Naruto adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Sejak awal penerbitannya, Naruto telah memancing permunculan ribuan situs berisi informasi rinci, panduan, dan forum internet tentang manga ini. Beberapa situs terkenal muncul setelah versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain itu, muncul pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Cara Baca Komik Naruto

Pada cara membaca, ukuran frame memberikan jeda dan menentukan urutan membaca komik Naruto. Jika ada frame yang memiliki ukuran sama, maka frame dibaca berurutan baik yang terjadi secara vertikal maupun horisontal sebelum pindah ke frame dengan ukuran yang berbeda. Teknik membacanya tetap menggunakan pola dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah.

Seni Jalanan (Street Art) (Sebagian laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang Grafiti di Denpasar)

Seni jalanan atau biasa disebut juga street art kemudian muncul menjadi istilah yang dipakai untuk membedakan dengan karya seni yang dibuat dan ditempatkan dijalanan dengan meminta ijin kepada pihak yang berwenang. Seni jalanan merupakan perkembangan dari grafiti yang biasa di buat dengan cat semprot (aerosol) kemudian berkembang menggunakan berbagai teknik pembuatan misalnya: stensil, stiker, tempelan kertas/ whet pasting, poster atau campuran dari berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan tanpa ijin dari pihak berwenang dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong kereta, pos polisi, papan reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya perkara. Perkara inilah yang sering pelaku seni jalanan dianggap sebagai pelaku vandalisme.

GRAFITI

Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng. Menurut Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah salah satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat berupa sebuah karya seni, gambar ataupun kata-kata. Ketika suatu graffti dikerjakan tanpa sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak sejak peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.

SEJARAH GRAFITI

Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti. Yang awalnya hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media perlawanan dan protes. Mulai terpisahkannya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan, grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas sosial masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. Seolaholah grafiti memberikan kita satu pembelajaran dan ajakan untuk melihat kondisi realitas sosial yang ada, dan tidak diam menghadapi hal itu. Contoh kita sering melihat cuplikan video yang di tayangkan di televisi pada masa sebelum orde baru, ada tulisan yang berbunyi “freedom” di tembok-tembok yang pada saat itu menjadi media suara mereka karena teknologi pada saat itu belum seperti sekarang.

PERKEMBANGAN GRAFITI

Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.

Grafiti sekarang mulai memasuki masa keemasannya, selain di Indonesia sendiri, di Ameri-ka atau tepatnya di Brooklyn Museum sering diadakan pameran grafiti yang kini disebut juga sebagai seni kontemporer. Berbagai bomber profesional seperti Crash, Lee, Daze, Keith Haring dan Jean-Michel Basquiat menjadi pahlawan dalam seni grafiti. Sekitar 22 bomber ikut berpartisipasi dalam pameran ini. Lain di Amerika lain pula di Australia. Negara yang satu ini bahkan menjadikan grafiti sebagai lomba publik yang selalu memiliki jumlah peserta yang sangat banyak. (“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’, Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005)

GRAFITI PADA ZAMAN MODERN

Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.

Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme

Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu sendiri (www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007).

Dan grafiti yang merupakan satu dari sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun din-ding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari grafiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat grafiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan publik.

Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku grafiti maupun grafiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan publik. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan grafiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.

Grafiti Action Sebagai Sebuah Komoditi

Tak bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku grafiti. Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action tersebut, baik yang pure seni ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda.

Karena kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi grafiti. Grafiti akan menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain grafiti seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat buruk dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti halnya hakekat dari seni yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran suatu saat, untuk melihat grafiti action harus mengeluarkan sejumlah uang.

Aliran Grafiti

Aliran atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag” merupakan salah satu dasar yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan gaya dalam menulis atau membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik, biasanya para bomber memiliki ciri khas ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula yang disebut throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik menggambar dengan sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di mana kecepatan menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.

Dalam seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang sering digunakan oleh para bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok jalanan ibu kota. Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari aliran-aliran grafitti : bubble, wildstyle atau semi wildstyle, 3D, tagging.

Fungsi Grafiti

Dari berbagai macam jenis grafiti yang ada, fungsi grafiti pada zaman modern mengalami perkembangan fungsi. Adapun beberapa fungsi dari Grafiti. (http://www.freemagz .com, diakses 14 April 2007).

1.      Bahasa rahasia kelompok tertentu.

2.      Sarana ekspresi

3.      Sarana pemberontakan.

Komunitas Grafiti Di Kota Denpasar

Pengaruh musik R&B, hip-hop, dance dan skate board turut serta menjadi bagian tak terpisahkan dalam perkembangan grafiiti di Denpasar. Namun Belum ada yang mengetahui pasti kapan dan dimana grafiti di Denpasar pertama kali ditemukan. Semenjak tahun 2000 komunitas bomber semakin marak di Denpasar, ini dikarenakan pengaruh media elektronik, majalah dan internet yang memberikan banyak informasi tentang gaya hidup remaja saat ini yang kini sering diikuti oleh remaja yang ada di Denpasar.

Komunitas grafiti lain diantaranya abilty, flame kidz, U-zack, Socbeker, M2crew, Hollygan, TRN, 5 Cru, Cyber, ABILITY, TRN, WBA, PEGOK, DOZ, 153, WEBER, Racy, #2Bomb, Criz, Buble, popeye dan banyak lagi bomber yang meramaikan pembuatan grafiti. Mereka terbentuk setelah beberapa perkumpulan kecil para pembuat grafiti di Denpasar, karya-karya mereka kebanyakan hanya berupa tagging (tag/inisial atau singkatan nama) yang tersebar di beberapa sudut tembok yang ada di kota Denpasar.

Motivasi Membuat Grafiti

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada para bomber pada tanggal 14 Januari 2008, diketahui bahwa motivasi untuk membuat grafiti tidak lain adalah untuk memperindah kota di samping faktor sekedar menunjukkan dirinya melalui grafiti. Hal ini diungkapkan oleh Cory. Tentu pendapat ini masih menimbulkan perdebatan dalam mengidentifikasikan tentang keindahan kota. Mereka berpendapat bahwa kebersihan tidak relevan dengan keindahan. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan, tetapi kebersihan. Bersih bagi mereka belum tentu indah, sedangkan indah bisa dimaknai dengan bersih.

Grafiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia. Karya grafiti telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang awalnya hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni. Kehadiran grafiti di Denpasar memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin memperindah kota atau semakin memperburuk kota. Perkembangannya kini apakah Grafiti yang sudah meng-arah pada bentuknya yang artistik (tidak sekedar corat-coret) mampu memberikan keseimbangan lingkungan secara visual maupun perannya dalam berhubungan dengan budaya maupun masyarakat sosial setempat.

Penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui motivasi dari para pembuat grafiti, yang biasa disebut bomber. Para bomber memiliki motivasi yang beragam ketika membuat grafiti. Ada yang melakukannya untuk memperindah kota, namun ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kegiatan vandalisme. Dikatakan vandalisme sebab mereka melakukan karya grafiti di tembok milik seseorang tanpa meminta ijin kepada orang tersebut. Graffitti sendiri cenderung dicap oleh masyarakat sebagai karya vandalisme dan kurang mendapat tempat di hati masyarakat, meskipun dalam grafitti itu terdapat unsur seni kaligrafi.

Dalam melakukan karya grafiti, para bomber mencari tembok-tembok yang tidak terawat untuk digunakan sebagai media. Tembok tak terawat yang dimaksud adalah tembok yang dibiarkan kumuh, tembok yang dulu putih bersih namun sekarang ada lumut hingga kecoklatan, dan tembok yang dibiarkan rusak, dan tembok milik umum yang tidak dirawat oleh instansinya. Namun bagi beberapa bomber yang memiliki jiwa pemberontakan dan anti kemapanan, tembok yang bagus juga dapat menjadi sasaran. “Mereka jengah dengan warna putih yang menyilaukan mata. Jika di kawasan perumahan, mereka melakukannya untuk mendobrak tatanan yang rapi dengan sengaja memberi karya grafiti agar nampak eye catching,” Kata Cory. Grafitti yang dibuat umumnya adalah tulisan nama-nama gank (kelompok).

Penelitian ini juga menyatakan bahwa motivasi sebagian besar bomber dalam membuat grafiti adalah untuk memperindah kota. “Bagi mereka, indah tidak sama dengan bersih. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan tetapi kebersihan. Bersih belum tentu indah, tetapi indah bisa dimaknai dengan bersih,” tutur DD. Menurut cory, grafiti merupakan karya seni yang berpotensi memperindah kota apabila grafitti tersebut mampu berinteraksi dengan lingkungannya. “Sayangnya, anak-anak Denpasar membuat grafiti hanya untuk mengikuti trend namun tidak diikuti dengan kualitas visual grafiti. Sehingga, semakin menimbulkan kesemrawutan visual kota yang sudah dikacaukan oleh produkproduk iklan,” jelasnya.

Oleh karena itulah, penilaian keburukan citra bersih tidak disama-ratakan kepada semua bentuk grafiti. Ada grafiti yang memang benar-benar bertujuan untuk memperindah kota, tetapi ada juga grafiti yang memang untuk merusak yang indah dan baik. Melihat tujuan grafiti artistik seperti di atas, maka pemilihan tempat pun direncanakan sebaik mungkin. Tembok yang tak terawat terlebih pada jalan-jalan utama atau strategis mereka timpa dengan grafiti artistik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS LATIHAN 2 INFOGRAFIS

PENGELOMPOKKAN SENI RUPA

Ainaya Fathul Zannah - Sejarah Seni, Seni Kriya, dan Desain – Latihan 4