SEKILAS TENTANG ALIRAN SENI RUPA

Batasan Pengertian Aliran dalam Seni Rupa

Aliran, pada awalnya hanya gambaran ciri milik individu tertentu. Aliran, bisa juga awalnya merupakan gambaran ciri kelompok tertentu. Aliran, mungkin juga awalnya adalah gambaran ciri sebuah keadaan, kondisi zaman. Dalam perkembangan seni rupa Barat, aliran “muncul tidak saja bertumbuhan secara bersama, tetapi juga bersimpang-siur.Bahkan kadang-kadang bertentangan yang satu dengan yang lainnya” (Arifin, 1985: 122). Dalam kondisi tertentu, satu aliran merupakan pengganti aliran lain, penentang aliran lain, atau penerus aliran lainnya.

Dalam masyarakat tradisi kita mengenal seni tradisi yang diikat oleh aneka pakem (aturan, norma, nilai, konvensi, awig-awig). Pakem itu akan tetap dipertahankan selama masyarakat pendukung jenis kesenian tersebut masih menunjangnya. Sebuah contoh dekat, dalam seni pertunjukan tradisional wayang (wayang kulit, wayang golek, maupun wayang orang). Salah satu pekem yang ‘harus’ dipegang oleh dalang adalah menempatkan tokoh-tokoh cerita wayang secara terpola. Tokoh-tokoh baik ditempatkan di sebelah kanan dalang, sedangkan tokoh-tokoh buruk di sebelah kiri dalang. Begitupun ketika dalang memainkan boneka tokoh tertentu, suara tokoh, sabetan, cara berlaga-lagu, harus memenuhi aturan pakem. Ketika dalang memainkan pertunjukan dengan cara di luar pakem, cara yang dianggap keliru, penonton akan protes. Itulah gambaran bersatunya penonton dengan pemain dalam pertunjukan seni tradisi.

Dalam dunia seni rupa, yang paling cepat mengalami perubahan adalah seni imba (representational art), seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis, dibanding seni bangun. Seni bangun berubah mengikuti permintaan pasar. Sementara itu, seni imba, karena terkait dengan kebebasan pribadi, seni yang mewakili gambaran pribadi senimannya, lebih bebas mengalami perubahan sejalan dengan keinginan masing-masing pribadi seniman. Oleh karena itu, alirn yang muncul ke permukaan, baik sebagai bentuk reaksi terhadap keadaan tertentu maupun sebagai gambaran zaman, banyak sekali kita temukan dalam seni imba tersebut. Beberapa aliran seni bangun sempat berpengaruh terhadap para seniman, tetapi pengaruh tersebut tidak seperti yang muncul dalam pengaruh seni imba.

Seni lukis sudah sejak awal abad sembilan belas terlibat dalam perselisihan tentang gaya, dan melaju agak cepat ke arah cara pengungkapan yang lebih mutakhir, sedangkan seni patung mulai melangkah maju dalam paruh kedua abad ke sembilan belas. Dalam keadaan seperti itu seniman-seniman yang membangkang, terutama pelukis, menghadapi pasar yang sangat terbatas, bahkan kadang-kadang tidak ada sama sekali. Ia sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati kelas menengah yang sejak lama menyukai gaya neoklasisime sebagai lambang kejayaan kelas dan kedudukan terhormat mereka. Hanyalah di bagian terakhir abad sembilan belas terdapat kelas menengah yang lumayan banyaknya sebagi pencinta kesenian dengan sikap baru” (Sakri, 1992: 2).

ALIRAN-ALIRAN SENI RUPA MODERN

Pada pertengahan abad ke-19 muncul berbagai aliran yang menyertakan kata neo, karena kejenuhan, kebuntuan, setelah mengalami klimaks pada masa Barok. Setelah masa Barok lahirlah masa pengaruh Rococo. Kebaruan-kebaruan mulai digali oleh para seniman untuk menemukan susana segar. Kelahiran Neo Gothic, Neo Renaissance, dan Neo Barok merupakan upaya mengubah kondisi tesebut. Seni patung, pada permulaan abad ke-19, belum mengalami perubahan seperti seni bangun. Baru pada akhir perempat abad ke-19, jenis seni rupa ini mulai mendapatkan nafas baru hasil pengaruh Impressionisme dan Realisme. Pada masa itu dikenal nama Antonio Canova (pematung Italia) dan Auguste Rodin (pematung realis dari Perancis). Dalam bidang seni lukis dikenal Jaques Louis David sebagai pelukis istana Napoleon dan J.A.D. Ingres, muridnya.

“Di antara perkembangan yang paling khas dalam abad sembilan belas (dalam batas tertentu di abad dua puluh) ialah sikap para seniman yang terus-menerus berusaha mencari gaya baru di tengah-tengah gaya masa lampau yang hadir di tempat sendiri, dan gaya masa kini yang terdapat di tanah asing. Mereka ingin mencari wahana yang cocok bagi penyaluran daya cipta mereka. Karena gaya neoklasisisme yang semula mapan itu dianggap tidak cocok lagi untuk mengungkap gejolak batin yang kuat, seniman yang mengutamakan kebebasan (individualistic) beralih pada bentuk yang lain.

·         Neoklasisime

Revolusi ini mempunyai pengaruh sangat rawan di segala bidang pemikiran dan di segala lapisan masyarakat. Pengaruh itu bukan saja untuk dunia Barat, akan tetapi juga untuk sleuruh dunia. Kekuasaan dan kekayaan kaum istana sanggup menyerap seniman-seniman terbaik, dan mereka dilindungi oleh istana. Di samping itu, orang-orang yang dianggap ahli dan mengetahui seluk-beluk kesenian diserap juga ke dalam istana. Dan, golongan ini, bersama seniman-seniman ternama, ditempatkan di suatu academy yang sepenuhnya dilindungi oleh raja.

Istilah Neoklasisime berarti “berpedoman kepada seni klasik dan mitologi Yunan”. Aliran ini adalah aliran yang resmi dianut dan dilindungi oleh istana. Seniman yang bekerja di luar istana biasanya merupakan seniman muda, dengan sendirinya memiliki pemikiran dan sikap tanggapan yang lain. Mereka menganggap seni yang dilindungi istana tadi tidak menunjang gejolak revolusi yang sedang berlangsung. Jadi, mereka menolak tema istana dan mitologi Yunani.

Aliran Neoklasisisme ini berpusat di kerajaan Perancis. Raja Louis XVI adalah raja pelindung utamanya. Tokoh utama seniman Neoklasisisme adalah Jaques Louis David. Istana membentuk kumpulan orang-orang yang dianggap ahli, termasuk David sendiri, untuk menilai hasil seni yang baik.

Louis David benar-benar seorang tokoh yang plin-plan. Ketika Raja Louis XVI dipaksa turun tahta kerajaan dan dipenggal (dihukum mati),David ikut menandatangani persetujuan hukuman mati tersebut. David ikut bergabung dengan musuh Louis XVI sebagai kaum demokratis, yang dipimpin oleh Napoleon I. Ketika Napoleon I diasingkan ke Pulau Elba, David ikut menentang Napoleon. Tetapi setelah Napoleon I kembali menguasai Perancis, Louis David kembali lagi menjadi pengikut Napoleon.

Ketika Napoleon diasingkan kembali ke sebuah pulau di Laut Atlantik (dipenjarakan), Pemerintah Perancis tidak dapat mengampuni perbuatan David. Akhirnya David diusir, kemudian ia menetap di luar negeri. Lukisan Odalisque karya Ingres (salah seorang murid David) adalah lukisan yang terkenal dari aliran ini. Sebagai anak muda, Ingres melukis dengan semangat “romantisme”.

·         Romantisme

Aliran ini lebih banyak menampilkan gambar kejadian yang dahsyat, penuh hayal, dan gejolak perasaan. Aliran ini merupakan aliran anti-klasik dan anti-renaissance. Hal-hal yang fantastik atau tentang kejadian-kejadian masa kuno, dan petualangan, merupakan ciri yang digambarkan dalam lukisan-lukisan aliran ini. Gerakan Raomantisme dimulai di Inggris.

“Rakit Medusa” (Rapt of the Medusa) merupakan satu di antara karya TheodoreGericault yang terkenal. Karya ini pada dasarnyaadalah kecaman politis kepada pemerintahan Louis XVIII yang secara tidak langsung telah berbuat ceroboh menyebabkan ratusan imigran asal Perancis menemui ajalnya karena kecelakaan kapal laut. Gaya pelukisan tokoh-tokohnya masih belum melepaskan diri dari gaya klasik yang menggambarkan manusia-manusia telanjang. Di Perancis, romantisme sangat kuat mempengaruhi seni bangun. Aliran ini sangat jelas meng-ambil unsur seni Romawi dan Yunani yang diungkapkan secara romantis. Aliran ini lebih cenderung mengedepankan watak seniman ketimbang hal-hal teknis.

“Rakit Medusa” (Rapt of the Medusa) merupakan satu di antara karya TheodoreGericault yang terkenal. Karya ini pada dasarnyaadalah kecaman politis kepada pemerintahan Louis XVIII yang secara tidak langsung telah berbuat ceroboh menyebabkan ratusan imigran asal Perancis menemui ajalnya karena kecelakaan kapal laut. Gaya pelukisan tokoh-tokohnya masih belum melepaskan diri dari gaya klasik yang menggambarkan manusia-manusia telanjang. Di Perancis, romantisme sangat kuat mempengaruhi seni bangun. Aliran ini sangat jelas meng-ambil unsur seni Romawi dan Yunani yang diungkapkan secara romantis. Aliran ini lebih cenderung mengedepankan watak seniman ketimbang hal-hal teknis.

·         Realisme

Tokoh Realisme adalah Gustave Courbet, yang akhirnya mendapat kemasyhuran seperti yang sekarang dialami Picasso. Sebelumnya, orang melukiskan “gambar hayalan”. Tetapi Courbet betul-betul menggambarkan suatu kenyataan yang terjadi sehari-hari. Lukisan Courbet yang menghebohkan adalah yang berjudul “Penguburan di Ornan” dan “Pkerja Batu”. Awalnya, lu-kisan gaya Courbet ditentang. Kemudian dia mengadakan pameran tunggal Le Realisme, G. Courbet. Dan, Courbetlah yang kemudian memberi nama gaya lukisan seperti yang dibuatnya dengan sebutan Realisme.

Theodore Raousseau dianggap sebagai pemimpin kelompok pelukis Barbizon ini. Di samping Rousseau, ada Daubigny, Francois Millet, dan Corot. Corot selalu mengggambarkan pemandangan alam lengkap dengan objek manusia, sedangkan Millet lebih mengutamakan objek manusia, gambar pemandangan hanya sekadar bagian latar belakang. Di antara pelukis-pelukis yang tergabung dalam kelompok Barbizon ada pelukis yang tidak tertarik dengan tema pemandangan, yaitu Daumier. Dia lebih tertarik untuk menggambarkan kehidupan rakyat jelata. Daumier terkenal sebagai karikaturis yang terbesar dalam sejarah. Karikatur-karikaturnya terlalu tajam dan pedas.Daumier sering masuk-keluar penjara karena dianggap menghina kaum istana.

Cara melukis kaum Barbizaon akhirnya tidak memberi kepuasan kepada para senimannya, karena mereka merasa belum bisa melukis pemandangan yang sesungguhnya. Angkatan sesudah Barbizon, seluruhnya meninggalkan studio, mereka melukis langsung di alam terbuka. Pelukis-pelukis ini meyatakan diri mereka sebagai pelukis plain air (udara luar).

Melukis di luar studio menimbulkan kesulitan tentang cat minyak.Cat minyak tidak bisa mendadak dibuat di luar studio. Biasanya, cat minyak dibuat di dalam studio oleh para pelukis yang berstatus murid. Seorang pelukis kelahiran Amerika, Rand, menemukan cara baru dalam mengawetkan, mengemas cat minyak secara aman. Dia menyimpannya di dalam tube.

·         Impressionisme

Melukis plain air ternyata menuntut teknik yang baru dalam melukis. Melukis di luar studio harus dikerjakan secara cepat. Cuaca di luar studio cepat berubah-ubah, sehingga menghendaki cara yang berlainan dengan cara melukis di dalam studio yang tidak dibatasi oleh perubahan suasana dan cuaca alam. Dalam tahun 1863 kaum akademik menolak untuk memamerkan karya Eduard Manet dalam pameran resmi yang disebut Salon. Tetapi, para penguasa saat itu malah memamerkan lukisan Manet yang ditolak oleh para juri itu, dengan sebuah pameran khusus yang disebut “Salon Lukisan yang Ditolak”. Pameran tersebut mendapat perhatian pengunjung, tetapi sekadar menertawakan “orang yang baru belajar melukis, yang menentang putusan para seniman yang baik”.

Di samping Manet, ada seorang pelukis yang tetap menunjang usaha Manet. Dia adalah pelukis miskin dan keras kepala dari Le Harve. Calude Monet namanya. Dia memberi penguatan kepada Manet untuk tetap melukis di luar studio. Bahkan, Monet menganjurkan untuk sama sekali tidak seolespun melukis di dalam studio, kecuali jika langsung berhadapan dengan bendanya. Monet memiliki sebuah perahu untuk melukis langsung pemandangan sungai, dan perahu tersebut telah menjadi studionya.

Tokoh-tokoh terkenal yang terkait dengan impressionisme antara lain: Eduard Manet, Claude Monet, Auguste Renoir, Edgar Degas, Camille Pissarro, dan Alfred Sisley. Yang menarik adalah yang pernah dilakukan oleh seorang pelukis asal Amerika yang kemudian menetap di London: James McNeill Whistler.

Dia turut berpameran dalam “Salon Lu-kisan yang Ditolak”. Ia pernah bersitegang dengan John Ruskin, kritikus besar waktu itu, karena dalam pamerannya Wistler menyertakan harga 200 guinea (uang Inggris lama). Ruskin mengeritik habis-habisan perilaku Wistler, dengan tulisan “Saya tidak pernah menduga akan mendengar seorang badut meminta 200 guinea untuk tingkahnya melempari muka umum dengan sebotol cat”. Ruskin digugat oleh Wistler, karena dianggap telah menghinanya.

·         Post Impressionisme

Pada saat Impressionisme telah diterima oleh masyarakat dan sebagain besar kritikus, sejumlah pelukis (terutama angkatan muda) merasa perlu “kembali memperhatikan cara melukis yang mendasar”. Renoir mempelajari kembali lukisan-lukisan Rubens dan karya seniman Venesia. Georges Seurat, Paul Cezanne, Vincent van Gogh, dan Paul Gauguin, adalah pelukis muda yang mengikuti langkah Renoir. Mereka mempelajari kembali secara lebih teratur tentang sifat ruang trimatra, nilai ungkapan pada garis, warna, dan sifat perlambangan subjek. Mereka, secara mendasarmenerima gaya pelukisan impressionis tetapi apa yang mereka tampilkan kemudian adalah sesuatu yang menyimpang dari impressionisme sebenarnya.

Dengan ditemukannya teori spektrum warna, yang menyanggah bahwa cahaya matahari hanya cahaya polos saja, hal ini memberi inspirasi kepada Signac untuk membuat teori bahwa suasana selalu dipengaruhi oleh spaktrum yang berubah-ubah. Pendapat ini mempengaruhi lahirnya cara melukis di luar kebiasaan. Cara yang biasa adalah dengan mencampur cat di atas palet sebelum disapukan di atas kanvas. Cara yang baru adalah dengan menempatkan langsung warna-warna secara berdekatan satu sama lain. Cara ini disebut divisionisme (sering dikelirukan dengan sebutan pointilisme). Cara ini sangat sulit, membutuhkan kepatuhan yang keras, berbeda dengan yang biasa dikerjakan dalam lukisan impressionisme yang memungkinkan penempatan cat atau warna secara bebas, lincah, dan seadanya.

Pada perkembangan selanjutnya ada di antara mereka yang kemudian membawa aliran baru yang lebih sering disebut Expressionisme. Banyak tokoh yang terikat dalam aliran ini, antara lain Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Ernst Ludwig Kirchner, Kartl Schmidt Rottluff, Emil Nolde, Ernst Barlach, Wassily Kandinsky, dan Paul Klee. Di Perancis, ekspressionisme diberi nama Fauvisme, dengan tokoh-tokohnya antara lain Henri Matisse, Andre Derain, Maurice de Vlamick, Raoul Dufi, dan Kees van Dongen.

·         Cubisme

Cubisme digagas oleh Pablo Picasso dan George Braque. Lukisan dengan gaya ini memiliki bahasa ungkapan yang khas. Dalam menerjemahkan alam sebagai objek-tiruan-bentuk lukisan, bentuk digambarkan dalam permukaan yang datar. Kesan kedalaman benda tidak lagi mengikuti cara pandang gaya pelukisan natural. Semua objek menjadi papar dan tembus pandang. Sesuatu yang jauh diletakkan di bagian atas. Cara pandang ini seperti yang biasa digunakan oleh anak-anak, manusia prasejarah, maupun senimanseniman masa lalu ketika menggambarkan sesuatu (Mesir,Cina, Persia, Eropa sebelum Renaissance, dan masih ba-nyak lagi). Wujud benda yang digambarkan mengacu rupa kubus.

Perkembangan awalnya dimulai dengan lukisan besar karya Pablo Picasso yang menggambarkan sekelompok perempuan sedang mandi: Les Demoiselles d’Avignon. Picasso melahirkan karya ini setelah dia menjelajahi Afrika dan tertarik oleh gaya patung suku Iberia. Dalam lukis-an yang digubah tahun 1907 ini, tampak sifat mendua yangditampilkan Picasso. Sebagian bentuk perempuan tampak dalam pola stilir, sebagian lagi merupakan wujud yang dipengaruhi oleh patung primitif. Pengaruh patung tersebut tampak lebih jelas pada lukisan Picasso yang lain “Grande Denseuse”.

Rupa manusia merupakan objek yang paling banyak ditiru dalam lukisan-lukisan kubis. Cara pelukisan raut manusia sangat beragam.

Dalam menggambarkan objek pelukis bergerak mengelilinginya, bahkan “menembusnya”. Pemalihan bangun dilakukan untuk mendapatkan kesan banyangan, pengabstraksian, atau sekadar menonjolkan citra barik: kelembutan (softness), kesejukan (coldness), kekasapan (roughness), atau ketenangan (restfulness).

·         Futurisme, Daddaisme, Surrealisme, Abstract, Dan ...

Meskipun bukan satu kelas bahasan, Futurisme, Dadaisme, Surrealisme, dan Abstract ditempatkan dalam satu judul bahasan, untuk menunjukkan bahwa masih begitu banyak aliran seni rupa Barat modern. Futurisme misalnya, adalah aliran senirupa yang dibangun di luar Perancis, yaitu di Italia. Tokohnya Filippo Tornasso Marinetti. Aliran ini pada dasarnya mendobrak paham kubis yang dianggap statis dalam soal komposisi, garis, dan warna. Aliran Dada merupakan gerakan nihilis, anti seni, anti perasaan, dan cenderung menampakkan kekasaran dan kekerasan.

Selanjutnya ada Surrealisme, aliran yang pada awalnya merupakan gerakan gdalam sastra: appolinaire. Dalam kreativitas seninya, kaum surrealist membebaskan diri dari kontrol kesadaran, sebebas orang yang sedang bermimpi. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran psikoanalisa Sigmund Freud. Dalam penampilannya ada yang fotografis (Salvador Dali) ada juga yang amorfis (Joan Miro).

Abstractionisme, lebih dikenal dengan Abstract (Abstrak) saja, merupakan gambaran perkembangan berpikir yang melepaskan diri dari wujud-wujud alam nyata. Aliran-aliran sebelumnya masih berpegang pada objek tertentu yang figuratif, yang bisa diindera. Pada aliran Abstrak, bentuk objek dikembalikan pada unsur-unsur bentuk yang paling mendasar: warna sebagai warna, garis sebagai garis, atau bidang sebagai bidang. Dalam perkembangannya, muncul Abstrak Impressionis, Abstrak Ekspressionis, dan Abstrak Geometris. Abstrak Impressionis masih menyisakan bentuk tertentu yang telah dimodifikasi, semi abstrak, abstraksi.

Abstrak Ekspressionis (Mark Rothko, Clyfford Still, Adolf Gotlieb, Robert Motehrwell, Bornett Newman: yang mengandalkan lukisan bidangbidang berwarna; Jackson Pollock, Franz Kline, dan Jack Twar-kov: mengandalkan action painting), dan Abstrak Geometris (Piet Mondrian, Bart van Leck, Theo van Doesburg: dikenal dengan sebutan neoplastisisme) dianggap sebagai abstrak yang sebenarnya, non-objektif.

Pada masa selanjutnya, masa Post-Modern, aliran seni rupa muncul lagi sejalan dengan pola pikir zaman. Perulangan selalu tampak, meskipun tidak semuanya persis. Optic Art (Op Art) dan Pop Art adalah dua di antara aliran-aliran yang muncul sejalan pikiran modern kekinian. Mereka memutarbalikkan aturan yang telah mapan sebelumnya. Op Art mi-salnya, mengulang-ulang bentuk yang pada teori seni rupa sebelumnya dianggap sesuatu yang tabu. Pop Art pun demikian, para pelukis yang menggunakan pola pikir Pop Art, mereka mendaurulang karya orang lain untuk disusun dalam suatu gubahan baru yang menarik. Misalnya meniru bentuk-bentuk yang ada dalam buku komik terkenal, menyusun foto seniman terkenal yang ditata secara berulang mengikuti pola seni hias.

Berikut adalah bagian dari sebuah tulisan yang membahas secara khusus tentang Cubisme. Tulisan ini adalah sebuah makalah yang ditulis oleh Jajang Suryana, yang disampaikan di FPs FSRD ITB tahun 1993.

 

SUBJEKTIVISME DALAM SENI RUPA MODERN:

Kupasan Tentang Lukisan Cubism

Oleh Jajang Suryana

Dalam paham tradisional, estetika dikelompokkan sebagai cabang filsafat, sama seperti epistemologi, etika, metafisika, politik, dan sebagainya. Ia dirumuskan sebagai filsafat citarasa, merupakan hasil renungan spekulatif, yang sifatnya sangat mujarad , tak maujud (abstrak). Sebaliknya, dalam perkembangan masa kini, estetika dianggap sebagai ilmu (pengetahuan) tentang peng-alaman nyata, tentang tanggapan cerapan, yang bisa diteliti dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

Estetika Barat konvensional lahir pada abad XVIII. Konsep estetika tersebut terutama muncul dalam tesis filsuf dan penulis Jerman seperti Baumgarten, Kant, dan Schiller. Alexander Baumgarten (1714 - 1762) menemukan nama aesthetics dari bahasa Yunani, aisthesis, yang bermakna sense perception, cerapan rasa. Istilah tersebut, oleh filsuf masa lalu, dinyatakan sebagai teori keindahan atau filsafat citarasa. Baumgarten memilih kata aisthesis untuk menegaskan bahwa pengalaman seni adalah alat pengetahuan.

Ada dua sifat pendekatan estetika: estetika filosofis dan estetika saintifis. Estetika filosofis memiliki gugus tugas analisis “kebenaran” konsep, pernyataan seni. Estetika saintifis --estetika ilmiah ini disebut juga sebagai estetika psikologis, karena menggunakan perangkat teori psikologi-- meliputi pertanyaan-pertanyaan keilmuan yang bisa dijawab melalui metode empiris.

ESTETIKA FILOSOFIS

Estetika filosofis disebut juga metacriticism. Ia, seperti disebut oleh para ahli filsafat, berisi analisis atau kupasan tentang pengertian-pengertian yang mereka gunakan ketika membuat pertanyaan-pertanyaan ihwal seni. Pertanyaan, penafsiran, dan penilaian seni merupakan bahasan yang mendasar. Ia tidak bertalian dengan penggubahan karya seni, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan maknawi, seperti “keindahan”, “simbolis”, “representatif”, “baik”, “sahih”, dan lain-lain, ketika kata tersebut diterapkan dalam bahasan seni. Berbeda dengan filsafat pada umumnya yang banyak memperhatikan keindahan dan keagungan aspek alam, metecriticism cenderung mengabaikan alam, ia adalah filsafat kritik seni, seni ciptaan manusia (Cayne, 1971).

Beberapa teori estetis yang dikelompokkan ke dalam estetika filosofis adalah sebagai berikut. Attitude Theory (teori sikap) dipelopori oleh Edward Bullough. Teori Bullough menyangkut konsep psychical distance (jarak psikis) yang menunjuk keadaan psikologis khusus, yaitu berkaitan dengan kegiatan yang disebut dengan istilah cerapan tak memihak (disinterested perception). Keindahan sebuah objek adalah hasil pikiran penikmat, penonton, karena semua objek adalah objek estetis. Nilai sesuatu sangat tergantung kepada sikap subjek, penikmat.

Teori estetis yang lain adalah evaluative theories. Beberapa teori penilaian (evaluative

theory) ini di antaranya:

1. Intuitionism: teori ini menegaskan bahwa penilaian sesuatu itu indah, baik, buruk, menunjuk kepada sesuatu yang bernilai non-empiris, hanya bisa dinilai secara intuitif. Teori keindahan milik Plato merupakan versi awal intuitionism ini.

2. Subjectivism: agark berbeda dengan intuitionism. Penilaian indah, baik, atau buruk itu menunjuk bahwa bila sesuatu dinilai indah, sesuatu itu, paling tidak, menyenangkan pencerapan; baik bisa berarti “saya menyukainya”; dan buruk mungkin bermakna “saya

tidak menyetujuinya”, dan sebagainya.

3. Emotivism: sebuah pandangan yang mengandung penilaian bahwa indah, baik, atau buruk itu hanya menunjuk pada perasaan pengguna kata tersebut. Keindaha misalnya, ada

dalam mata pelihat. Konsep ini hampir sama dengan teori Bullough.

4. Instrumentalism: dalam teori ini pendefinisian istilah penilaian yang digunakan dalam mengukur keindahan sangat dihindari. Kerja seni yang baik, dalam pandangan paham ini, adalah ibarat membuat suatu pengalaman estetis yang berharga bagi penikmat. Berolah seni adalah kegiatan mimesis (meniru). Tesis ini adalah buah pikir Plato. Peniruan, menurut Plato, bukanlah meniru sesuatu yang kasat mata, melainkan sesuatu yang ada di balik dunia nyata. Bentuk-bentuk hasil tiruan alam nyata oleh Plato ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah, hanya sekadar techne.

Seperti Plato, Aristoteles menyimpulkan bahwa seni adalah proses produksi yang menggunakan peniruan sebagai pokok bahasa utama. Ia mengembangkan teori chatarsis sebagai tandingan terhadap apa yang disalahmengertikan oleh Plato tentang pengaruh seni terhadap penonton. Teori Plato maupun Aristotle merupakan dua kubu teori yang berpengaruh pada classical aesthetics, teori yang berkembang pada masa klasik.

Berdasarkan pada teori keindahan dari Plato, St. Agustine mengembangkan konsep keindahan seni yang berhubungan dengan nilai keagamaan. Pandangannya sangat berpengaruh dalam konsep ruang seni bangun Gothic. Begitu pula terminologi yang dikembangkan oleh St. Thomas Aquinas, dengan mengambil konsep metafisik Aristotle, memberi pengarun yang sama seperti konsep yang dikembangkan Agustine.

Teori Plato dan Aristotle terus berpengarunkepada filsuf Ranaissance. Penerjemahan juga perbaikan konsep-konsep yang pernah mereka kemukakan, terus dilakukan. Misalnya yang dilakukan oleh Marsilio Ficino dan Giordano Bruno. Yang paling menarik adalah yang dikembangkan oleh Leo Battista Alberti, yang kemudian hari sangat berpengaruh kepada prinsip keruangan dalam lukisan. Alberti mengajukan konsep lukisan yang mirip dengan yang terlihat mata, lukisan dengan teknik perspektif, berbeda dengan lukisan yang dikembangkan oleh seniman-seniman abad pertengahan. Hal yang sama dilakukan oleh Leonardo da Vinci.

Anthony Ashley Cooper yang mengembangkan konsep metafisik neoplatonistik yang dikelompokkan sebagai estetika masa modern awal. Gagasan Cooper tentang estetika perenungan, yang berasas keseimbangan alam dengan manusia dan dalam menilai keindahan mengutamakan rasa serta citarasa moral, dibantah oleh Thomas Hobbes. Hobbes mengemukakan bahwa estetika perenungan tidaklah penting. Walaupun demikian, ide Cooper selanjutnya disistematisasikan oleh Francis Hutcheson, seorang filsuf Scott. Selanjutnya oleh David Hume. Hume menegaskan bahwa kualitas keindahan bukanlah sesuatu yang objektif.

Seperti Hume, Immanuel Kant menganggap bahwa objek yang disebut indah adalah ketika bentuknya menunjukkan kerukunan yang saling berpengaruh antara citra dan pengertian. Penilaian rasa, demikian menurut Kant, seperti “lukisan itu indah”, bersifat subjektif dan tidak bisa ditegaskan sebagai konsep. Bahkan, Kant mempertahankan prinsip bahwa penilaian keindahan tidaklah penting.

Croce menyusun teori estetisnya --dikelompokkan sebagai contemporary aesthetics-- dalam sistem filosofis idealis. Baginya, estetika adalah bidang pengetahuan intuitif. Seni, menurut pendapatnya, sama dengan intuisi; seni ada dalam pikiran seniman; sessuatu yang bersifat fisik yang dihasilkan oleh seniman bukanlah seni. Hasil fisik hanyalah sebagai sebuah penolong dalam penciptaan kembali seni dalam pikiran penikmat. Oleh karena itu, seni adalah emosi seniman. Prinsip-prinsip yang diajukan oleh Croce diikuti Robin G.Collingwood, seorang filsuf Inggris.

George Santayana yang menyebut dirinya sebagai seorang materialist, sama seperti Hume dan Kant, menyangkal bahwa keindahan adalah sifat objektif sesuatu. Keindahan serupa dengan kesenangan yang dialami ketika objek-objek khusus dicerap, keindahan adalah sifat objek, perasaan senang diobjektifkan dalam pencerapan objek. Santayana pun menganggap penting faktor-faktor fisik dan psikik yang meliputi pengalaman estetik.

Dikuasai oleh paham pragmatis, John Dewey, seorang filsuf Amerika, mempertahankan pendapatnya bahwa seni adalah bagian dari kehidupan yang biasa. Salahlah memisahkan seni dari kehidupan.Tema penting lainnya yang dikemukakan oleh Dewey adalah masalah instrumentalisme: Pengetahuan dan objek cerapan pada dasarnya sebagai instrumen dalam kehidupan dan pengalaman hubungan organis dengan lingkungan. 

ESTETIKA ILMIAH

Estetika ilmiah (scientific aesthetics) meliputi pertanyaan ilmiah yang bisa dijawab melalui kegiatan empiris, menggunakan perangkat percobaan psikologi. Oleh karen itu, estetika ilmiah biasa juga disebut estetika psikologis. Dikenal empat golongan pendekatan dalam estetika ilmiah: psikologi eksperimen, psikologi introspektif, psikologi gestalt, dan psikoanalisa.

Meskipun I.A. Richard tidak melakukan percobaan-percobaan, tulisan Principle of Literary Criticism-nya menunjukkan contoh ketertarikan Richard terhadap pengeruh teori psikologi eks-perimental dalam estetika. Dia mencoba menelaah pengalaman estetik melalui pendekatan pengertian psikologi behavioristik. Pengalaman estetik digolongkan sebagai sebuah keseimbangan gerak hati yang disebabkan oleh penglaman kegiatan seni.

Gestaltism menekankan perhatian kepada sifat-sifat keseluruhan, sedangkan bagianbagian dianggap sebagai hal yang sekunder. Bagian hanya mempunyai arti sebagai unsur dari keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian yang lain. keseluruhan tampak terlebih dahulu, baru disusul bagian-bagian. Menikmati sebuah lukisan misalnya, juga benda-benda lainnya, pada awalnya yang tercerap adalah keseluruhannya, baru secara bertahap bagiannya. Keindahan, dalam gestaltism, adalah suatu keseluruhan yang mengandung makna.

Pendekatan psikoanalisa berisi pengkajian seni melalui pembahasan model-model manusia pelaku seni. Telaah tentang subjektivisme di dalam lukisan cubism berikut ini menggunakan pendekatan bahasan psikoanalisa tersebut. 

SUBJEKTIVISME DALAM LUKISAN CUBISM

Sejumlah lukisan gaya cubism dari beberapa pelukis yaitu Pablo Picasso, Georges Braque, Fernand Leger, Juan Gris, Charles Edouard Jeanneret, dan Ameede Ozenfant akan mejadi bagian bahasan dalam paparan ini. Pemilihan karya-karya bahasan dilakukan secara acak dari sejumlah besar lukisan gaya cubism yang cukup dikenal. Penunjukan karya-karya yang dianggap “populer” adalah dengan mempertimbangkan kekerapan lukisan dimaksud sebagai contohan dalam sejumlah bahasan buku.

Lukisan bergaya cubism memiliki bahasa ungkapan yang khas. Dalam menerjemahkan alam sebagai objek-tiruan untuk lukisan, bentuk digambarkan dalam kesan datar (flat). Kesan kedalaman benda tidak lagi mengikuti cara pandang gaya pelukisan natural. Sesuatu yang jauh diletakkan di bagian atas bidang gambar. Pola sederhana ini telah lama menjadi cara ungkap milik hampir semua manusia, baik manusia purba, tradisi, maupun anak-anak.

Penggagas gaya pelukisan cubism adalah Pablo Picasso dan Georges Braque. Pada awal pencariannya dalam wilayah olah gaya baru ini, mereka tidak mendapat dukungan dari seniman-seniman lain pada masanya. Tetapi sejak tahun 1920, gaya mereka mulai diikuti pelukis-pelukis muda Paris, yang kemudian mempengaruhi perkembangan baru di Italia, Jerman, Rusia, dan Inggris.

Perkembangan awalnya dimulai dengan lukisan besar karya Pablo Picasso: Les Demoiselles d’Avignon (1907). Lukisan lain yang juga sangat dikenal sebagai contohan dalam pembahasan cubism adalah Grande Denseuse yang sangat keras jejak tiruan topeng Afrika dalam tampilan bentuknya.

Rupa manusia merupakan objek yang banyak ditampilkan dalam lukisan-lukisan cubism. Cara pelukisan raut manusia beragam, mulai dari bentuk yang mudah dicerap, dikaburkan dengan teknik pemiuhan, hingga bentuk yang sangat kabur karena telah berubah menjadi susunan bidang, warna, bahkan garis.

Lukisan Still Life dengan unsur alat musik seperti gitar dan biola, merupakan tema yang banyak dipilih oleh para cubist. Picasso, Braque, Jeanneret, dan Ozenfant misalnya, memiliki lukisan dengan tema still life yangmenggambarkan objek yang hampir sama. Mereka tampaknya sangat menyukai tema ini. Bagi mereka, pemilihan tema atau objek lukisan tidaklah terlalu menimbulkan masalah.

Ada sejumlah lukisan yang mereka buat dengan tema dan objek yang hampir sama, tema alat musik seperti biola, gitar, gelas, botol, dan sejenisnya. Unsur alam benda lain yang menonjol dalam lukisan-lukisan Ozenfant, Jeanneret, dan juga Picasso adalah bentuk-bentuk bejana seperti botol, kendi, dan pot bunga.

Para pelukis modern, pada kenyataannya lebih tertarik dengan kenyataan-dalam. Mereka menggambarkan tiruan bangun alam secara penggayaan (stilir), pemiuhan (deformasi), peniskalaan samar (abstraktif), bahkan peniskalaan (abstrak). Sesuatu yang ditampilkan dalam kenyataan-luar, seperti dalam lukisan-lukisan pramodern, dianggap “terlalu dangkal, tidak menampakkan kedalaman berpikir”. Kegiatan meniru saja tidak dianggap sebagai sebuah prestasi, karena bentuk-bentuk tiruan nyata terlalu mudah dicerna siapa saja, tanpa memerlukan pernungan. Sebaliknya, lukisan-lukisan yang menggambarkan dunia-dalam, yang menampilkan “kenyataan yang lain, kenyataan yang dimenerti seniman modern”, yang penikmatannya memerlukan usaha perenungan, menjadi lukisan yang dihargai kalangan pendukung seni rupa modern.

Seni rupa modern,seperti diakui oleh pendukungnya, adalah gambaran manusia modern. Seniman modern, begitu juga umumnya manusia modern, memiliki sifat yang individualis. Produk kesenian yang dihargai adalah produk yang secara pasti menunjukkan ciri khas individu, bukan yang mencirikan kolektivitas. Oleh karena itu, senimanmodern terus-menerus mencari bentuk tampilan karya yang berciri pribadi. Memang, pada akhirnya, seniman modern lebih mementingkan kepuasan diri sendiri.

Pergantian pengaruh aliran dalam seni rupa modern merupakan hal yang sangat biasa. Gambaran gerak yang tanpa henti, gambaran sifat manusia modern, tampak di sana. Carl Gustav Jung melihat perubahan tersebut sebagai proses pergantian pengaruh dan sifat utama manusia yang akan terus berulang: extravert dengan introvert (Fodham, 1988).

PENGELOMPOKAN ALIRAN SENI RUPA MODERN

Seperti telah disebutkan, Jung membagi kelompok aliran seni rupa modern berdasarkan perbedaan dan persamaan kejiwaan yang menjadi ciri tampilan aliran tertentu. Secara garis besar, aliran-aliran seni rupamodern terbagi atas empat kelompok, seperti berikut.

1. Kelompok Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme

Seniman-seniman yang termasuk ke dalam kelompok aliran ini, meminjam konsep hasil kajian Jung, dalam kegiatan berkarya mengutamakan unsur pikir. Peniruan terhadap alam mereka lakukan dalam peniruan dunia-luar. Mereka mencontoh alam secara nyata. Kenyataan yang mereka tangkap dalam kanvas adalah kenyataan yang tidak memerlukan penafsiran penikmat. Para realist mengangkat kenyataan kejadian; para naturalist meniru kenyataan alam; dan para impressionist --dimasukkan ke dalam kelompok ini-- (karena) mereka melukis dengan berusaha menangkap kenyataan cahaya. Dunia-luar objek adalah kondisi nyata yang secara visual tidak memerlukan penafsiran tertentu.

2. Kelompok Surrealisme dan Futurisme

Kelompok seniman ini, menurut Jung, lebeih dipengaruhi perasaan dalam mengolah objek karyanya. Keinginan melebih-lebihkan penggambaran sesuatu menjadi ciri tampilan karya mereka. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam menanggapi dunia luar alam.

Imajinasi, bagi kelompok ini, sangat diagungkan. Imajinasi yang menguasai seniman kelompok ini bisa berupa imajinasi figuratif maupun nonfiguratif. Seniman yang memiliki sikap extravert, harus bersetuju dengan kenyataan dalam usaha menampilkan materi untuk memenuhi tuntutan imajinasinya. Mereka menyalurkan ciri pribadinya ke dalam objek, sehingga objek yang ditampilkan bisa mewakili ciri dirinya. Tetapi yang introvert, mereka lebih mementingkan otomatisasi perasaan yang dikuasai oleh alam bawah sadarnya.

3. Kelompok Fauvisme dan Expressionisme

Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Seniman-seniman yang menganut gaya berkarya kelompok ini banyak menampilkan unsur kejutan-kejutan,ekspresi yang mengalir deras. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa perseorangan senimannya.

Kegiatan berkarya seniman-seniman kelompok ini dilatari oleh sikap objektif dan subjektif. Sensasi yang memotori sikap mereka, pada kelompok yang dikuasai sikap extravert, sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi, seperti yang ditemukan oleh Jung, reaksi pada objek bukan pada kenyataannya, bukan pula pada tampilan yang dangkal, melainkan pada nilai sensasi. Kualitas rasional dan spiritual di kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan, ditampilkan dengan titik berat pada tujuan sensasi. Kelompok yang bersikap introvert, lebih dikenal dengan sebutan haptic. Tipe ini, tentu saja, lebih banyak berupa sifat bawaan.

4. Kelompok Cubisme. Constructivisme, dan Functionalisme

Konsep berpikir seniman pada kelompok ini, menurut Jung, sangat dipengaruhi intuisi. Intuisi menjadi titik pusat perhatian mereka. Mereka menunjukkan keasyikan mengolah bentuk-bentuk objek yang mujarad (abstrak). Kelompok ini bisa dikatakan cenderung menampilkan sikap introvert. Intuisi mereka, meskipun menjadi penggerak utama cara pikir mereka, tidak langsung berhubungan dengan bentuk eksternal di luar ekspresi.

Read (1958) menyebutkan apa yang dikemukakan oleh Jung hanyalah model hipotesis. Walaupun seni dan kepribadian itu adalah sesuatu yang merdeka, keduanya bisa memiliki hubungan yang akan tampak dalam cara berekspresi seseorang. Model hipotesis Jung adalah sebuah pendekatan ilmiah tentang estetika. Sebagai sebuah pendekatan alternatif, hal tersebut bisa dijadikan sebagai bahan kajian yang bisa melengkapi kajian estetika dengan pendekatan yang lain.

Seni rupa modern pada dasarnya adalah gambaran pola berpikir masyarakat modern. Tetapi, secara nyata, tidak semua masyarakat modern mendukung keberadaan model tampilan karya seni rupa tersebut. Hanya sebagian kecil masyarakat saja, yaitu masyarakat tertentu, yang bisa menerima kehadirannya. Banyak isu dan konsep berpikir yang melatarbelakangi kehadiran jenis-jenis karya seni rupa modern, yang tidak mudah bahkan tidak bisa dicerna oleh masyarakat kebanyakan. Oleh karena itu, seniman modern dan karyanya, kerap menjadi bahan perdebatan.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS LATIHAN 2 INFOGRAFIS

PENGELOMPOKKAN SENI RUPA

Ainaya Fathul Zannah - Sejarah Seni, Seni Kriya, dan Desain – Latihan 4