SEKILAS TENTANG ALIRAN SENI RUPA
Batasan Pengertian Aliran dalam Seni Rupa
Aliran, pada awalnya
hanya gambaran ciri milik individu tertentu. Aliran, bisa juga awalnya
merupakan gambaran ciri kelompok tertentu. Aliran, mungkin juga awalnya adalah
gambaran ciri sebuah keadaan, kondisi zaman. Dalam perkembangan seni rupa
Barat, aliran “muncul tidak saja bertumbuhan secara bersama, tetapi juga
bersimpang-siur.Bahkan kadang-kadang bertentangan yang satu dengan yang
lainnya” (Arifin, 1985: 122). Dalam kondisi tertentu, satu aliran merupakan pengganti
aliran lain, penentang aliran lain, atau penerus aliran lainnya.
Dalam masyarakat tradisi
kita mengenal seni tradisi yang diikat oleh aneka pakem (aturan, norma, nilai,
konvensi, awig-awig). Pakem itu akan tetap dipertahankan selama masyarakat
pendukung jenis kesenian tersebut masih menunjangnya. Sebuah contoh dekat,
dalam seni pertunjukan tradisional wayang (wayang kulit, wayang golek, maupun
wayang orang). Salah satu pekem yang ‘harus’ dipegang oleh dalang adalah
menempatkan tokoh-tokoh cerita wayang secara terpola. Tokoh-tokoh baik
ditempatkan di sebelah kanan dalang, sedangkan tokoh-tokoh buruk di sebelah
kiri dalang. Begitupun ketika dalang memainkan boneka tokoh tertentu, suara
tokoh, sabetan, cara berlaga-lagu, harus memenuhi aturan pakem. Ketika dalang
memainkan pertunjukan dengan cara di luar pakem, cara yang dianggap keliru,
penonton akan protes. Itulah gambaran bersatunya penonton dengan pemain dalam
pertunjukan seni tradisi.
Dalam dunia seni rupa,
yang paling cepat mengalami perubahan adalah seni imba (representational art),
seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis, dibanding seni bangun. Seni
bangun berubah mengikuti permintaan pasar. Sementara itu, seni imba, karena
terkait dengan kebebasan pribadi, seni yang mewakili gambaran pribadi
senimannya, lebih bebas mengalami perubahan sejalan dengan keinginan
masing-masing pribadi seniman. Oleh karena itu, alirn yang muncul ke permukaan,
baik sebagai bentuk reaksi terhadap keadaan tertentu maupun sebagai gambaran
zaman, banyak sekali kita temukan dalam seni imba tersebut. Beberapa aliran
seni bangun sempat berpengaruh terhadap para seniman, tetapi pengaruh tersebut
tidak seperti yang muncul dalam pengaruh seni imba.
Seni lukis sudah sejak
awal abad sembilan belas terlibat dalam perselisihan tentang gaya, dan melaju
agak cepat ke arah cara pengungkapan yang lebih mutakhir, sedangkan seni patung
mulai melangkah maju dalam paruh kedua abad ke sembilan belas. Dalam keadaan
seperti itu seniman-seniman yang membangkang, terutama pelukis, menghadapi
pasar yang sangat terbatas, bahkan kadang-kadang tidak ada sama sekali. Ia
sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati kelas menengah yang sejak lama
menyukai gaya neoklasisime sebagai lambang kejayaan kelas dan kedudukan
terhormat mereka. Hanyalah di bagian terakhir abad sembilan belas terdapat
kelas menengah yang lumayan banyaknya sebagi pencinta kesenian dengan sikap
baru” (Sakri, 1992: 2).
ALIRAN-ALIRAN SENI RUPA MODERN
Pada pertengahan abad
ke-19 muncul berbagai aliran yang menyertakan kata neo, karena kejenuhan,
kebuntuan, setelah mengalami klimaks pada masa Barok. Setelah masa Barok
lahirlah masa pengaruh Rococo. Kebaruan-kebaruan mulai digali oleh para seniman
untuk menemukan susana segar. Kelahiran Neo Gothic, Neo Renaissance, dan Neo
Barok merupakan upaya mengubah kondisi tesebut. Seni patung, pada permulaan
abad ke-19, belum mengalami perubahan seperti seni bangun. Baru pada akhir
perempat abad ke-19, jenis seni rupa ini mulai mendapatkan nafas baru hasil
pengaruh Impressionisme dan Realisme. Pada masa itu dikenal nama Antonio Canova
(pematung Italia) dan Auguste Rodin (pematung realis dari Perancis). Dalam
bidang seni lukis dikenal Jaques Louis David sebagai pelukis istana Napoleon
dan J.A.D. Ingres, muridnya.
“Di antara perkembangan
yang paling khas dalam abad sembilan belas (dalam batas tertentu di abad dua
puluh) ialah sikap para seniman yang terus-menerus berusaha mencari gaya baru
di tengah-tengah gaya masa lampau yang hadir di tempat sendiri, dan gaya masa
kini yang terdapat di tanah asing. Mereka ingin mencari wahana yang cocok bagi
penyaluran daya cipta mereka. Karena gaya neoklasisisme yang semula mapan itu
dianggap tidak cocok lagi untuk mengungkap gejolak batin yang kuat, seniman
yang mengutamakan kebebasan (individualistic) beralih pada bentuk yang lain.
·
Neoklasisime
Revolusi ini
mempunyai pengaruh sangat rawan di segala bidang pemikiran dan di segala
lapisan masyarakat. Pengaruh itu bukan saja untuk dunia Barat, akan tetapi juga
untuk sleuruh dunia. Kekuasaan dan kekayaan kaum istana sanggup menyerap
seniman-seniman terbaik, dan mereka dilindungi oleh istana. Di samping itu,
orang-orang yang dianggap ahli dan mengetahui seluk-beluk kesenian diserap juga
ke dalam istana. Dan, golongan ini, bersama seniman-seniman ternama,
ditempatkan di suatu academy yang sepenuhnya dilindungi oleh raja.
Istilah
Neoklasisime berarti “berpedoman kepada seni klasik dan mitologi Yunan”. Aliran
ini adalah aliran yang resmi dianut dan dilindungi oleh istana. Seniman yang
bekerja di luar istana biasanya merupakan seniman muda, dengan sendirinya
memiliki pemikiran dan sikap tanggapan yang lain. Mereka menganggap seni yang
dilindungi istana tadi tidak menunjang gejolak revolusi yang sedang
berlangsung. Jadi, mereka menolak tema istana dan mitologi Yunani.
Aliran
Neoklasisisme ini berpusat di kerajaan Perancis. Raja Louis XVI adalah raja
pelindung utamanya. Tokoh utama seniman Neoklasisisme adalah Jaques Louis
David. Istana membentuk kumpulan orang-orang yang dianggap ahli, termasuk David
sendiri, untuk menilai hasil seni yang baik.
Louis David
benar-benar seorang tokoh yang plin-plan. Ketika Raja Louis XVI dipaksa turun
tahta kerajaan dan dipenggal (dihukum mati),David ikut menandatangani
persetujuan hukuman mati tersebut. David ikut bergabung dengan musuh Louis XVI
sebagai kaum demokratis, yang dipimpin oleh Napoleon I. Ketika Napoleon I
diasingkan ke Pulau Elba, David ikut menentang Napoleon. Tetapi setelah
Napoleon I kembali menguasai Perancis, Louis David kembali lagi menjadi
pengikut Napoleon.
Ketika Napoleon
diasingkan kembali ke sebuah pulau di Laut Atlantik (dipenjarakan), Pemerintah
Perancis tidak dapat mengampuni perbuatan David. Akhirnya David diusir,
kemudian ia menetap di luar negeri. Lukisan Odalisque karya Ingres (salah
seorang murid David) adalah lukisan yang terkenal dari aliran ini. Sebagai anak
muda, Ingres melukis dengan semangat “romantisme”.
·
Romantisme
Aliran ini lebih
banyak menampilkan gambar kejadian yang dahsyat, penuh hayal, dan gejolak
perasaan. Aliran ini merupakan aliran anti-klasik dan anti-renaissance. Hal-hal
yang fantastik atau tentang kejadian-kejadian masa kuno, dan petualangan,
merupakan ciri yang digambarkan dalam lukisan-lukisan aliran ini. Gerakan
Raomantisme dimulai di Inggris.
“Rakit Medusa”
(Rapt of the Medusa) merupakan satu di antara karya TheodoreGericault yang
terkenal. Karya ini pada dasarnyaadalah kecaman politis kepada pemerintahan
Louis XVIII yang secara tidak langsung telah berbuat ceroboh menyebabkan
ratusan imigran asal Perancis menemui ajalnya karena kecelakaan kapal laut.
Gaya pelukisan tokoh-tokohnya masih belum melepaskan diri dari gaya klasik yang
menggambarkan manusia-manusia telanjang. Di Perancis, romantisme sangat kuat
mempengaruhi seni bangun. Aliran ini sangat jelas meng-ambil unsur seni Romawi
dan Yunani yang diungkapkan secara romantis. Aliran ini lebih cenderung
mengedepankan watak seniman ketimbang hal-hal teknis.
“Rakit Medusa”
(Rapt of the Medusa) merupakan satu di antara karya TheodoreGericault yang
terkenal. Karya ini pada dasarnyaadalah kecaman politis kepada pemerintahan
Louis XVIII yang secara tidak langsung telah berbuat ceroboh menyebabkan
ratusan imigran asal Perancis menemui ajalnya karena kecelakaan kapal laut.
Gaya pelukisan tokoh-tokohnya masih belum melepaskan diri dari gaya klasik yang
menggambarkan manusia-manusia telanjang. Di Perancis, romantisme sangat kuat
mempengaruhi seni bangun. Aliran ini sangat jelas meng-ambil unsur seni Romawi
dan Yunani yang diungkapkan secara romantis. Aliran ini lebih cenderung
mengedepankan watak seniman ketimbang hal-hal teknis.
·
Realisme
Tokoh Realisme
adalah Gustave Courbet, yang akhirnya mendapat kemasyhuran seperti yang
sekarang dialami Picasso. Sebelumnya, orang melukiskan “gambar hayalan”. Tetapi
Courbet betul-betul menggambarkan suatu kenyataan yang terjadi sehari-hari.
Lukisan Courbet yang menghebohkan adalah yang berjudul “Penguburan di Ornan”
dan “Pkerja Batu”. Awalnya, lu-kisan gaya Courbet ditentang. Kemudian dia
mengadakan pameran tunggal Le Realisme, G. Courbet. Dan, Courbetlah yang
kemudian memberi nama gaya lukisan seperti yang dibuatnya dengan sebutan
Realisme.
Theodore Raousseau
dianggap sebagai pemimpin kelompok pelukis Barbizon ini. Di samping Rousseau,
ada Daubigny, Francois Millet, dan Corot. Corot selalu mengggambarkan
pemandangan alam lengkap dengan objek manusia, sedangkan Millet lebih
mengutamakan objek manusia, gambar pemandangan hanya sekadar bagian latar
belakang. Di antara pelukis-pelukis yang tergabung dalam kelompok Barbizon ada
pelukis yang tidak tertarik dengan tema pemandangan, yaitu Daumier. Dia lebih
tertarik untuk menggambarkan kehidupan rakyat jelata. Daumier terkenal sebagai
karikaturis yang terbesar dalam sejarah. Karikatur-karikaturnya terlalu tajam
dan pedas.Daumier sering masuk-keluar penjara karena dianggap menghina kaum
istana.
Cara melukis kaum
Barbizaon akhirnya tidak memberi kepuasan kepada para senimannya, karena mereka
merasa belum bisa melukis pemandangan yang sesungguhnya. Angkatan sesudah
Barbizon, seluruhnya meninggalkan studio, mereka melukis langsung di alam
terbuka. Pelukis-pelukis ini meyatakan diri mereka sebagai pelukis plain air
(udara luar).
Melukis di luar studio
menimbulkan kesulitan tentang cat minyak.Cat minyak tidak bisa mendadak dibuat
di luar studio. Biasanya, cat minyak dibuat di dalam studio oleh para pelukis
yang berstatus murid. Seorang pelukis kelahiran Amerika, Rand, menemukan cara
baru dalam mengawetkan, mengemas cat minyak secara aman. Dia menyimpannya di
dalam tube.
·
Impressionisme
Melukis plain air
ternyata menuntut teknik yang baru dalam melukis. Melukis di luar studio harus
dikerjakan secara cepat. Cuaca di luar studio cepat berubah-ubah, sehingga
menghendaki cara yang berlainan dengan cara melukis di dalam studio yang tidak
dibatasi oleh perubahan suasana dan cuaca alam. Dalam tahun 1863 kaum akademik
menolak untuk memamerkan karya Eduard Manet dalam pameran resmi yang disebut
Salon. Tetapi, para penguasa saat itu malah memamerkan lukisan Manet yang
ditolak oleh para juri itu, dengan sebuah pameran khusus yang disebut “Salon
Lukisan yang Ditolak”. Pameran tersebut mendapat perhatian pengunjung, tetapi
sekadar menertawakan “orang yang baru belajar melukis, yang menentang putusan
para seniman yang baik”.
Di samping Manet,
ada seorang pelukis yang tetap menunjang usaha Manet. Dia adalah pelukis miskin
dan keras kepala dari Le Harve. Calude Monet namanya. Dia memberi penguatan
kepada Manet untuk tetap melukis di luar studio. Bahkan, Monet menganjurkan
untuk sama sekali tidak seolespun melukis di dalam studio, kecuali jika
langsung berhadapan dengan bendanya. Monet memiliki sebuah perahu untuk melukis
langsung pemandangan sungai, dan perahu tersebut telah menjadi studionya.
Tokoh-tokoh
terkenal yang terkait dengan impressionisme antara lain: Eduard Manet, Claude
Monet, Auguste Renoir, Edgar Degas, Camille Pissarro, dan Alfred Sisley. Yang
menarik adalah yang pernah dilakukan oleh seorang pelukis asal Amerika yang
kemudian menetap di London: James McNeill Whistler.
Dia turut
berpameran dalam “Salon Lu-kisan yang Ditolak”. Ia pernah bersitegang dengan
John Ruskin, kritikus besar waktu itu, karena dalam pamerannya Wistler
menyertakan harga 200 guinea (uang Inggris lama). Ruskin mengeritik
habis-habisan perilaku Wistler, dengan tulisan “Saya tidak pernah menduga akan
mendengar seorang badut meminta 200 guinea untuk tingkahnya melempari muka umum
dengan sebotol cat”. Ruskin digugat oleh Wistler, karena dianggap telah
menghinanya.
·
Post Impressionisme
Pada saat
Impressionisme telah diterima oleh masyarakat dan sebagain besar kritikus,
sejumlah pelukis (terutama angkatan muda) merasa perlu “kembali memperhatikan
cara melukis yang mendasar”. Renoir mempelajari kembali lukisan-lukisan Rubens
dan karya seniman Venesia. Georges Seurat, Paul Cezanne, Vincent van Gogh, dan
Paul Gauguin, adalah pelukis muda yang mengikuti langkah Renoir. Mereka
mempelajari kembali secara lebih teratur tentang sifat ruang trimatra, nilai
ungkapan pada garis, warna, dan sifat perlambangan subjek. Mereka, secara
mendasarmenerima gaya pelukisan impressionis tetapi apa yang mereka tampilkan
kemudian adalah sesuatu yang menyimpang dari impressionisme sebenarnya.
Dengan
ditemukannya teori spektrum warna, yang menyanggah bahwa cahaya matahari hanya
cahaya polos saja, hal ini memberi inspirasi kepada Signac untuk membuat teori
bahwa suasana selalu dipengaruhi oleh spaktrum yang berubah-ubah. Pendapat ini
mempengaruhi lahirnya cara melukis di luar kebiasaan. Cara yang biasa adalah
dengan mencampur cat di atas palet sebelum disapukan di atas kanvas. Cara yang
baru adalah dengan menempatkan langsung warna-warna secara berdekatan satu sama
lain. Cara ini disebut divisionisme (sering dikelirukan dengan sebutan
pointilisme). Cara ini sangat sulit, membutuhkan kepatuhan yang keras, berbeda
dengan yang biasa dikerjakan dalam lukisan impressionisme yang memungkinkan
penempatan cat atau warna secara bebas, lincah, dan seadanya.
Pada perkembangan
selanjutnya ada di antara mereka yang kemudian membawa aliran baru yang lebih
sering disebut Expressionisme. Banyak tokoh yang terikat dalam aliran ini,
antara lain Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Ernst Ludwig Kirchner, Kartl
Schmidt Rottluff, Emil Nolde, Ernst Barlach, Wassily Kandinsky, dan Paul Klee.
Di Perancis, ekspressionisme diberi nama Fauvisme, dengan tokoh-tokohnya antara
lain Henri Matisse, Andre Derain, Maurice de Vlamick, Raoul Dufi, dan Kees van
Dongen.
·
Cubisme
Cubisme digagas
oleh Pablo Picasso dan George Braque. Lukisan dengan gaya ini memiliki bahasa
ungkapan yang khas. Dalam menerjemahkan alam sebagai objek-tiruan-bentuk
lukisan, bentuk digambarkan dalam permukaan yang datar. Kesan kedalaman benda
tidak lagi mengikuti cara pandang gaya pelukisan natural. Semua objek menjadi
papar dan tembus pandang. Sesuatu yang jauh diletakkan di bagian atas. Cara
pandang ini seperti yang biasa digunakan oleh anak-anak, manusia prasejarah,
maupun senimanseniman masa lalu ketika menggambarkan sesuatu (Mesir,Cina,
Persia, Eropa sebelum Renaissance, dan masih ba-nyak lagi). Wujud benda yang
digambarkan mengacu rupa kubus.
Perkembangan
awalnya dimulai dengan lukisan besar karya Pablo Picasso yang menggambarkan
sekelompok perempuan sedang mandi: Les Demoiselles d’Avignon. Picasso
melahirkan karya ini setelah dia menjelajahi Afrika dan tertarik oleh gaya
patung suku Iberia. Dalam lukis-an yang digubah tahun 1907 ini, tampak sifat
mendua yangditampilkan Picasso. Sebagian bentuk perempuan tampak dalam pola
stilir, sebagian lagi merupakan wujud yang dipengaruhi oleh patung primitif.
Pengaruh patung tersebut tampak lebih jelas pada lukisan Picasso yang lain
“Grande Denseuse”.
Rupa manusia merupakan objek yang
paling banyak ditiru dalam lukisan-lukisan kubis. Cara pelukisan raut manusia
sangat beragam.
Dalam
menggambarkan objek pelukis bergerak mengelilinginya, bahkan “menembusnya”.
Pemalihan bangun dilakukan untuk mendapatkan kesan banyangan, pengabstraksian,
atau sekadar menonjolkan citra barik: kelembutan (softness), kesejukan
(coldness), kekasapan (roughness), atau ketenangan (restfulness).
·
Futurisme, Daddaisme, Surrealisme,
Abstract, Dan ...
Meskipun bukan
satu kelas bahasan, Futurisme, Dadaisme, Surrealisme, dan Abstract ditempatkan
dalam satu judul bahasan, untuk menunjukkan bahwa masih begitu banyak aliran
seni rupa Barat modern. Futurisme misalnya, adalah aliran senirupa yang
dibangun di luar Perancis, yaitu di Italia. Tokohnya Filippo Tornasso
Marinetti. Aliran ini pada dasarnya mendobrak paham kubis yang dianggap statis
dalam soal komposisi, garis, dan warna. Aliran Dada merupakan gerakan nihilis,
anti seni, anti perasaan, dan cenderung menampakkan kekasaran dan kekerasan.
Selanjutnya ada
Surrealisme, aliran yang pada awalnya merupakan gerakan gdalam sastra:
appolinaire. Dalam kreativitas seninya, kaum surrealist membebaskan diri dari
kontrol kesadaran, sebebas orang yang sedang bermimpi. Gerakan ini sangat
dipengaruhi oleh ajaran psikoanalisa Sigmund Freud. Dalam penampilannya ada yang
fotografis (Salvador Dali) ada juga yang amorfis (Joan Miro).
Abstractionisme,
lebih dikenal dengan Abstract (Abstrak) saja, merupakan gambaran perkembangan
berpikir yang melepaskan diri dari wujud-wujud alam nyata. Aliran-aliran
sebelumnya masih berpegang pada objek tertentu yang figuratif, yang bisa
diindera. Pada aliran Abstrak, bentuk objek dikembalikan pada unsur-unsur
bentuk yang paling mendasar: warna sebagai warna, garis sebagai garis, atau
bidang sebagai bidang. Dalam perkembangannya, muncul Abstrak Impressionis,
Abstrak Ekspressionis, dan Abstrak Geometris. Abstrak Impressionis masih
menyisakan bentuk tertentu yang telah dimodifikasi, semi abstrak, abstraksi.
Abstrak
Ekspressionis (Mark Rothko, Clyfford Still, Adolf Gotlieb, Robert Motehrwell,
Bornett Newman: yang mengandalkan lukisan bidangbidang berwarna; Jackson
Pollock, Franz Kline, dan Jack Twar-kov: mengandalkan action painting), dan
Abstrak Geometris (Piet Mondrian, Bart van Leck, Theo van Doesburg: dikenal
dengan sebutan neoplastisisme) dianggap sebagai abstrak yang sebenarnya,
non-objektif.
Pada masa
selanjutnya, masa Post-Modern, aliran seni rupa muncul lagi sejalan dengan pola
pikir zaman. Perulangan selalu tampak, meskipun tidak semuanya persis. Optic
Art (Op Art) dan Pop Art adalah dua di antara aliran-aliran yang muncul sejalan
pikiran modern kekinian. Mereka memutarbalikkan aturan yang telah mapan
sebelumnya. Op Art mi-salnya, mengulang-ulang bentuk yang pada teori seni rupa
sebelumnya dianggap sesuatu yang tabu. Pop Art pun demikian, para pelukis yang
menggunakan pola pikir Pop Art, mereka mendaurulang karya orang lain untuk
disusun dalam suatu gubahan baru yang menarik. Misalnya meniru bentuk-bentuk
yang ada dalam buku komik terkenal, menyusun foto seniman terkenal yang ditata
secara berulang mengikuti pola seni hias.
Berikut adalah
bagian dari sebuah tulisan yang membahas secara khusus tentang Cubisme. Tulisan
ini adalah sebuah makalah yang ditulis oleh Jajang Suryana, yang disampaikan di
FPs FSRD ITB tahun 1993.
SUBJEKTIVISME
DALAM SENI RUPA MODERN:
Kupasan
Tentang Lukisan Cubism
Oleh
Jajang Suryana
Dalam paham tradisional,
estetika dikelompokkan sebagai cabang filsafat, sama seperti epistemologi,
etika, metafisika, politik, dan sebagainya. Ia dirumuskan sebagai filsafat
citarasa, merupakan hasil renungan spekulatif, yang sifatnya sangat mujarad ,
tak maujud (abstrak). Sebaliknya, dalam perkembangan masa kini, estetika dianggap
sebagai ilmu (pengetahuan) tentang peng-alaman nyata, tentang tanggapan
cerapan, yang bisa diteliti dengan menggunakan pendekatan ilmiah.
Estetika Barat
konvensional lahir pada abad XVIII. Konsep estetika tersebut terutama muncul
dalam tesis filsuf dan penulis Jerman seperti Baumgarten, Kant, dan Schiller.
Alexander Baumgarten (1714 - 1762) menemukan nama aesthetics dari bahasa
Yunani, aisthesis, yang bermakna sense perception, cerapan rasa. Istilah
tersebut, oleh filsuf masa lalu, dinyatakan sebagai teori keindahan atau
filsafat citarasa. Baumgarten memilih kata aisthesis untuk menegaskan bahwa
pengalaman seni adalah alat pengetahuan.
Ada dua sifat pendekatan
estetika: estetika filosofis dan estetika saintifis. Estetika filosofis
memiliki gugus tugas analisis “kebenaran” konsep, pernyataan seni. Estetika
saintifis --estetika ilmiah ini disebut juga sebagai estetika psikologis,
karena menggunakan perangkat teori psikologi-- meliputi pertanyaan-pertanyaan
keilmuan yang bisa dijawab melalui metode empiris.
ESTETIKA FILOSOFIS
Estetika filosofis disebut juga
metacriticism. Ia, seperti disebut oleh para ahli filsafat, berisi analisis
atau kupasan tentang pengertian-pengertian yang mereka gunakan ketika membuat
pertanyaan-pertanyaan ihwal seni. Pertanyaan, penafsiran, dan penilaian seni
merupakan bahasan yang mendasar. Ia tidak bertalian dengan penggubahan karya
seni, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan maknawi, seperti “keindahan”,
“simbolis”, “representatif”, “baik”, “sahih”, dan lain-lain, ketika kata tersebut
diterapkan dalam bahasan seni. Berbeda dengan filsafat pada umumnya yang banyak
memperhatikan keindahan dan keagungan aspek alam, metecriticism cenderung
mengabaikan alam, ia adalah filsafat kritik seni, seni ciptaan manusia (Cayne,
1971).
Beberapa teori estetis yang
dikelompokkan ke dalam estetika filosofis adalah sebagai berikut. Attitude
Theory (teori sikap) dipelopori oleh Edward Bullough. Teori Bullough menyangkut
konsep psychical distance (jarak psikis) yang menunjuk keadaan psikologis
khusus, yaitu berkaitan dengan kegiatan yang disebut dengan istilah cerapan tak
memihak (disinterested perception). Keindahan sebuah objek adalah hasil pikiran
penikmat, penonton, karena semua objek adalah objek estetis. Nilai sesuatu
sangat tergantung kepada sikap subjek, penikmat.
Teori estetis yang lain adalah evaluative
theories. Beberapa teori penilaian (evaluative
theory) ini di antaranya:
1. Intuitionism: teori ini menegaskan
bahwa penilaian sesuatu itu indah, baik, buruk, menunjuk kepada sesuatu yang
bernilai non-empiris, hanya bisa dinilai secara intuitif. Teori keindahan milik
Plato merupakan versi awal intuitionism ini.
2. Subjectivism: agark berbeda dengan
intuitionism. Penilaian indah, baik, atau buruk itu menunjuk bahwa bila sesuatu
dinilai indah, sesuatu itu, paling tidak, menyenangkan pencerapan; baik bisa
berarti “saya menyukainya”; dan buruk mungkin bermakna “saya
tidak menyetujuinya”, dan sebagainya.
3. Emotivism: sebuah pandangan yang
mengandung penilaian bahwa indah, baik, atau buruk itu hanya menunjuk pada
perasaan pengguna kata tersebut. Keindaha misalnya, ada
dalam
mata pelihat. Konsep ini hampir sama dengan teori Bullough.
4. Instrumentalism: dalam teori ini
pendefinisian istilah penilaian yang digunakan dalam mengukur keindahan sangat
dihindari. Kerja seni yang baik, dalam pandangan paham ini, adalah ibarat
membuat suatu pengalaman estetis yang berharga bagi penikmat. Berolah seni
adalah kegiatan mimesis (meniru). Tesis ini adalah buah pikir Plato. Peniruan,
menurut Plato, bukanlah meniru sesuatu yang kasat mata, melainkan sesuatu yang
ada di balik dunia nyata. Bentuk-bentuk hasil tiruan alam nyata oleh Plato ditempatkan
dalam posisi yang lebih rendah, hanya sekadar techne.
Seperti Plato,
Aristoteles menyimpulkan bahwa seni adalah proses produksi yang menggunakan
peniruan sebagai pokok bahasa utama. Ia mengembangkan teori chatarsis sebagai
tandingan terhadap apa yang disalahmengertikan oleh Plato tentang pengaruh seni
terhadap penonton. Teori Plato maupun Aristotle merupakan dua kubu teori yang
berpengaruh pada classical aesthetics, teori yang berkembang pada masa klasik.
Berdasarkan pada teori
keindahan dari Plato, St. Agustine mengembangkan konsep keindahan seni yang
berhubungan dengan nilai keagamaan. Pandangannya sangat berpengaruh dalam
konsep ruang seni bangun Gothic. Begitu pula terminologi yang dikembangkan oleh
St. Thomas Aquinas, dengan mengambil konsep metafisik Aristotle, memberi
pengarun yang sama seperti konsep yang dikembangkan Agustine.
Teori Plato dan Aristotle
terus berpengarunkepada filsuf Ranaissance. Penerjemahan juga perbaikan
konsep-konsep yang pernah mereka kemukakan, terus dilakukan. Misalnya yang
dilakukan oleh Marsilio Ficino dan Giordano Bruno. Yang paling menarik adalah
yang dikembangkan oleh Leo Battista Alberti, yang kemudian hari sangat
berpengaruh kepada prinsip keruangan dalam lukisan. Alberti mengajukan konsep
lukisan yang mirip dengan yang terlihat mata, lukisan dengan teknik perspektif,
berbeda dengan lukisan yang dikembangkan oleh seniman-seniman abad pertengahan.
Hal yang sama dilakukan oleh Leonardo da Vinci.
Anthony Ashley Cooper
yang mengembangkan konsep metafisik neoplatonistik yang dikelompokkan sebagai
estetika masa modern awal. Gagasan Cooper tentang estetika perenungan, yang
berasas keseimbangan alam dengan manusia dan dalam menilai keindahan
mengutamakan rasa serta citarasa moral, dibantah oleh Thomas Hobbes. Hobbes
mengemukakan bahwa estetika perenungan tidaklah penting. Walaupun demikian, ide
Cooper selanjutnya disistematisasikan oleh Francis Hutcheson, seorang filsuf
Scott. Selanjutnya oleh David Hume. Hume menegaskan bahwa kualitas keindahan
bukanlah sesuatu yang objektif.
Seperti Hume, Immanuel
Kant menganggap bahwa objek yang disebut indah adalah ketika bentuknya
menunjukkan kerukunan yang saling berpengaruh antara citra dan pengertian.
Penilaian rasa, demikian menurut Kant, seperti “lukisan itu indah”, bersifat
subjektif dan tidak bisa ditegaskan sebagai konsep. Bahkan, Kant mempertahankan
prinsip bahwa penilaian keindahan tidaklah penting.
Croce menyusun teori
estetisnya --dikelompokkan sebagai contemporary aesthetics-- dalam sistem
filosofis idealis. Baginya, estetika adalah bidang pengetahuan intuitif. Seni,
menurut pendapatnya, sama dengan intuisi; seni ada dalam pikiran seniman;
sessuatu yang bersifat fisik yang dihasilkan oleh seniman bukanlah seni. Hasil
fisik hanyalah sebagai sebuah penolong dalam penciptaan kembali seni dalam
pikiran penikmat. Oleh karena itu, seni adalah emosi seniman. Prinsip-prinsip
yang diajukan oleh Croce diikuti Robin G.Collingwood, seorang filsuf Inggris.
George Santayana yang
menyebut dirinya sebagai seorang materialist, sama seperti Hume dan Kant,
menyangkal bahwa keindahan adalah sifat objektif sesuatu. Keindahan serupa
dengan kesenangan yang dialami ketika objek-objek khusus dicerap, keindahan
adalah sifat objek, perasaan senang diobjektifkan dalam pencerapan objek.
Santayana pun menganggap penting faktor-faktor fisik dan psikik yang meliputi pengalaman
estetik.
Dikuasai oleh paham pragmatis, John Dewey, seorang filsuf Amerika, mempertahankan pendapatnya bahwa seni adalah bagian dari kehidupan yang biasa. Salahlah memisahkan seni dari kehidupan.Tema penting lainnya yang dikemukakan oleh Dewey adalah masalah instrumentalisme: Pengetahuan dan objek cerapan pada dasarnya sebagai instrumen dalam kehidupan dan pengalaman hubungan organis dengan lingkungan.
ESTETIKA
ILMIAH
Estetika ilmiah
(scientific aesthetics) meliputi pertanyaan ilmiah yang bisa dijawab melalui
kegiatan empiris, menggunakan perangkat percobaan psikologi. Oleh karen itu,
estetika ilmiah biasa juga disebut estetika psikologis. Dikenal empat golongan
pendekatan dalam estetika ilmiah: psikologi eksperimen, psikologi introspektif,
psikologi gestalt, dan psikoanalisa.
Meskipun I.A. Richard
tidak melakukan percobaan-percobaan, tulisan Principle of Literary
Criticism-nya menunjukkan contoh ketertarikan Richard terhadap pengeruh teori
psikologi eks-perimental dalam estetika. Dia mencoba menelaah pengalaman
estetik melalui pendekatan pengertian psikologi behavioristik. Pengalaman
estetik digolongkan sebagai sebuah keseimbangan gerak hati yang disebabkan oleh
penglaman kegiatan seni.
Gestaltism menekankan
perhatian kepada sifat-sifat keseluruhan, sedangkan bagianbagian dianggap
sebagai hal yang sekunder. Bagian hanya mempunyai arti sebagai unsur dari
keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian yang lain. keseluruhan
tampak terlebih dahulu, baru disusul bagian-bagian. Menikmati sebuah lukisan
misalnya, juga benda-benda lainnya, pada awalnya yang tercerap adalah
keseluruhannya, baru secara bertahap bagiannya. Keindahan, dalam gestaltism,
adalah suatu keseluruhan yang mengandung makna.
Pendekatan psikoanalisa berisi pengkajian seni melalui pembahasan model-model manusia pelaku seni. Telaah tentang subjektivisme di dalam lukisan cubism berikut ini menggunakan pendekatan bahasan psikoanalisa tersebut.
SUBJEKTIVISME
DALAM LUKISAN CUBISM
Sejumlah lukisan gaya
cubism dari beberapa pelukis yaitu Pablo Picasso, Georges Braque, Fernand
Leger, Juan Gris, Charles Edouard Jeanneret, dan Ameede Ozenfant akan mejadi
bagian bahasan dalam paparan ini. Pemilihan karya-karya bahasan dilakukan
secara acak dari sejumlah besar lukisan gaya cubism yang cukup dikenal.
Penunjukan karya-karya yang dianggap “populer” adalah dengan mempertimbangkan
kekerapan lukisan dimaksud sebagai contohan dalam sejumlah bahasan buku.
Lukisan bergaya cubism
memiliki bahasa ungkapan yang khas. Dalam menerjemahkan alam sebagai
objek-tiruan untuk lukisan, bentuk digambarkan dalam kesan datar (flat). Kesan
kedalaman benda tidak lagi mengikuti cara pandang gaya pelukisan natural.
Sesuatu yang jauh diletakkan di bagian atas bidang gambar. Pola sederhana ini
telah lama menjadi cara ungkap milik hampir semua manusia, baik manusia purba,
tradisi, maupun anak-anak.
Penggagas gaya pelukisan
cubism adalah Pablo Picasso dan Georges Braque. Pada awal pencariannya dalam
wilayah olah gaya baru ini, mereka tidak mendapat dukungan dari seniman-seniman
lain pada masanya. Tetapi sejak tahun 1920, gaya mereka mulai diikuti
pelukis-pelukis muda Paris, yang kemudian mempengaruhi perkembangan baru di
Italia, Jerman, Rusia, dan Inggris.
Perkembangan awalnya
dimulai dengan lukisan besar karya Pablo Picasso: Les Demoiselles d’Avignon
(1907). Lukisan lain yang juga sangat dikenal sebagai contohan dalam pembahasan
cubism adalah Grande Denseuse yang sangat keras jejak tiruan topeng Afrika
dalam tampilan bentuknya.
Rupa manusia merupakan
objek yang banyak ditampilkan dalam lukisan-lukisan cubism. Cara pelukisan raut
manusia beragam, mulai dari bentuk yang mudah dicerap, dikaburkan dengan teknik
pemiuhan, hingga bentuk yang sangat kabur karena telah berubah menjadi susunan
bidang, warna, bahkan garis.
Lukisan Still Life dengan
unsur alat musik seperti gitar dan biola, merupakan tema yang banyak dipilih
oleh para cubist. Picasso, Braque, Jeanneret, dan Ozenfant misalnya, memiliki
lukisan dengan tema still life yangmenggambarkan objek yang hampir sama. Mereka
tampaknya sangat menyukai tema ini. Bagi mereka, pemilihan tema atau objek
lukisan tidaklah terlalu menimbulkan masalah.
Ada sejumlah lukisan yang
mereka buat dengan tema dan objek yang hampir sama, tema alat musik seperti
biola, gitar, gelas, botol, dan sejenisnya. Unsur alam benda lain yang menonjol
dalam lukisan-lukisan Ozenfant, Jeanneret, dan juga Picasso adalah
bentuk-bentuk bejana seperti botol, kendi, dan pot bunga.
Para pelukis modern, pada
kenyataannya lebih tertarik dengan kenyataan-dalam. Mereka menggambarkan tiruan
bangun alam secara penggayaan (stilir), pemiuhan (deformasi), peniskalaan samar
(abstraktif), bahkan peniskalaan (abstrak). Sesuatu yang ditampilkan dalam
kenyataan-luar, seperti dalam lukisan-lukisan pramodern, dianggap “terlalu
dangkal, tidak menampakkan kedalaman berpikir”. Kegiatan meniru saja tidak
dianggap sebagai sebuah prestasi, karena bentuk-bentuk tiruan nyata terlalu
mudah dicerna siapa saja, tanpa memerlukan pernungan. Sebaliknya,
lukisan-lukisan yang menggambarkan dunia-dalam, yang menampilkan “kenyataan
yang lain, kenyataan yang dimenerti seniman modern”, yang penikmatannya
memerlukan usaha perenungan, menjadi lukisan yang dihargai kalangan pendukung
seni rupa modern.
Seni rupa modern,seperti
diakui oleh pendukungnya, adalah gambaran manusia modern. Seniman modern,
begitu juga umumnya manusia modern, memiliki sifat yang individualis. Produk
kesenian yang dihargai adalah produk yang secara pasti menunjukkan ciri khas
individu, bukan yang mencirikan kolektivitas. Oleh karena itu, senimanmodern
terus-menerus mencari bentuk tampilan karya yang berciri pribadi. Memang, pada
akhirnya, seniman modern lebih mementingkan kepuasan diri sendiri.
Pergantian pengaruh aliran dalam seni rupa modern merupakan hal yang sangat biasa. Gambaran gerak yang tanpa henti, gambaran sifat manusia modern, tampak di sana. Carl Gustav Jung melihat perubahan tersebut sebagai proses pergantian pengaruh dan sifat utama manusia yang akan terus berulang: extravert dengan introvert (Fodham, 1988).
PENGELOMPOKAN
ALIRAN SENI RUPA MODERN
Seperti telah disebutkan,
Jung membagi kelompok aliran seni rupa modern berdasarkan perbedaan dan
persamaan kejiwaan yang menjadi ciri tampilan aliran tertentu. Secara garis
besar, aliran-aliran seni rupamodern terbagi atas empat kelompok, seperti
berikut.
1. Kelompok Realisme, Naturalisme, dan
Impressionisme
Seniman-seniman yang termasuk ke dalam kelompok aliran ini, meminjam konsep hasil kajian Jung, dalam kegiatan berkarya mengutamakan unsur pikir. Peniruan terhadap alam mereka lakukan dalam peniruan dunia-luar. Mereka mencontoh alam secara nyata. Kenyataan yang mereka tangkap dalam kanvas adalah kenyataan yang tidak memerlukan penafsiran penikmat. Para realist mengangkat kenyataan kejadian; para naturalist meniru kenyataan alam; dan para impressionist --dimasukkan ke dalam kelompok ini-- (karena) mereka melukis dengan berusaha menangkap kenyataan cahaya. Dunia-luar objek adalah kondisi nyata yang secara visual tidak memerlukan penafsiran tertentu.
2. Kelompok Surrealisme dan Futurisme
Kelompok seniman ini,
menurut Jung, lebeih dipengaruhi perasaan dalam mengolah objek karyanya.
Keinginan melebih-lebihkan penggambaran sesuatu menjadi ciri tampilan karya
mereka. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam
menanggapi dunia luar alam.
Imajinasi, bagi kelompok
ini, sangat diagungkan. Imajinasi yang menguasai seniman kelompok ini bisa
berupa imajinasi figuratif maupun nonfiguratif. Seniman yang memiliki sikap
extravert, harus bersetuju dengan kenyataan dalam usaha menampilkan materi
untuk memenuhi tuntutan imajinasinya. Mereka menyalurkan ciri pribadinya ke
dalam objek, sehingga objek yang ditampilkan bisa mewakili ciri dirinya. Tetapi
yang introvert, mereka lebih mementingkan otomatisasi perasaan yang dikuasai
oleh alam bawah sadarnya.
3. Kelompok Fauvisme dan Expressionisme
Peranan sensasi sangat
kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Seniman-seniman yang menganut gaya
berkarya kelompok ini banyak menampilkan unsur kejutan-kejutan,ekspresi yang
mengalir deras. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa
perseorangan senimannya.
Kegiatan berkarya
seniman-seniman kelompok ini dilatari oleh sikap objektif dan subjektif.
Sensasi yang memotori sikap mereka, pada kelompok yang dikuasai sikap
extravert, sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi, seperti yang ditemukan oleh
Jung, reaksi pada objek bukan pada kenyataannya, bukan pula pada tampilan yang
dangkal, melainkan pada nilai sensasi. Kualitas rasional dan spiritual di
kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan, ditampilkan dengan
titik berat pada tujuan sensasi. Kelompok yang bersikap introvert, lebih
dikenal dengan sebutan haptic. Tipe ini, tentu saja, lebih banyak berupa sifat
bawaan.
4. Kelompok Cubisme. Constructivisme, dan
Functionalisme
Konsep berpikir seniman
pada kelompok ini, menurut Jung, sangat dipengaruhi intuisi. Intuisi menjadi
titik pusat perhatian mereka. Mereka menunjukkan keasyikan mengolah
bentuk-bentuk objek yang mujarad (abstrak). Kelompok ini bisa dikatakan
cenderung menampilkan sikap introvert. Intuisi mereka, meskipun menjadi
penggerak utama cara pikir mereka, tidak langsung berhubungan dengan bentuk
eksternal di luar ekspresi.
Read (1958) menyebutkan
apa yang dikemukakan oleh Jung hanyalah model hipotesis. Walaupun seni dan
kepribadian itu adalah sesuatu yang merdeka, keduanya bisa memiliki hubungan
yang akan tampak dalam cara berekspresi seseorang. Model hipotesis Jung adalah
sebuah pendekatan ilmiah tentang estetika. Sebagai sebuah pendekatan
alternatif, hal tersebut bisa dijadikan sebagai bahan kajian yang bisa
melengkapi kajian estetika dengan pendekatan yang lain.
Seni rupa modern pada
dasarnya adalah gambaran pola berpikir masyarakat modern. Tetapi, secara nyata,
tidak semua masyarakat modern mendukung keberadaan model tampilan karya seni
rupa tersebut. Hanya sebagian kecil masyarakat saja, yaitu masyarakat tertentu,
yang bisa menerima kehadirannya. Banyak isu dan konsep berpikir yang
melatarbelakangi kehadiran jenis-jenis karya seni rupa modern, yang tidak mudah
bahkan tidak bisa dicerna oleh masyarakat kebanyakan. Oleh karena itu, seniman
modern dan karyanya, kerap menjadi bahan perdebatan.
Komentar
Posting Komentar