IHWAL KARYA SENI RUPA ‘REMEH’
Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”
Banyak
karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus dari para teoretisi seni
rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa karya-karya tersebut dianggap
bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar belakang pemikiran akademisi.
Karya-karya seni rupa jenis ini dianggap sebagai karya seni remeh (meminjam
istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara teoretis oleh Prof. Sudjoko),
yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa (ini juga istilah yang sama dari
Prof. Sudjoko). Para pekota, “lawan” pedesa, telah membangun gap theory yang
membentengi lingkaran teori seni rupa akdemis-otodidak. Tudingan para pekota
selalu terarah kepada nihilnya nilai estetis karya para pedesa, dan dalam
pandangan mereka, pekerjaan para pedesa tidak pernah terorganisir secara
teoretis-akademis.
Ketika
para pekota di Barat beranggapan bahwa seni utama adalah seni lukis, seni
patung, dan seni bangun (ditambah seni gambar dan puisi), maka para pekota di
hampir semua belahan dunia pun memegang prinsip tersebut. Di Indonesia yang
mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga mengabaikan begitu banyak karya seni
rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun simbolisnya sangat tinggi.
Sehingga, ketika akan berbicara masalah estetika Indonesia, kesulitan yang
dibangun dan dikedepankan adalah pertanyaan yang melemahkan semangat pencarian:
“adakah teori estetika Nusantara yang bisa dijadikan landasan berpijak?”
Pada
bagian tulisan ini dikutipkan secara utuh dua makalah yang ditulis Prof.
Sudjoko dan Dr. Sanento Yuliman. Ini dimaksudkan untuk memperkaya bahan wacana
yang agak berbeda landasan pikirnya dibanding teori umum yang telah dicomot
tanpa saringan dari teori seni rupa Barat.
MENGULAS
SENI NUSANTARA
Oleh Sudjoko
(Makalah dalam Dialog Kesenirupaan Indonesia:
Eksistensi Seni Rupa dalam
Perkembangan Ekonomi), di Gedung Pameran Seni
Rupa, Departemen
Pendidikan
dan Kebudayaan, Jakarta, 25 - 27 Februari 1992
Dampak Kata
Orang
sekarang tidak tahu bahwa kata KRITIK itu disontek dari bahasa Barat (catatan
kaki yang diubah: tanpa paham bahasa Barat, kita sekarang berhak menjadi
sarjana, dan dosen. Dulu sih mustahil). Yang tahu pun mungkin tidak tahu dari
kata apa: critic, critiek, kritisch, critique, critisize, critical, criticism
.... yang maknanya seperti bunglon. Lalu apa itu ‘kritis’, ‘kritisi’ dsb. Saya
sudah ketemu sarjana2 yang pusing karenanya. Jangan tanya lagi dosen muda,
mahasiswa ingusan, dan pembaca koran. (Tentu saja yang dipersoalkan DIALOG ini
bukan hanya tulisan, atetapi pembaca pers juga). Kita lebih suka percaya kepada
takhyul “Ah masa nggak tahu? Semua orang kan sudah tahu”.
Karena
segan menyelundupkan bunglon bule ke bahasa kita, saya memilih kata pribumi
saja. Kita berhak mengasihani atau mencela warga yang meremehkan bahasa
Indonesia. Tetapi bahasa asing tak masuk UUD 45 maupun GBHN,jadi kita boleh
saja bego bahasa asing. Jelasnya, saya memilih kata ULAS. Artinya bahas, kupas,
urai, syarah, yang pokoknya bukan kecam-an (atau belum tentu kecaman).
Karenanya makalah saya untuk PWI Jakarta Raya juga berjudul ‘Ulas Seni’
(catatan kaki yang diubah: Di TIM Jkt, 30- 10-’87. Anda lebih suka ‘kupas
seni’, ‘bahas seni’ dll? Terserah).
Kata
‘kritik’ memang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). Sialnya,
keterangannya justru tidak cocok dengan maunya ‘kritik’ seni. (Tetapi yang tahu
kan cuma segelintir ‘orang seni’, bukan?). Ketika menyusun KUBi, pak
Poerwadarminta (dan kita) memang belum pernah mendengar sebutan ‘kritik seni’.
Ini baru lho!
Sontek
Orang
(berapa gelintir?) yang tahu kritik seni di Barat bisa berkata, “Maksud kritik
seni itu sebenarnya begini”. Dan “begini” itu yan nebeng maksud Barat itu,
lengkap dengan aneka istilahnya dan teorinya (asal tidak salah mengerti).
Memakai tembung (catatan kaki yang diubah: tembung [Jw] bisa berarti sebuah
kata, sekumpulan kata, bahkan juga bahasa) tebeng biasanya memang sekaligus
menyedot isinya asal sono juga. Tentu, sepanjang yang dapat kita cerna (Maklum
bahasa Barat ..). Itu tentang arti ‘kritik seni’.
Dan
arti ‘disain’? Dalam suatu bincang disain di ITB yang diahdiri peminat dari
berbagai kota, Solichin Gunawan, seorang ahli, menjawab kira2 begini: “Wah,
susah dijawab. Tiap tahun artinya berubah. Maka itu kita harus terus mengikuti
literatur Barat terbaru. Kalau tidak, kita akan ketinggalan terus”.
Dr.
Sugito (dosen Fakultas Kedokteran UI) pernah bertanya kepada saya:
“Indonesianya patient apa?”. Jawab saya, “Pelara saja, atau pesakit”. Langsung
saja pak Gito menjawab, “Salah! Di Barat sekarang, orang sehat juga disebut
patient!”. Tuh, gara2 menyembah istilah bule kita gampang sekali dibikin salah
terus, dan linglung, dan ... bego.
Misalnya
ULAS SENI. Ini mendorong kita mencipta maknanya sendiri, dan tidak menggiring
naluri kita untuk bertanya kepada pakar manca (lalu manggut2 kebegoan). Hanya
yang sudah terpaku pada tembung ‘kritik seni’ saja yang akan bertanya, “Apa itu
ulas seni?”
Apa?
Jawabanya kita susun sendiri saja menurut pengalaman dan tanggung jawab kita
yang terbaik, dan menurut kenyataan dan keperluan rakyat kita sendiri. Tetapi
ini minta kemauan untuk berpikir sendiri, melihat kenyataan dunia Nusantara
sendiri, dan mempercayai bahasa kita sendiri. Jadi kalau nanti simanca datang
bertanya tentang kritik seni kita, ya jawab saja “Saya tidak tahu maksud Anda.
You mean ulas seni?” Dan kalau dia bertanya, “What ulas seni?”, ya kita
ajarilah dia.
Seni Baru
Ada
kata lama yang ketambahan makna baru: SENI. Maknanya yang lama tetap berlaku,
misalnya ‘air seni’. Makna barunya muncul sekitar tahun 1950, yang kemudian
menetaskan tetembung seperti seperti ‘seniman’, ‘kesenian’, ‘pendidikan seni’,
‘film seni’, ‘nyeni’, dan belakangan ini ‘kritik seni’.
Orang
Belanda sendiri yang mengajar ‘seni rupa’ di sini resminya tidak pernah
menggunakan istilah kunstcritiek (= kritik seni). Nama matakuliahnya saja
Kunstbeschouswing (‘Tilik Seni’). Dengan sendirinya mahasiswa tidak diajari
‘ngritik’. Lalu dengan mudiknya guru2 Belanda (yang terakhir pergi tahun 1960)
kita mulai banyak membeo sang adidaya. Jadi kita bilang ‘apresiasi seni’; tidak
misalnya ‘tanggap seni’ atau ‘tilik seni’. Sementara itu sejak 1970an menggema
tembung ‘kritik sastra’, ‘kritik seni’, dan ‘kritik film’. Semua ingin menyamai
krotak-kritik di manca berikut nekateorinya sekalian. Otak kita ‘membayar hak
cipta’ sono dengan menyedot aneka ‘kata orang’ sono, peristilahan, carapikir,
carapilih, caranilai, perilaku di sono dll, tentu sejauh, sesempit, atau
sebenar yang kita ketahui.
Kritik Seni Rupa
Dan
kritik seni rupa? Wah, ini mah bukan kerjaan perupa. Nggak wajar dong kalau
perupa menulis. Biar saja orang lain yang bertempur dengan mesin tik.
Penghasilan mereka memang sangat kecil (dibanding dengan harga lukisanku), tapi
dia toh dapat ‘nama’ dan ‘gengsi’, bukan? Dan kita toh perlu orang2 ‘idealis’
bukan, yang menulis “demi sejarah seni dan nama senirupa Indonesia di mata dunia”
dan sebagainya. Pokoknya penulis itu tak usahlah ikut2 an mimpi “BuummM!”,
sebab itu bukan nasibnya, bukan takdirnya, dan rezeki hanya bagiku.
Seni Rupa
Dalam
‘kritik seni’ kita, seni rupa itu sejenis lukisan berbingkai. Pokoknya yang
seperti di sanalah Hanya terkadang dia itu patung, gerabah, dan gambar pena,
itupun harus yang ‘murni’. Buatannya mesti bisa dicap dengan istilah membarat,
misalnya ekspresionis, surealis, dan sebagainya.
Selain
itu, Ditjen Kebudayaan tentu berpegang pada Pancasila dan UUD. Dan kita tahu,
di situ ada keadilan bagi seluruh rakyat, ada persatuan Indonesia, ada
kerakyatan, yang semua sejalan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak
Soedjatmoko dulu mengamanatkan solidaritas sosial, maknanya di zaman
gusur-menggusur kini makin terasa. GBHN juga menamakan tugas Pemerataan. Rasa
cinta tanahair dan bangsa sendiri juga masih tetap rawan. Orang nusa Jawa,
termasuk senimannya, tetap saja suka melupakan atau meremehkan luar-Jawa. Kita
juga lebih sigap melayani wisman daripada wispri. Dan begitulah seterusnya.
Belum lagi perkara ini mengendap, sudah ada pula comotan baru dari tuan
Naisbitt: ‘globalisasi’ (catatan kaki yang diubah: Sehingga perlu ‘Seminar
Nasional Pendidikan Seni dan Globalisasi Budaya’ di Yogya [Desember 1991]). Dia
mengaitkannya cuma dengan ekonomi Amerika, eh, kita dengan segalagalanya di
Indonesia.
Pokoknya,
tiap pikiran untuk mengabaikan sebagian bangsa dan tanah air, meremehkan budaya
maupun senirupa ‘beyond the Java Sea’ (meminjam ajaran KIAS) adalah benih
ketimpangan, kegecotan, perasingan, kesombongan, kelaliman, dan perpecahan
(gecot = tak benar; lalim = tak adil). Kepada perkara beyond tadi ingin saya
tambahkan dua lagi: ‘beyond the big city’ dan ‘beyond modernism’, sebab kawasan
ini juga sarat seni rupa. Yang tidak sependapat mungkin hanya penganut
polapikir tertentu saja tentang SENI RUPA. Yang namanya ‘seni’ itu apa? ‘Seni
rupa’ itu apa? Pemodern tentu senang pembongkaran dan pembaruan, termasuk
bongkar-pasang-baru pola pikirnya sendiri.
Serba Rupa
Orang
yang belajar seni rupa di lembaga tinggi kita dapat memilih bidang yang
kebetulan disukai ‘kritik seni rupa’. Tetapi dia juga bisa memadaikan diri
bidang tenun, batik, ukir, iklan, rekaruang, rekabenda, rekabuku, pariwara,
dll. yang telah atau bakal ada. Saya sendiri mimpi jurusan rekaswatur atau
computer design (catatan kaki yang diubah: Calon gurunya sudah saya siapkan:
Rina Wayanti. Mulai tahun 1992 dia akan menekuni Computer Design dulu di Ohio
State University). Singkat kata, dalam pendidikan kita, SENI RUPA itu sudah
jauh lebih luas dari yang selama ini dimaksud oleh
pameran/diskusi/sejarah/hadiah/kritik seni. Aneh tapi nyata.
Karena
itu para mahasiswa mengikuti segala macam sayembara senirupa yang disiarkan
koran (membuat pariwara, logo, piala dll). Banyak lulusan bekerja menangani
senirupa di majalah, perusahaan iklan, pabrik tenun, pabrik mebel dll. Ada juga
yang menjadi ahli rekataman. Taufan Sukarno (putra Bung Karno) lulus sebagai
sarjana seni rupa ITB dengan rekamobil sebagai karyatama. Kawasan senirupa
teramat luas, dan mahasiswa diberi kesempatan untuk menggarap apa saja di situ
yang mereka minati. Matakuliah Seminar dan Skripsi khusus disediakan untuk itu.
Misalnya, dengan bimbingan saya ada yang menulis skripsi tentang segala
kemasan/wadah jajanan Jawa: kupat, klepon dll. Inilah senirupa yang tak ada
duanya di dunia. Telah dua orang menulis tentang perhiasan Runi Palar (yang
sering saya sebut sebagai seniwati Indonesia paling kenamaan di seluruh dunia).
Ada skripsi yang mengupas seni pandai besi: golok, pisau, arit dll. Dan
begitulah seterusnya.
Serbamoh
Cuma
(kecuali Yusuf Affendy), mereka itu --dan hampir semua sarjana senirupa lain--
tidak doyan menulis makalah dan artikel, bahkan menulis diktat juga tidak. Di
sinilah sumber lain dari ‘masalah kritik seni kita’. Tetapi beginilah bangsa
kita dan seniman kita ini, termasuk yang tertinggi pendidikannya: moh-nulis,
selalu berdalih “tidak bisa menulis” atau “bukan tugasku menulis”. Menurut Yus
Badudu ada dalih lain: “Maklum, saya bukan sastrawan ...” Karena kuatnya adat
mohtulis ini bangsa kita juga tidak pernah punya minat untuk menggalakkan
rangsangan menulis. Kita baru pandai merangsang orang untuk menjadi penyanyi
pop. (Sejuta rupiah satu lagu, 75 juta rupiah untuk mentas di malam ‘Old and
New’).
Virus Lain Bernama Mohteori
Ini
menulari sebagian ‘dosen praktek seni’ (guru melukis, mematung dll). Nalarnya
begini: teori itu bukan kerjaan ‘guru praktek’, termasuk teori tentang
bidang-praktek mereka sendiri. Jadi kalau dikirim ke luar negeri, mereka hanya
mau ‘kerja praktek’ melulu. Kembalinya tentu saja tanpa ijazah tambahan.
Karena
dirasakan perlunya teori dalam mengajarkan praktek mereka, di masa 80an
diciptakan obatnya: teori itu kerjaan ‘dosen teori’. Jadi mesti ditunjuk
dosen-teori buat mengajar teori lukisan, teori patung, teori tenun dst. Di
Barat juga begitu, katanya. Tetapi, apanya yang “begitu”? Langkanya teoriwan
senirupa? Langkanya kaum sukabaca? Di kita, sialnya, itu ‘dosen teori’ terlalu
langka. Masalahnya jelas: membaca dan membaca buku2 berbahasa asing. Padahal
kita ini bangsa mohbaca dan mohtahu bahasa asing. Belum lagi soal penghasilan
menulis.
Televisi
Hampir
tiap malam TVRI menayangkan seni rupa, sebagai warta pendek maupun tayangan
panjang. Misalnya tentang tenun, batik, busana, anyaman, kerang, kulit, kue
besar, perabot rumah, bunga kering, karangan bunga, giok Cina, lomba patung es,
keris, topeng, wayang, lukisan bulu, lukisan paranormal, dan banyak lagi dari
seluruh Nusantara. Pewarta TV, mungkin karena tidak pernah belajar teori seni
memBarat, leluasa saja mengejar rerupa yang menarik dan elok. Dia mengajak kita
nonton (pameran) seni yang tak digubris pekritik dan dicibir kaum mongkok.
Paling tidak dia bicara, minta seniman dan penikmat nimbrung. Kritik seni?
Bukan. Ini warta seni, bincang seni. Ini mestinya jatah pengamat seni
berpengetahuan jembar. Tapi seniman mana yang mau jadi wartawan TV?
Bagaimanapun juga, semua tadi nyata berselisih jalan dengan ‘kritik seni’.
Surat kabar pun menampakkannya. Di situ ada dua jenis tulisan seni: yang satu
‘kritik seni’, yang lain seperti yang di TV.
Kaji Rupa
Mari
kita tengok senirupa kajian tiga ahli, pilihan dari jutaan buku kajiseni. Tiap
sebutan ‘kunst’ (= art) akan saya alih ‘seni’, dan ‘kunstenaar’ (= artist)
‘seniman’. William Willets. 1958. Chinese Art. Dua jilid, 802 halaman. Ini
sejarah senirupa dari masa purba sampai dengan abad 20. Isinya 8 bab, a.l. Jade
(giok) 53 hal., Bronze (gangsa) 48 hal., Lacquer and Silk (rengas dan sutera)
79 hal., dan Pottery (kundian) 100 hal. Jadi, 280 halaman untuk empat rerupa
ini, atau hampir sepertiga buku. Bab 5, Painting and Calligraphy, makan 116
halaman, sebagian untuk lukisan, sebagian untuk suaksara. Dalam Jade dibahas
antara lain badik, gelang, kancing, jimat dan bedor (mata tombak/panah); dalam
Lacquer and Silk a.l. pinggan, bejana, jambang, cepu (tempat menaruh tembakau
dsb, dari kayu atau logam), cermin, tenunan; dalam Bronze, aneka bejana/guci.
Prof.
Dr. J.H. Kramers. 1953. Over de Kunst van de Islam.
Jenis
- jenis yang dibahas buku seni Islam ini
a.l. kunsthandwerk (seni kria), metaalkunst (seni logam), zijdeweefkunst (seni
tenun sutera), tapjtkunst (seni ambal), schrijfkunst (seni tulis), miniaturkunst
(seni lukisil: lukisan mungil, dimuat dalam buku), weefkunst (seni tenun),
portretkunst (seni wajah), boekkunst atau de kunst van het boek (seni buku),
calligrafiekunst (seni suaksara: sebetulnya suaksara saja cukup), snijkunst
(seni ukir), knipkunst (seni gunting), ceramische schilderkunst (senilukis
kundian), decoreerkunst (seni hias), binnendecoratie (hias halaman),
baksteendecoratie (hias bata), decoratie atau muurversiering (hias dinding),
stucco-decoratie (hias turap), glazuurtegel-decoratie (hias ubin kilap),
inlegwerk (sesemat), tuinaanleg (rekataman), marmermozaiek (dandi pualam), dan
glasmakerij (pekacaan).
Prof.
Dr. A.W. Nieuwenhuis. 1923. ‘Kunst en Kunstvaardigheid in Indie’ Mingguan
Indie, bersambung 40 kali.
Diakui
oleh pengarang bahwasanya senirupa Indonesia terlalu kaya sehingga dia memilih
sebagian kecilnya saja dari beberapa daerah. Untuk ini dia menggunakan istilah2
berikut yang akan saya alih katawi: kunsthandwerk (seni kria), weefkunst (seni
tenun), kunstvlechtwerk (seni anyam), kunt van het kopergieten (seni cor
kuningan), snijkunst kunstsmeedwerk (seni tempa logam), versieringskunst (seni
hias), kunstmederij (apar senibesi: apar berarti dapur pandai besi),
zilversmeedkunst (seni perak). Pelakunya antara lain siekunsttenaar (seniman
hias), snij-kunstenaar (seniman rujit/ukir/pahat), dan kunstsmid (seniman
besi).
Gambar
- gambar yang disertakan pengarang, masing2 sebesar satu halaman, melihatkan
slandok (gesper) kuningan/emas, udutan, bun (tempat sirih) emas, pantik (besi
pemercik api) berantai, gelang cor, selendang sutera bersulam emas-perak,
sundusi, kampil (tas kecil), lampit rotan, wadah mesiu dari tanduk, aneka
keris, bedor-pamor lembing), dokoh (hiasan berantai untuk leher), senjata2
kerajaan, sabuk-kia (kia = steek, jahitan) perak, wayang kulit, wayang kulit +
gamelan lengkap, rumah adat berukir, kepala suku Toraja berpakaian upacara,
wanita Aceh menenun, dan pembatik cap.
Kritik
Salah
satu bidang masalah KRITIK SENIRUPA berpangkal pada tembung ‘kritik seni’ itu
sendiri, sebab menyelundupkan muatan2 berikut dari sumber Baratnya: 1) hanya
mengitari satu-dua jenis senirupa; 2) berpatokan ‘seni murni’; 3) hanya
menggauli seni baru; 4) hanya menyoroti seni pribadian; 5) hanya menonjolkan
seni kotabesar; 6) hanya melayani kaum tengahatas; 7) hanya menguntungkan
senirupa kota besar Jawa; 8) hanya menggunakan peristilahan Barat.
Kritik
senirupa hanya mengurusi sebagian kecil senirupa di Nusantara (biarpun yang
paling besar mulut), alias tidak berwawasan Nusantara. (Jadi berwawasan apa?)
Maka itu ada baiknya nama diganti dengan bahas seni, tilik seni atau ulas seni
saja, lalu kita isi muatannya. Bertanya “what’s in name?” memang gampang.
Tetapi menjawabnya? .... Bangsa kita punya jawab sendiri. Kita renungi saja
selera bangsa kita sekarang: cara kita menamai segala sesuatu, dan mengubah
nama-pribumi segala sesuatu, khususnya cara pekota.
TV dan Pers
Dengan
demikian dewasa ini peranan pers dan TV menjadi paling menentukan (entah harus
sampai kapan). Segala jenis uraian senirupa masih harus ditumpahkan di situ.
Kalau di negara maju tidak begitu, ya itu karena negara itu sudah maju. Kita
pahamilah ini. Janganlah kita suka mimpi mau seperti sana padahal landasannya tidak ada. Yang perlu
disajikan TV/pers ialah ilmu seni, tanggap seni, dan ulas seni, secara terpisah
maupun tergabung.
Pokok pikiran diajukan dalam Sarasehan Batik,
pada 9 September 1990,
di Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel,
Yogyakarta, dalam rangka Dies
Natalis Asrama Mahasiswa GKBI Yogyakarta.
Oleh Saneno Yuliman
“Menjelajah”,
menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia 1976, berarti menjajah atau bepergian,
menyelidiki, dsb, ke mana-mana. Diterapkan untuk batik, kata itu tentu saja
digunakan dalam arti kias. Batik, sebagai cabang seni, dikatakan menjelajah,
dalam arti merambah ke berbagai arah, mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya
tidak dilakukan. Saya ingin menggarisbawahi kenyataan sejarah yang
memperlihatkan betapa batik memiliki sifat penjelajah ini, dan ingin
menggarisbawahi sifat ini sebagai unsur pokok yang di dalam pikiran kita
selayaknya membentuk citra kita tentang batik. Tentu saja itu berarti, saya
memegang citra dinamis tentang batik: saya memandang dinamika sebagai unsur
hakiki di dalam batik. Pandangan begini membawa konsekwensi dalam praktek
seperti akan saya bicarakan kemudian.
Perumitan dan Penghalusan
Proses
pembuatan kain batik cukup rumit. Seluruhnya ada 5 macam proses pokok, dari
penyiapan kain hingga nglorod (menghilangkan malam) dan proses akhir.
Masing-masing proses itu berisi sejumlah proses. Penyiapan kain, misalnya,
meliputi 4 tahap atau proses (mencuci, ngetel, nganji, ngemplong), sedang
proses kerja dengan malam, berisi 6 proses (nglowongi, nembok, mbironi, nonyok,
ngremuk, cocohan). Tentunya kita perlu mengingat pula peralatan dan
perlengkapan yang digunakan.
Terdapat
perkembangan yang jauh dalam teknik, dari batik sederhana dan kasar yang telah
kita singgung di muka, ke batik Jawa yang kita sebut tradisional atau klasik.
Bagaimana perkembangan begitu terjadi dalam masyarakat yang selama itu
berpedoman pada tradisi? Tentu berjalan lambat dan lama, berabad-abad,
sekalipun seandainya kita memperhitungkan kemungkinan pengaruh dari luar.
Perkembangan itu meniscayakan penjelajahan.
Empat
ribu orang wanita sedang membatik yang disaksikan Rijklof van Goens waktu
Gubernur V.O.C. itu mengunjungi keraton Mataram pada 1606 menunjukkan, bahwa
pada awal abad ke-17 batik telah menjadi seni, dan industri, yang penting dalam
keraton Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing dengan tekstil halus,
bergambar, dari India (malabar), yang masuk dalam jumlah besar ke Nusantara.
Perkembangan canting dan proses batik niscaya sebagian dipacu oleh tantangan
ini, untuk menghasilkan kain yang tangguh dalam persaingan.
Perluasan Konsumen dan Penekaragaman
Kebutuhan
Tantangan
tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18. Pemerintah kolonial Hindia Belanda
ditegakkan di abad-19, memperkecil dan memperlemah kekuasaan keraton-keraton,
termasuk genggaman mereka atas batik. Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan
bermacam etnis – masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis
adalah ciri penduduk kota pesisir – ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat
komunikasi antar-etnis. Yang memerlukan batik, meluas: bukan hanya orang Jawa.
Tambahkan ke dalamnya ikhwal pertambahan penduduk.
Kedua
abad ke-19 menyaksikan terbukanya Indonesia bagi modal asing dan hasil industri
Eropa, di antaranya tekstil. Batik ditantang bukan saja oleh kebutuhan yang
harus dipenuhi, tetapi juga oleh persaingan. Kita tahu jelajah baru, bahkan
perkembangannya kemudian, yang diberikan batik sebagai jawaban: mengembangkan
canting cap, menyerap bahan warna sintetis, menyederhanakan cara produksi –
berbagai upaya untuk meninggikan produktivitas dan mengendalikan biaya. Tentu
penting untuk memperhatikan segi kumulatif: penjelajahan ini menambah pada apa
yang sudah ada, dan bukan melupakan atau melenyapkan sama sekali.
Pemakaian
busana tradisional menyusut, hingga di masa kita sekarang terbatas pada pesta
dan upacara, khususnya bagi wanita. Tetapi batik memperluas jelajahannya di
bidang guna. Di masa kita sekaramg kawasan batik mencakup banyak macam pakaian,
berjenisjenis perlengkapan, dan berbagai barang untuk berbagai macam keperluan.
Untuk penjelajahan semacam itu, pembatik trdisional tidak mencukupi. Kita
menyaksikan tumbuhnya perancang dalam berbagai jenis dan tingkat, mulai dari
penyungging dalam perusahaan kecil dan menengah, yang kerjanya menyadur ragam
hias terlaris di pasar, atau menggambar pola kemeja lengkap dengan ragam
hiasnya (siap potong dan jahit), sampai designer jenis Iwan Tirta.
Memudarnya
masyarakat tradisional, ekonomi pasar, perluasan konsumen, tampaknya telah
menambah dinamika batik, memperluas dan mempergencar penjelajahannya. Satu
lagi: ketika adat memudar, ikatan etnis, kerabat, dan daerah melonggar, batik
bertemu dengan kumpulan luas individu yang serbaragam. Dan batik, sebagai
sandang, sebagai perlengkapan diri dan perlengkapan rumah, tak ayal memasuki
wilayah pribadi – bertemu dengan citra diri dan cita rasa yang sangat
anekaragam dan berubah-ubah dalam kumpulan individu yang sangat luas itu.
Kenyataan ini memperkuat tuntutan terhadap batik akan penjelajahan yang sadar
dan berencana di jaman sekarang.
Batik, San Penjelajah
Ini
tidak bertujuan mencatat sejarah batik, apalagi terperinci dan lengkap dengan
nama-nama pihak dan orang yang berjasa di dalamnya. Cukuplah bila dapat
ditonjolkan ke permukaan salah satu ciri yang dimiliki batik: sifat penjelajah.
Bukan penjelajah yang kian-kemari dengan tangan hampa. Sebab, kita dapat
menyidik sifat selektif dan kumulatif penjelajahannya: ia tidak membuang segala
apa yang telah diperolehnya dalam perjalanannya, tanpa timbang-timbang dan
pilih-pilih.
Bagaimanapun,
penjelajahan itu, di jaman sekarang, tidak dapat berlangsung secara
meraba-raba: sekarang, penjelajahan itu perlu sadar, berencana, kritis. Itu
berarti, penjelajahan perlu berlangsung dengan sikap dan laku menelaah,
menilai, dan mencari tindak lanjut. Penjelajahan itu juga perlu ke berbagai
arah: ke arah bahan dan teknik, ke arah rupa, dan ke arah guna. Ke arah bahan
dan teknik, tentu saja berarti telaah perlu pula diarahkan kepada sistem yang
di dalamnya bahan dan teknik itu digarap atau dilaksanakan: telaah ke arah
sistem produksi. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana yang
mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna tentulah
menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku pemakai
sehubungan dengan produk. Dan tak pula kurang terkait: saluran, yang
mengantarkan produk kepada pemakai. Dengan kata lain, sistem distribusi.
Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang
potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan pengembangan,
yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya.
Hasil
penelitian dan bahasan lain tentang karya seni rupa beyond the major art
ditampilkan di sini. I Wayan Nuriarta dan I Nyoman Mahayasa, kedua-duanya
lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS-UNDIKSHA, melakukan penelitian untuk
menyelesaikan program S1 kependidikannya dengan topik bahasa tentang komik
Naruto (Nuriarta) dan grafiti (Mahayasa). Sebagian laporannya menjadi bagian
dalam tulisan ini, setelah disesuaikan dengan peruntukan.
Hasil Penelitian
Komik
(Bagian
dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)
Istilah
komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik,
yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990:129), cerita bergambar yang lucu
(Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001) dalam buku Understanding Comics yang
unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, gambar-gambar serta
lambanglambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku komik
(McCloud, 2001;9)
Pada
dasarnya, komik merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya
sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk
visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai
karya sastra bergambar, dan untuk membedakan komik bersambung dengan komik
lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan
karena tidak menimbulkan kekaburan makna. Comic-strips merupakan komik
bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan comik-book atau buku komik
adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu atau lebih judul dan
tema cerita.
Manga
Secara
umum manga diartikan sebagai komik made in Japan. Manga bukan lagi menjadi
sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan anak-anak pencinta komik dan
animasi. Manga sebagai bentuk kesenian visual dari Jepang tidak hanya memiliki
kualitas gambar yang baik dan unik, namun juga sangat ditunjang dengan kekutan
dan keragaman cerita yang menarik. Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut
komik Jepang. Kata manga digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama
Hokusai Katsushika (1760-1849) dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga
yang artinya gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Manga pertama kali
muncul pada abad ke18 dengan buku komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam
sejarah manga, yang tidak boleh dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang
dikenal sebagai “God of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka
yang terkenal dan mendunia baik sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang.
Manga
adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata “manga”
digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai. Sebelum orang
mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah dikenal seni menulis
cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya cerita. Seni menulis
cerita disertai lukisan untuk menggambarkan cerita itupun belum berbentuk buku,
tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut emakimono. Manga artinya
kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu.
Manga
mulai membanjiri pasar Jepang antara tahun 1940–1960-an, dengan ketebalan 64-
96-128 hingga 192 halaman. Walau dicetak pada kertas berkualitas rendah, produk
ini disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias. Dan di antara komikus saat
itu, Osamu Tezuka tampil ke depan melalui karya-karya fiksi ilmiahnya.
Jenis-jenis
manga yaitu: Shoujo Manga, Shounen Manga, . Doujinshi Manga.
TEKS VISUAL KOMIK NARUTO
Pelukisan Adegan
Naruto
adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Sejak awal
penerbitannya, Naruto telah memancing permunculan ribuan situs berisi informasi
rinci, panduan, dan forum internet tentang manga ini. Beberapa situs terkenal
muncul setelah versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain
itu, muncul pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Cara Baca Komik Naruto
Pada
cara membaca, ukuran frame memberikan jeda dan menentukan urutan membaca komik
Naruto. Jika ada frame yang memiliki ukuran sama, maka frame dibaca berurutan
baik yang terjadi secara vertikal maupun horisontal sebelum pindah ke frame
dengan ukuran yang berbeda. Teknik membacanya tetap menggunakan pola dari kanan
ke kiri dan dari atas ke bawah.
Seni Jalanan (Street Art) (Sebagian
laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang Grafiti di Denpasar)
Seni
jalanan atau biasa disebut juga street art kemudian muncul menjadi istilah yang
dipakai untuk membedakan dengan karya seni yang dibuat dan ditempatkan
dijalanan dengan meminta ijin kepada pihak yang berwenang. Seni jalanan
merupakan perkembangan dari grafiti yang biasa di buat dengan cat semprot
(aerosol) kemudian berkembang menggunakan berbagai teknik pembuatan misalnya:
stensil, stiker, tempelan kertas/ whet pasting, poster atau campuran dari
berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan tanpa ijin dari pihak berwenang
dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong kereta, pos polisi, papan
reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya perkara. Perkara inilah yang
sering pelaku seni jalanan dianggap sebagai pelaku vandalisme.
GRAFITI
Grafiti
(juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan
komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di
atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng. Menurut
Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah salah satu tulisan ataupun
penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu permukaan benda,
baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat berupa sebuah karya
seni, gambar ataupun kata-kata. Ketika suatu graffti dikerjakan tanpa
sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat dikategorikan
sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak sejak
peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.
SEJARAH GRAFITI
Perkembangan
zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar
bagi perkembangan seni grafiti. Yang awalnya hanya sebagai satu media
komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media perlawanan dan protes.
Mulai terpisahkannya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu
kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari
golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka
pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas
atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan,
grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas sosial
masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. Seolaholah grafiti memberikan
kita satu pembelajaran dan ajakan untuk melihat kondisi realitas sosial yang
ada, dan tidak diam menghadapi hal itu. Contoh kita sering melihat cuplikan
video yang di tayangkan di televisi pada masa sebelum orde baru, ada tulisan
yang berbunyi “freedom” di tembok-tembok yang pada saat itu menjadi media suara
mereka karena teknologi pada saat itu belum seperti sekarang.
PERKEMBANGAN GRAFITI
Pada
perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya
merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di
perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok
bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar
kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering
dibuat di dinding kereta api bawah tanah.
Grafiti
sekarang mulai memasuki masa keemasannya, selain di Indonesia sendiri, di
Ameri-ka atau tepatnya di Brooklyn Museum sering diadakan pameran grafiti yang
kini disebut juga sebagai seni kontemporer. Berbagai bomber profesional seperti
Crash, Lee, Daze, Keith Haring dan Jean-Michel Basquiat menjadi pahlawan dalam
seni grafiti. Sekitar 22 bomber ikut berpartisipasi dalam pameran ini. Lain di
Amerika lain pula di Australia. Negara yang satu ini bahkan menjadikan grafiti
sebagai lomba publik yang selalu memiliki jumlah peserta yang sangat banyak.
(“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’, Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005)
GRAFITI PADA ZAMAN MODERN
Pada
masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu perkembangan dalam
tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh
seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan namanya, entah itu
didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi
terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang
seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan melakukan coretan
nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti
juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya
bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.
Antara Seni, Perlawanan dan
Vandalisme
Seni
adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan
atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu
sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari
sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu
sendiri (www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007).
Dan
grafiti yang merupakan satu dari sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun
din-ding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari grafiti,
membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat
grafiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan publik.
Vandalisme,
adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku grafiti
maupun grafiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada
perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan
untuk kepentingan publik. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam
melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan
kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak
kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita
katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan grafiti yang menjadi
bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan
kebebasan berekspresi.
Grafiti Action Sebagai Sebuah
Komoditi
Tak
bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di
masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku grafiti.
Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action tersebut, baik yang pure seni
ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti
sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda.
Karena
kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi grafiti. Grafiti akan
menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain grafiti
seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat
buruk dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti halnya hakekat dari seni
yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal
ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran suatu saat, untuk melihat
grafiti action harus mengeluarkan sejumlah uang.
Aliran Grafiti
Aliran
atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag” merupakan salah satu dasar
yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan gaya dalam menulis atau
membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik, biasanya para bomber
memiliki ciri khas ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula
yang disebut throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik
menggambar dengan sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di
mana kecepatan menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.
Dalam
seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang sering digunakan oleh para
bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok jalanan ibu kota. Berikut ini adalah
sedikit penjelasan dari aliran-aliran grafitti : bubble, wildstyle atau semi
wildstyle, 3D, tagging.
Fungsi Grafiti
Dari
berbagai macam jenis grafiti yang ada, fungsi grafiti pada zaman modern
mengalami perkembangan fungsi. Adapun beberapa fungsi dari Grafiti.
(http://www.freemagz .com, diakses 14 April 2007).
1. Bahasa
rahasia kelompok tertentu.
2. Sarana
ekspresi
3. Sarana
pemberontakan.
Komunitas Grafiti Di Kota Denpasar
Pengaruh
musik R&B, hip-hop, dance dan skate board turut serta menjadi bagian tak
terpisahkan dalam perkembangan grafiiti di Denpasar. Namun Belum ada yang
mengetahui pasti kapan dan dimana grafiti di Denpasar pertama kali ditemukan.
Semenjak tahun 2000 komunitas bomber semakin marak di Denpasar, ini dikarenakan
pengaruh media elektronik, majalah dan internet yang memberikan banyak
informasi tentang gaya hidup remaja saat ini yang kini sering diikuti oleh
remaja yang ada di Denpasar.
Komunitas
grafiti lain diantaranya abilty, flame kidz, U-zack, Socbeker, M2crew,
Hollygan, TRN, 5 Cru, Cyber, ABILITY, TRN, WBA, PEGOK, DOZ, 153, WEBER, Racy,
#2Bomb, Criz, Buble, popeye dan banyak lagi bomber yang meramaikan pembuatan
grafiti. Mereka terbentuk setelah beberapa perkumpulan kecil para pembuat
grafiti di Denpasar, karya-karya mereka kebanyakan hanya berupa tagging
(tag/inisial atau singkatan nama) yang tersebar di beberapa sudut tembok yang
ada di kota Denpasar.
Motivasi Membuat Grafiti
Berdasarkan
hasil wawancara yang dilakukan pada para bomber pada tanggal 14 Januari 2008,
diketahui bahwa motivasi untuk membuat grafiti tidak lain adalah untuk
memperindah kota di samping faktor sekedar menunjukkan dirinya melalui grafiti.
Hal ini diungkapkan oleh Cory. Tentu pendapat ini masih menimbulkan perdebatan
dalam mengidentifikasikan tentang keindahan kota. Mereka berpendapat bahwa
kebersihan tidak relevan dengan keindahan. Tembok yang dicat putih bukanlah
keindahan, tetapi kebersihan. Bersih bagi mereka belum tentu indah, sedangkan
indah bisa dimaknai dengan bersih.
Grafiti
merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke sejumlah kota besar di
Indonesia. Karya grafiti telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang
awalnya hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki
nilai seni. Kehadiran grafiti di Denpasar memiliki kontroversial. Masyarakat
menilainya dari dua sisi, semakin memperindah kota atau semakin memperburuk
kota. Perkembangannya kini apakah Grafiti yang sudah meng-arah pada bentuknya
yang artistik (tidak sekedar corat-coret) mampu memberikan keseimbangan
lingkungan secara visual maupun perannya dalam berhubungan dengan budaya maupun
masyarakat sosial setempat.
Penelitian
ini juga bermaksud untuk mengetahui motivasi dari para pembuat grafiti, yang
biasa disebut bomber. Para bomber memiliki motivasi yang beragam ketika membuat
grafiti. Ada yang melakukannya untuk memperindah kota, namun ada juga yang
melakukannya sebagai bentuk kegiatan vandalisme. Dikatakan vandalisme sebab
mereka melakukan karya grafiti di tembok milik seseorang tanpa meminta ijin
kepada orang tersebut. Graffitti sendiri cenderung dicap oleh masyarakat
sebagai karya vandalisme dan kurang mendapat tempat di hati masyarakat,
meskipun dalam grafitti itu terdapat unsur seni kaligrafi.
Dalam
melakukan karya grafiti, para bomber mencari tembok-tembok yang tidak terawat
untuk digunakan sebagai media. Tembok tak terawat yang dimaksud adalah tembok
yang dibiarkan kumuh, tembok yang dulu putih bersih namun sekarang ada lumut
hingga kecoklatan, dan tembok yang dibiarkan rusak, dan tembok milik umum yang
tidak dirawat oleh instansinya. Namun bagi beberapa bomber yang memiliki jiwa
pemberontakan dan anti kemapanan, tembok yang bagus juga dapat menjadi sasaran.
“Mereka jengah dengan warna putih yang menyilaukan mata. Jika di kawasan
perumahan, mereka melakukannya untuk mendobrak tatanan yang rapi dengan sengaja
memberi karya grafiti agar nampak eye catching,” Kata Cory. Grafitti yang
dibuat umumnya adalah tulisan nama-nama gank (kelompok).
Penelitian
ini juga menyatakan bahwa motivasi sebagian besar bomber dalam membuat grafiti
adalah untuk memperindah kota. “Bagi mereka, indah tidak sama dengan bersih.
Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan tetapi kebersihan. Bersih belum
tentu indah, tetapi indah bisa dimaknai dengan bersih,” tutur DD. Menurut cory,
grafiti merupakan karya seni yang berpotensi memperindah kota apabila grafitti
tersebut mampu berinteraksi dengan lingkungannya. “Sayangnya, anak-anak
Denpasar membuat grafiti hanya untuk mengikuti trend namun tidak diikuti dengan
kualitas visual grafiti. Sehingga, semakin menimbulkan kesemrawutan visual kota
yang sudah dikacaukan oleh produkproduk iklan,” jelasnya.
Oleh
karena itulah, penilaian keburukan citra bersih tidak disama-ratakan kepada
semua bentuk grafiti. Ada grafiti yang memang benar-benar bertujuan untuk
memperindah kota, tetapi ada juga grafiti yang memang untuk merusak yang indah
dan baik. Melihat tujuan grafiti artistik seperti di atas, maka pemilihan
tempat pun direncanakan sebaik mungkin. Tembok yang tak terawat terlebih pada
jalan-jalan utama atau strategis mereka timpa dengan grafiti artistik.
Komentar
Posting Komentar